Tradisi Menjelang Galungan, Rai Mantra Berinisiatif Swadaya Bikin Lawar Sendiri

Tradisi Menjelang Galungan, Rai Mantra Berinisiatif Swadaya Bikin Lawar Sendiri
Cagub Bali No. 2 dari Koalisi Rakyat Bali (KRB) Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra berinisiatif membuat lawar secara swadaya di saat Hari Penampahan atau menjelang hari raya Galungan.

Denpasar (teropongmetro.com) – Calon Gubernur Bali Nomor Urut 2 dari Koalisi Rakyat Bali (KRB) Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra berinisiatif membuat lawar secara swadaya di saat Hari Penampahan atau menjelang hari raya Galungan.

Rai Mantra sendiri yang mengerjakan lawar, meracik bumbu, meramu, mencampurnya. Menariknya, saat sudah siap jadi menu, Rai Mantra meminta orang di sekitarnya untuk mencobanya, apakah campuran bumbu, adukannya sudah pas dan merata atau belum.

Menurut Rai Mantra, ngelawar itu sendiri merupakan tradisi berkaitan dengan upacara atau upakara. Dan upakara itu sendiri dipahami dalam konteks sosial.

“Ini merupakan nilai budaya yang harus dilestarikan. Kalau di Denpasar, ngelawar itu seperti teamwork, bagaimana kita mengatur teman-teman melakukan suatu kegiatan. Ada yang ngadonang, ada yang masak daging, ada yang bikin bumbu dan ada tester. Dan yang paling penting harus ada yang menjadi leadernya, pemimpinnya. Jadi ngelawar itu kaya akan filosofi, kaya akan makna, ini adalah nilai gotong royong, ada konektifitas sosial, antara yang satu dengan yang lainnya,” ujarnya .

Sejak proses pengerjaan awal, Rai Mantra langsung memimpin. Rai Mantra bersama anggota keluarga dan kerabat terlihat asik ngelawar  membuat makanan khas Bali untuk menyambut hari raya Galungan. Tradisi yang digelar saat penampahan Galungan akhirnya dinimakti oleh lebih dari 100 orang.

Rai Mantra sendiri turut berbaur dan menyiapkan hidangan. Seperti layaknya warga Bali lainnya saat penampahan Galungan, Rai Mantra terlihat mebat (mencincang bahan), mengadon, hingga mencicipi menu yang disiapkan untuk memastikan hidangan tersebut bagus cita rasanya. Ada lawar bebek, ayam, kerbau, babi, dan menu khas Bali lainnya. Rupanya hal ini sudah menjadi tradisi yang biasa dilakukan di Griya Sebasari, tempat tinggal Rai Mantra, saat menjelang Galungan.

“Kalau ngelawar begini sudah biasa, kan sudah jadi tradisi. Yang terpenting bukan kemewahan hidangannya melainkan kebersamaan dan pelestarian pusaka gastronomi Bali ini,” kata Rai Mantra.

Menurutnya penampahan adalah momentum persiapan sarana upacara jelang Galungan. Diawali dengan penyajaan sehari sebelumnya, dilanjutkan dengan penampahan untuk sarana sesajen. Kemudian pada hari Galungan diisi dengan persebahyangan. Sehari setelah galungan diikuti dengan manis Galungan.

“Hal yang paling penting dari semua ini adalah membangun kekeluargaan dan persaudaraan,” kata Rai Mantra.

Dia berharap tradisi ini terus lestari. Ngelawar atau mebat sangat khas dan hanya ada di Bali. Bagaimana ritual agama melebur bersama kebiasaan-kebiasaan yang hidup sehari-hari.(TM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here