Diklaim Ampuh, Ilmuwan AS: Obat Malaria Tidak Berguna untuk COVID-19

1
2695
Diklaim Ampuh, Ilmuwan AS: Obat Malaria Tidak Berguna untuk COVID-19
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Tampaknya berbagai pihak yang mengira bahwa Obat Malaria seperti Hydroxychloroquine dan chloroquine bisa menyembuhkan COVID-19 harus mulai berpikir ulang lagi. Pasalnya, studi terbaru dari para ilmuwan asal Amerika Serikat (AS) akhirya mengungkap Obat Malaria ternyata tidak menunjukkan manfaat dibandingkan dengan perawatan standar untuk pasien COVID-19.

Tidak sampai di situ, studi juga menunjukkan bahwa pada praktiknya, Obat Malaria justru telah dikaitkan pada lebih banyak kasus kematian akibat Virus Corona.

BACA JUGA: Prof Nidom Temukan 3 Formula Obat Corona, Siap Diproduksi

AFP pada Rabu (22/4) menyebutkan bahwa para peneliti telah melihat catatan medis dari 368 veteran yang sempat dirawat di rumah sakit di berbagai penjuru AS. Dalam data penelitian, ratusan pasien manula itu disebutkan meliputi korban tewas serta yang telah dipulangkan dari rumah sakit sampai 11 April lalu.

Kemudian dalam investigasinya, para peneliti menemukan fakta bahwa tingkat kematian untuk pasien yang menggunakan Hydroxychloroquine adalah 28 persen. Angka tersebut juga dikatakan lebih besar daripada tingkat presentase pemberian campuran Hydroxychloroquine dan antibiotik Zithromax (atau biasa dikenal sebagai Azithromucyn).

Sedangkan, kombinasi dengan antibiotik Zithromax dilaporkan memiliki tingkat kematian sebanyak 22 persen.

BACA JUGA: Bubarkan Stafsus Milenial, Yaqut Sebut Tidak Ada Manfaat dan Merepotkan Jokowi

Sementara presentase untuk pasien yang hanya menerima perawatan standar malah dilaporkan jauh lebih rendah, yaitu hanya sebesar 11 persen saja.

Selama ini, Hydroxychloroquine, dengan atau tanpa azithromucyn, dikatakan memang lebih mungkin diresepkan untuk pasien dengan riwayat penyakit yang lebih parah. Namun, dalam studi yang diterbitkan pada Selasa (21/4) kemarin, para ilmuwan justru menemukan bahwa peningkatan mortalitas cenderung bertahan bahkan setelah pasien diberi dosis yang lebih tinggi.

Meski begitu, studi yang didanai oleh pemerintah AS ini memiliki sejumlah kelemahan. Pertama, cetakan medis diketahui belum ditinjau oleh rekan sejawat alias penelitian non-peer review.

Sedangkan kelemahan lain termasuk fakta bahwa penelitian ini tidak memilih orang secara acak di dalam kelompok sampel. Pun, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan AS ini adalah berupa penelitian retrospektif atau penelitian berupa pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa yang yang telah terjadi.

BACA JUGA: MUI: ODP, PDP dan Positif Corona Haram Salat di Masjid

Selain itu, hasilnya sulit untuk digeneralisasi karena populasinya sangat spesifik, yaitu sebagian besar pasien adalah laki-laki, dengan usia rata-rata di atas 65, dan berkulit hitam. Semakin tidak proporsional, kelompok ini pun diketahui memiliki riwayat penyakit yang mendasari seperti diabetes serta penyakit jantung.

Sementara itu, dalam data sampel, penggunaan ventilator rupanya juga tidak dijadikan faktor risiko tambahan dan inilah mengapa kemungkinan para peneliti akhirnya menyimpulkan kematian kelompok Hydroxychloroquine pasti disebabkan oleh efek samping di luar sistem pernapasan.

Sekadar info, dalam laporan, semua sampel pasien yang mengonsumsi Hydroxychloroquine disebutkan memakai ventilator selama dirawat.

BACA JUGA: DPR Tuding Ada Hal Tak Wajar di Balik Pengunduran Diri Belva Stafsus Jokowi

Selama ini, perdebatan terkait dengan penggunaan Obat Malaria untuk COVID-19 memang terus berkembang. Terlebih karena penelitian sebelumnya telah mendapati fakta bahwa Hydroxychloroquine berisiko untuk pasien dengan masalah irama jantung tertentu.

Meski begitu, penelitian terbaru ini tentu bisa menjadi pertimbangan tersendiri bagi para ilmuwan lain untuk giat mengadakan uji klinis secara acak dan tentunya massif. (ra/tm)


Bagikan Berita Ini

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here