Jokowi dan Prabowo Bukan Presiden yang Diharapkan?

Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Oleh : Izzul Muslimin*)

Teropongmetro.com – Jadwal pengusulan calon presiden dan wakil presiden semakin dekat. Partai-partai politik sudah kian larut dalam lobi-lobi politik untuk menentukan siapa figur yang akan mereka usung. Hingga saat ini, Jokowi sebagai petahana sudah 99% akan maju lagi sebagai Capres 2019. Tinggal 1% saja jika Allah berkehendak lain.

Sementara untuk pesaingnya masih berkembang spekulasi apakah Prabowo akan maju lagi. Dan, apakah Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga akan memajukan calon alternatif, merapat ke kubu Jokowi atau Prabowo, atau malah akan kembali bersikap netral seperti saat Pilpres 2014?

Berdasar pemetaan partai politik sudah jelas bahwa PDIP, Golkar, Nasdem, PPP, dan Hanura akan merapat ke Jokowi. Sementara Gerindra dan PKS kemungkinan besar dalam satu koalisi siapapun nanti yang akan diusung.

Sedangkan PKB, PAN, dan Demokrat masih belum terlihat jelas arah politiknya. Secara matematis PKB, PAN, dan Demokrat bisa saja membangun poros baru. Tetapi tanda-tanda ke arah sana sepertinya belum terlihat jelas.

Sementara jika kita melihat hasil dari berbagai survei, Jokowi berada dalam angka dukungan antara 48% sampai dengan 55%, sedangkan Prabowo berada dalam angka dukungan antara 25% sampai dengan 35%.

Jika diperdalam lagi, die hard pemilih Jokowi antara 40% hingga 45%, sedang Prabowo di angka 20% hingga 25%. Jika melihat peta dari berbagai survei tersebut, masih ada 30% hingga 35% pemilih yang belum menentukan pilihannya. Mereka adalah pemilih yang tidak punya harapan kepada Jokowi, tetapi juga tidak terlalu yakin kepada Prabowo.

Mereka masih akan melihat siapa calon yang nanti akan diusung. Jika menurut mereka bisa memenuhi harapan maka mereka bisa saja memilih calon alternatif tersebut. Tetapi jika tidak, mereka bisa menyerahkan suaranya ke Jokowi atau Prabowo, atau malah memilih tidak berpartisipasi alias golput.

Pilihan 

Pemetaan di atas tentu akan berubah ketika pada akhirnya partai-partai politik sudah memastikan siapa yang akan diusung dalam Pilpres 2019 nanti. Oleh karena itu, inilah kesempatan terbaik bagi partai politik untuk benar-benar bisa menentukan pilihan sebaik-baiknya.

Kesalahan kalkulasi akan berdampak kemungkinan kekalahan dalam Pilpres nanti. Jokowi bisa kalah jika 30% hingga 35% pemilih yang belum menentukan pilihan akhirnya bergabung dalam kubu Prabowo.

Sebaliknya jika mereka yang belum punya pilihan itu akhirnya mau memilih kembali Jokowi 15% atau 20% saja, maka bisa jadi Jokowi akan kembali memimpin. Disinilah perlu pemantauan yang jeli atas apa yang menjadi perasaan rakyat saat ini.

Dari gambaran di atas terjadi persoalan antara pilihan elite politik dengan pilihan rakyat. Pilihan elite politik seringkali berdasar pertimbangan taktis pragmatis, sementara pilihan rakyat tergantung kepada suasana kebathinan masing-masing.

Yang masih punya rasa optimis dengan keadaan sekarang mungkin akan memilih petahana. Yang pesimis akan memilih calon selain petahana, dan yang benar-benar tidak punya harapan mungkin lebih cenderung tidak memilih (golput).

Di sinilah mestinya elite politik bisa membaca perasaan apa yang bergejolak di hati rakyat. Jika mereka berhasil membaca dengan baik maka peluang memenangkan hati rakyat akan sangat besar.

Sebaliknya, jika hanya berfikir elitis dan hanya mementingkan dirinya sendiri, maka rakyat mungkin akan mencari jalannya sendiri melawan demokrasi prosedural yang tidak aspiratif.

*) Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here