Tuding Penggelembungan Biaya LRT, Istana Tantang Prabowo Tunjukkan Data

0
634
Tuding Penggelembungan Biaya LRT, Istana Tantang Prabowo Tunjukkan Data
Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto tengah memaparkan kenaikan utang Indonesia di komplek widya chandra, Jakarta, Senin (25/6/2018).
Bagikan Berita Ini

JAKARTA (TEROPONGMETRO) – Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin, menantang Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk menunjukkan data dan informasi yang benar terkait tudingan mark up anggaran proyek LRT hingga jutaan dolar.

Menurut Ngabalin, data yang dimiliki oleh Prabowo seharusnya diklarifikasi kepada pemerintah dulu untuk menghindari munculnya pernyataan sesat dan fitnah.

“Saya kan bilang kalau Mas Bowo (Prabowo) punya data yang lain mari dong kita tunjukin sama-sama. Kan masyarakat harus memiliki informasi yang benar terhadap data-data itu. Apalagi itu terkait pembiayaan LRT gitu loh. Maka saya menantang, monggo deh,” ujar Ngabalin di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa, (26/06/2018).

Ngabalin melanjutkan, seharusnya Prabowo tak mengambil kesimpulan pemerintah telah menggelembungkan anggaran proyek LRT sebelum memberikan data yang dimilikinya kepada pemerintah. Sehingga, dia tak memberikan informasi yang tak benar kepada masyarakat. “Pertama, itu memberikan nilai yang tidak benar kepada pemerintah. Kedua, masyarakat bisa punya penilaian tersendiri, kalau ternyata data itu adalah data yang tidak benar,” katanya.

Ngabalin pun kemudian mempertanyakan kebenaran data yang menuding adanya mark up proyek LRT tersebut. Sebab, berdasarkan data dari pemerintah, justru terdapat penghematan anggaran hingga Rp 13 triliun.

Sehingga tudingan Prabowo kata Ngabalin justru tidak berdasarkan data yang dapat dipertanggung jawabkan tentang pelaksanaan kegiatan proyek LRT.

“Makanya saya kan bilang kalau ada, mudah-mudahan teman-teman yang mem-fending memberikan informasi kepada Pak Bowo itu adalah data-data yang validitasnya bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Ngabalin menambahkan.

Ia pun meminta data yang disampaikan oleh Prabowo merupakan data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, bukan dugaan semata. Ngabalin mengatakan, pemerintah selalu meminta pertimbangan dan melakukan diskusi dengan berbagai pihak, termasuk para konsultan, dalam mengerjakan berbagai proyek.

Sehingga kegiatan pelaksanaan proyek LTR betul-betul berdasarkan kajian yang matang dan komprehensif. Sehingga potensi kesalahannya, termasuk dugaan mark up anggaran sangat kecil. Terlebih kata Ngabalin, sistem pengawasan pelaksanaan proyek tersebut dilakukan secara ketat oleh instansi atau kementerian terkait.

“Jangan data-data yang bisa menjorokin Pak Bowo, kasian. Karena itu kanpernyataan keluar dari tokoh seperti Mas Bowo,” katanya menambahkan.

Sebelumnya, Prabowo mengkritik proyek LRT yang dinilai tidak jelas sasarannya. Menurut dia, data yang digunakannya tersebut diperoleh dari indeks harga LRT sedunia yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menurut Anies, indeks termahal LRT di dunia hanya berkisar 8 juta dolar atau sekitar Rp 11,2 miliar per kilometer. Apabila dana yang dikeluarkan sebesar Rp 12,5 triliun, harga per kilometer bisa mencapai 40 juta dolar atau sekitar Rp 500 miliar.

Sementara itu, proyek LRT yang tengah dibangun pemerintah memiliki panjang 24 km. Dengan perhitungan itu, Ketum Gerindra itu pun menuduh telah terjadi penggelembungan anggaran hingga lima kali lipat.(Ra)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here