Menakar Kekuatan dan Peluang Dua Pasangan Calon Pada Pilgub Bali

0
3952
Mantra-Kertha Vs Koster -Ace (ilustrasi)
Bagikan Berita Ini

Oleh : Subro Mulissyi (Koorwil JPPR Bali)

Teropongmetro.com, Denpasar – LSI Denny JA belum lama ini merilis hasil surveinya. Survei dilakukan pada periode 21 November – 30 November 2017. Hampir mirip dengan hasil beberapa survei lainnya, survei LSI Denny JA sekali lagi mengindikasikan persaingan Mantra-Kertha dan Koster-Ace dalam Pemilihan Gubenur Bali tahun 2019. Elektabilitas Mantra- Kerta tercatat lebih tinggi, sementara Koster-Ace dalam posisi dibawahnya. Meskipun lebih tinggi, elektabilitas Mantra-Kertha belum memasuki zona aman karena masih di bawah 50%.

Dua bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung dalam Pilkada Bali 2018. Mereka adalah Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra-Ketut Sudikerta (Mantra-Kerta) dan I Wayan Koster-Cokorda Artha Ardhana Sukawati (Koster-Cok). Kedua pasangan sudah resmi mendaftarkan diri ke KPUD Bali untuk memperebutkan tahta tertinggi di Pulau Dewata dan memimpin masyarakat Bali hingga 5 tahun ke depan. Pasangan Mentra-Kerta mengantongi 28 kursi dukungan di DPRD Bali. Terdiri dari Partai Golkar (11 kursi), Demokrat (8 kursi), Gerindra (7 kursi), dan Nasdem (2 kursi). Sedangkan pasangan I Wayan Koster-Cokorda Artha Ardhana Sukawati bisa dibilang berimbang. Pasangan ini mengantongi 27 kursi, terdiri dari PDIP (24 kursi), Hanura (1 kursi), PAN (1 kursi), dan PKPI (1 kursi).

Keadaan ini nanti akan diperjelas dari kinerja mesin partai dalam mensosialisasikan kandidat  jagoannya, meskipun tidak berbanding lurus 100%, ada beberapa yang bisa mengonfirmasi apakah Rai Mantra benar-benar cukup kuat atau tidak bersama dengan pasangannya Ketut Sudikerta yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubenur Bali atau sebaliknya pasangan Koster yang menggandeng mantan Bupati Gianyar Cok Ace yang justru lebih kuat. Pertarungan Pilkada di Bali yang head to head dan dibeberapa daerah lain seperti jabar, jateng dan jatim secara serentak, ini juga meberikan kontribusi perkembangan politik nasional, pada periode berikutnya, yakni pada pemilihan legislatif dan pilres pada tahun 2019, serta  bisa mengonfirmasi apakah Jokowi akan ringan melenggang di periode kedua atau tidak, mengingat partai pengusung yang menjadi kontestan di pilkada bali yang di usung oleh PDIP yang berkoalisi dengan PAN dan Hanura (partai Pemerintah) serta Koalisi Rakyat Bali yang dimotori oleh Demokrat, Gerindra dan Golkar (yang saat ini memilih berada diluar pemerintah atau oposisi).

Namun, sebelum menunggu hasil Pilkada 2018, sebenarnya ada beberapa hasil survei LSI Denny JA yang perlu dicermati dan menjadi perhatian atau peringatan bagi pasangan Mantra-Kertha maupun Koster-Ace. Bagi pasangan Rai Mantra yakni Ketut sudikerta sebagai incumbent karena masih menjabat sebagai Wakil Gubenur Bali, pertarungan terberat sebenarnya justru dengan dirinya sendiri. Artinya, kinerja dan kebijakan pemerintahan Ketut Sudikerta yang berpasangan dengan Gubenur Bali saat ini Bapak Mangku Pastika, yang akan menjadi penentu apakah pasangan Mantra-Kertha akan keluar sebagai pemenang atau tidak. Sudikerta mengalah tak maju sebagai bakal calon gubernur dan lebih memilih mendampingi Rai Mantra. Dan sebelum menjadi Wakil Gubernur Bali, Sudikerta sudah mengecap asam garam memimpin daerah, pada 2005-2010 dan 2010-2015, kader Golkar ini pernah menjadi Wakil Bupati Badung.

Ada yang menarik dari hasil survei LSI Denny JA (dan juga beberapa survei lain sebelumnya) bahwa jarak antara tingkat kepuasan dan elektabilitas Mantra-Kertha cenderung bagus. Jika kita mau agak lebih detail, sebenarnya bisa dijelaskan bahwa kepuasan terhadap kinerja Ketut Sudikerta sedikit menonjol dalam hal pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat dalam program Bali mandara dan agak jauh dengan kepuasan di bidang-bidang yang lain. Bahkan kepuasan dalam hal mendapatkan lapangan pekerjaan adalah kepuasan yang paling rendah, ini perlu menjadi cacatan penting untuk digaris bawahi, apalagi setelah terjadi erupsi Gunung Agung, banyak industri pariwisata yang merumahkan para pekerjanya.

Perlu diketahui, kepuasan atas pembangunan infrastruktur memang tidak bisa secara langsung berdampak pada tingkat elektabilitas karena dampak infrastruktur tidak selalu berakibat bagi kesejahteraan rakyat secara langsung. Jika tidak tepat sasaran, pembangunan infrastruktur justru bisa menimbulkan kesenjangan ekonomi dan ketimpangan sosial semakin melebar. Pembangunan infrastruktur yang tidak dibarengi dengan strategi pembangunan yang baik justru bisa mengakibatkan bertambahnya pengangguran dan kemiskinan.

Sebagai contoh, pembangunan jembatan pemotong jarak di tabanan sebagai jalur lintas Jawa-Bali memang di satu sisi akan memperlancar distribusi, tetapi pada sisi lain juga berakibat pada penurunan bahkan kematian perekonomian rakyat yakni warung-warung kecil yang menjadi penopang ekonomi nasional yang selama ini menikmati tetesan ekonomi rantai distribusi di jalur tersebut karena menjadi tempat persinggahan truk dan angkutan lintas. Tentu tidak mudah dalam waktu jangka pendek mencari alternatif pengganti sumber ekonomi mereka.

Masih belum amannya elektabilitas Mantra-Kertha ternyata tidak berdampak positif pada elektabilitas Koster-Ace. Elektabilitas Koster-Ace cenderung mengalami perlambatan untuk bergerak naik. Pasangan ini adalah figur yang secara usia sebenarnya sudah tidak muda lagi dan masuk kategori tokoh senior dalam politik. Karena Koster adalah sosok cukup akrab di Senayan sebab sejak 2009 lalu, Koster sudah menjadi Anggota DPR dan bertugas di Komisi X. Sebelum turun ke politik, pria kelahiran Singaraja pada 20 Oktober 1962 itu sempat menjadi peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdikbud (1988-1994) dan juga dosen universitas negeri maupun swasta (1994-2004).

Bagi generasi baru yang akan memilih dalam Pilgub 2018, rentang usia mereka dengan Koster terlalu jauh, mengingat jumlah kelompok ini berkisar antara 30 persen lebih dari jumlah pemilih, sehingga agak sulit bagi mereka berada dalam satu frekuensi memahami dunianya. Koster hanya bisa menarik mereka jika masuk dalam isu yang kuat dan kritis seperti terancamnya generasi muda Bali, keterpurukan ekonomi yang parah yang berdampak pada lapangan pekerjaan, atau isu produktif yang dapat mengundang simpati mereka.

Tetapi jika kita lihat hasil survei menunjukkan bahwa masih banyak pemilih yang belum atau bimbang menentukan pilihannya. Artinya, mereka sebenarnya tidak optimistis dengan pasangan Mantra-Kertha, tetapi ragu dengan pasangan Koster-Ace. Jika Koster adalah figur baru, maka wajar jika ada keraguan. Namun, karena Koster adalah figur yang tidak asing dan salah satu sosok yang cukup akrab di Senayan sebab sejak 2009 lalu, Koster sudah menjadi Anggota DPR RI. Dan Koster sempat dikaitkan pada kasus korupsi Hambalang dan beberapa kali harus ke KPK lantaran diperiksa sebagai saksi.

Akhir kata, kita akan menunggu hasil pilkada yang ditentukan oleh rakyat Bali, pada pilkada serentak nanti. (TI)

Editor : Robsanjani


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here