IMM Diharapkan Mampu Menjadi Poros Manifesto Gerakan Da’wah Intelektual Kampus

IMM Diharapkan Mampu Menjadi Poros Gerakan Manifesto Da'wah Intelektual Kampus
Ketua PW Muhammadiyah Bali saat memberikan materi perkaderan darul arqam madya IMM.

DENPASAR (TEROPONGMETRO) – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Provinsi Bali adakan Darul Arqam Madya pada tanggal 5-9 September 2018 bertempat di Pondok Pesantren Muhammadiyah Kota Denpasar.

Program perkaderan tingkat Madya atau DAM yang mengambil tema besar “Gerakan IMM dan Multikuktulisme” ini di ikuti oleh 34 peserta dari 5 Pulau yang berbeda yaitu Sumatera, Jawa, Sulawesi, Madura dan internal Bali Sendiri.

Ketua Panitia Samsul Arifin menjelaskan, pentingnya memperkuat dan melanjutkan perkaderan ketingkat Madya guna memperkaya pengayaan dan aktualisasi atas intelektualitas kader, dengan harapan kader-kader IMM dapat menjadi poros intelektual di kalangan mahasiswa yang dibarengi dengan aktualisasi nyata di lingkungan sosial sebagai bentuk manifestasi seorang kader IMM.

“Perkaderan ini adalah respon kritis terhadap banyaknya Intoleransi yang terjadi di Indonesia, dengan melihat kearifan lokal bali yang begitu banyak budaya dan golongan semoga  perkaderan ini awal yang baik membentuk kesadaran pentingnya merawat multikultur yang ada di Indonesia, acara ini juga di dukung penuh oleh ayahanda Aminullah ketua pimpinan wilayah muhammadiyah Bali” kata samsul mahasiswa undiksa singaraja ini.

Sementara Andi Saputra sebagai Instruktur atau mentor perkaderan yang berasal dari Jawa timur mengatakan “Saya salut dengan kawan kawan DPD IMM bali walau sebagai minoritas tapi begitu semangat dalam dakwah Muhammadiyah dan apik menyiapkan acara ini”, ujar andi.

“Harapan saya semoga IMM Bali semakin memperluas wilayah gerakannya di bali sebagai syiar dakwah dan memperbanyak kader IMM melalui perkaderan – perkaderan dasar di tingkat kabupaten/kota”, jelasnya.

Andi melanjutkan, setelah mengikuti kegiatan DAM kader IMM harus merumuskan berbagai gerakan kecil yang mampu sebagai rancangan tindak lanjut, karena itu adalah bentuk praksis dari wacana gerakan sosial baru.

Selain Andi, ada 4 Instruktur dari luar bali yaitu Frisca (Lampung), Alun (Jambi), Vito (DKI Jakarta), dan Maemunah(Banten). (sam/tm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here