Pemerintah Bali Akui Tak Punya Data Pasti Jumlah Pekerja Migran yang Akan Pulang

0
1245
Pemerintah Bali Akui Tak Punya Data Pasti Jumlah Pekerja Migran yang Akan Pulang
Dewa Made Indra, Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.
Bagikan Berita Ini

DENPASAR (TEROPONGMETRO) – Pemerintah Provinsi Bali mengakui belum memiliki data pasti terkait jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan pulang ke Pulau Dewata.

“Mengenai kepastian berapa yang akan pulang, data tersebut masih sulit karena data belum pasti. Para PMI banyak melamar langsung ke agen kapal pesiar sehingga pemerintah tidak ada data pasti,” kata Dewa Indra yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Bali, di Denpasar, Jumat.

BACA JUGA: Judicial Review Din Syamsuddin Sudah Tepat, Pengamat: Perppu Corona Jangan Sampai Jadi Ajang Rampok Uang Negara

Mengantisipasi hal itu, Pemprov Bali akan membuat mekanisme agar agen yang mengirim tenaga kerja ke luar negeri datanya disampaikan ke pemerintah sehingga pemerintah memiliki data yang akurat.

Dewa Indra mengemukakan, jumlah PMI yang sudah pulang ke Bali dari tanggal 22 Maret-16 April sebanyak 9.647 orang. Jumlah tersebut tidak saja yang pulang melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, tetapi termasuk yang pulang melalui Pelabuhan Benoa, Denpasar.

“Masih ada yang akan pulang. Menurut informasi dari Kementerian Luar Negeri, masih akan ada kepulangan PMI ke Bali, melalui bandara maupun Pelabuhan Benoa,” ucapnya.

BACA JUGA: DPR Desak Pertamina Turunkan Harga BBM, di Malaysia Sudah Rp 2.500 per Liter

Berdasarkan data Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI), jumlah PMI atau ABK yang bekerja di kapal pesiar, yang berasal dari Pulau Dewata itu mencapai lebih dari 22 ribu orang. Namun, tak semuanya akan dipulangkan.

Terkait anggaran karantina untuk Pekerja Migran Indonesia yang pulang, Dewa Indra tidak bisa menyebutkan jumlah anggaran dengan pasti karena dipengaruhi dinamika jumlah pasien yang dikarantina. Namun dapat dipastikan, Pemprov Bali tidak kekurangan dana.

Ia menambahkan bahwa sumber risiko yang berpotensi menimbulkan peningkatan kasus COVID-19 yakni mereka yang memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri, seperti Pekerja Migran Indonesia atau anak buah kapal yang sebelumnya bekerja di kapal pesiar. lantaran kasus positif corona di Bali saat ini didominasi oleh kasus impor.

BACA JUGA: Wagub DKI: Penghentian KRL Tak Dapat Restu Luhut

Dari 124 kasus positif COVID-19 di Provinsi Bali hingga Jumat (17/4) terdiri dari delapan orang WNA dan 116 WNI. Dari 116 WNI tersebut, 81 orang merupakan imported case (77 Pekerja Migran Indonesia dan 4 non-PMI), terinfeksi dari daerah lain di Nusantara ada 14 orang, dan kasus transmisi lokal 21 orang.

“Yang masih menjalani perawatan ada 86 orang. Pasien positif COVID-19 ini dirawat di 11 RS rujukan dan tempat karantina yang disiapkan Pemprov Bali,” ucapnya.(up/tm)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini