Defy Indiyanto, Ajak Elit Politik Pergunakan Kesantunan Moral dan Etika dalam Mengkritik

0
1476
Tokoh Muda Muhammadiyah, Defy Indiyanto Budiarto (Dok. Teropongmetro)
Bagikan Berita Ini

Teropongmetro.com, Jakarta – Pasca insiden yang dilakukan oleh Ketua BEM Universitas Indonesia di saat Presiden Jokowi Menghadiri Dies Natalis UI dengan melakukan aksi mengangkat Buku berwarna kuning dan meniupkan Pluit, menjadi ajang permainan para elit politik, sehingga memicu situasi perpolitikan di dalam negeri menjadi tinggi. Hal ini diikuti Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dengan mengeluarkan kartu merah.

Mahasiswa UI memberikan simbol kartu kuning untuk Presiden Joko Widodo saat menghadiri Dies Natalies ke-68 UI, Jumat (2/2/2018)

Ketua BEM UI saat mengeluarkan Buku berwarna kuning spontanitas dan murni untk mengingatkan pemerintah dan ini hal yang wajar dalam alam berdemokrasi.

Tindakan paspampres dalam mengamankan juga sangat santun, namun ada yg tersilap di dalam beberapa tuntutannya terutama soal kejadian kasus di Asmat, kondisi di asmat sudah mendapat penanganan yg sangat baik dari pemerintah pusat saat ini, dan ajakan presiden kepada ketua BEM UI untk meninjau “asmat” bisa di ikuti, sehingga dapat melihat dengan dengan jernih apa yg terjadi di sana saat ini, seperti yang disampaikan oleh tokoh muda Muhammadiyah, Defy Indiyanto Budiarto.

“Yang perlu di awasi dan di kritisi adalah kebijakan pemerintah daerah, kemana saja Bupati dan wakil Bupati selama ini?. Kemana anggaran daerah yg begitu besar untuk kesejahteraan masyarakat?” ungkap Defy Indiyanto, tokoh muda Muhammadiyah, Minggu (04/2).

Ia mengatakan, Kita melihat beberapa  komentar yang dikeluarkan oleh beberapa elite politik tersebut sudah seperti provokatif untuk menjatuhkan kredibilitas dan menghilangkan kecintaan rakyat kepada Presiden Jokowi, tindakan seperti ini tidak menunjukan dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang menjunjung  adat ketimuran dengan sopan santun dan saling menghargai serta menggunakan etika bila berbicara.

“Oleh karena itu kita menghimbau dan mengajak kepada para politisi dan tokoh bangsa, untuk menghentikan politisasi terhadap kasus kartu kuning tersebut,  gunakan etika berpolitik santun dan beretika dalam berdemokrasi”, jelas Defy yang menjabat sekretaris LSBO PP Muhammadiyah.

Apabila politik provokatif terus dilakukan, maka akan menjadikan situasi bernegara tidak sehat dan menimbulkan politik gaduh yang cenderung menimbulkan ketidakharmonisan di tengah-tengah masyarakat.

“Mari bersama-sama kita bangun bangsa dan negeri yang kita cintai ini, sebab pembangunan negeri ini, tidak bisa hanya kita serahkan kepada pemerintah saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama, minimal tanggung jawab moral, terutama para tokoh-tokoh bangsa, baik yang aktif sebagai politisi maupun Tokoh Agama dan LSM, Karena kita yakin semua tokoh tersebut mempunyai niat suci untuk bersama membangun negeri ini, hanya caranya saja berbeda, kita jadikan perbedaan ini sebagai modal pembangunan”, tutup Defy yang Juga Pengagum Jokowi dari Muhammadiyah. (Lia)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here