Indonesia Akan Kembali Dipimpin Tentara?

Indonesia Akan Kembali Dipimpin Tentara
Muhammad Izzul Muslimin

Oleh : Muhammad Izzul Muslimin *)

Teropongmetro.com – Tahun 2019 nanti, kemungkinan besar kepemimpinan nasional akan kembali jatuh ke tangan tentara. Tentara yang dimaksudkan di sini bukanlah tentara secara institusi, tetapi masyarakat sipil yang memiliki latar belakang aktif di militer. Mengapa demikian?

Secara politik, sebenarnya ada kemiripan karakter antara Indonesia dengan Jepang. Di Jepang, Partai Liberal Demokrat (LDP) selalu menjadi penguasa politik. Namun setelah berkuasa beberapa tahun biasanya rakyat Jepang mengalami kejenuhan dan kekecewan atas kepemimpinan LDP. Mereka kemudian menghukum LDP dengan mengalihkan dukungannya kepada partai oposisi. Ternyata, setelah kekuasaan beralih ke oposisi bukannya menjadi lebih baik tetapi malah terjadi ketidak mampuan pengelolaan pemerintahan. Rakyat Jepang pun kembali mempercayakan kekuasaan politik kepada LDP untuk memimpin Jepang kembali.

Di Indonesia harus diakui bahwa institusi yang paling awal terlibat dalam penyelenggaraan negara sejak adanya negara Republik Indonesia adalah tentara. Tentara juga memiliki pengorganisasian dan kaderisasi kepemimpinan yang relatif baik dibanding institusi yang lain. Tentara semakin menonjol perannya saat pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto. Meskipun saat itu ada Golkar, tetapi penopang utama Golkar adalah tentara.

Setelah Orde Baru tumbang, rakyat berupaya untuk menampilkan kepemimpinan sipil. Namun dalam kenyataannya kepemimpinan sipil tidak terlalu berhasil melakukan konsolidasi kekuasaan dan pengelolaan negara dengan baik. Periode Habibie, Gusdur, dan Megawati adalah periode transisi kepemimpinan sipil yang tidak menghasilkan kepemimpinan yang stabil dan cenderung aman. Akibatnya rakyat mulai rindu kembali kepada sosok kepemimpinan militer yang saat itu sudah melebur menjadi bagian dari kekuatan sipil. Maka saat itu sosok SBY dianggap memiliki karakter kepemimpinan tentara yang cocok dengan kondisi yang berkembang saat itu sehingga SBY bisa memimpin Indonesia hingga dua periode lamanya.

Pasca kepemimpinan SBY ada kebosanan dan kejenuhan rakyat untuk dipimpin tentara sehingga mereka mencoba berpaling untuk kembali dipimpin oleh tokoh sipil. Maka terpilihlah Joko Widodo menjadi Presiden kedua setelah SBY yang dipilih melalui Pemilu Presiden. Namun harus diakui, kepemimpinan Presiden Jokowi dianggap masih belum bisa melampaui kepemimpinan tentara. Ini bisa dilihat dari hasil beberapa survey yang masih menunjukkan elektabilitas Jokowi di level yang belum aman, yaitu di bawah 60%.

Di luar kekuatan tentara yang bergabung dalam pemerintahan Jokowi, saat ini ada tiga poros utama tentara yang masih belum bisa terkonsolidasi secara baik. Tiga kekuatan itu adalah poros Prabowo Subianto, poros Susilo Bambang Yudhoyono, dan poros Gatot Nurmantyo. Jika salah dua atau ketiga poros ini bisa bersatu maka kemungkinan besar bakal bisa mengalahkan poros Jokowi pada perhelatan Pilpres 2019. Wallahu alam.

*) Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here