Lima Senyawa Bahan Obat Unair Dalam Tahap Uji Preklinis Untuk Obat Pengembangan Baru Covid-19

0
2021
Lima Senyawa Bahan Obat Unair Dalam Tahap Uji Preklinis Untuk Obat Pengembangan Baru Covid-19
Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si Wakil Rektor (Warek) I Universitas Airlangga.
Bagikan Berita Ini

SURABAYA (TEROPONGMETRO) – Peneliti Universitas Airlangga (Unair) yang saat ini tengah berjibaku menciptakan suatu penangkal virus corona disease (Covid-19) telah menemukan 5 senyawa untuk bahan bakal obat Covid-19.

Melalui juru bicara penelitian Covid-19 Unair Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si selaku Wakil Rektor (Warek) 1 Unair menyebut 5 senyawa itu saat ini secara internal disebut ACovUnair5, yang artinya Anti Covid Unair 51,52,53,54,55. Dari kelima senyawa tersebut daya kuat yang paling kuat terdapat pada ACovUnair51.

BACA JUGA: Dikabarkan Meninggal Dunia, Kim Jong Un Kirim Pesan Balasan Untuk Presiden Suriah

5 senyawa itu adalah single substansis yang ditemukan oleh Para Guru Besar Unair merupakan senyawa tunggal dan secara molekular docking dan dinamic sudah dilakukan uji.

“Senyawa baru ini bahkan 3 kali lebih baik daya ikatnya dari Chloroquine dan 1,5 lebih baik dari Avigan dan lima senyawa itu memiliki kemiripan dengan khasiat Chloroquine,” papar Prof Nyoman, Jum’at (24/4/2020).

5 senyawa itu saat ini sudah disintesis dan tengah dalam proses uji preklinis yakni uji toksisitas. Nantinya senyawa ini akan digunakan sebagai Obat Pengembangan Baru (OPB).

BACA JUGA: Pemerintah dan DPR Sepakat Tunda Pembahasan RUU Cipta Kerja

OPB tersebut bisa sebagai nuklosa analog atau senyawa modifikasi DNA. Serta punya khasiat antioksidan untuk menjaga membran sel, protein hingga DNA.

“Interaksinya sebenarnya dengan enzim protiase, main protiase yang berasal dari Covid 19. Jadi kalau enzim itu punya tempat daerah pengikatan pusat atau ligan. Daerah itu digunakan virus untuk mengikat reseptor. Jadi senyawa tersebut sifatnya mirip-mirip dengan reseptor, supaya dia terkecoh si virusnya itu,” terangnya.

Prof Nyoman pun mengatakan bahwa keputusan untuk melanjutkan uji preklinis ini karena dukungan dan dorongan dari berbagai pihak.

BACA JUGA: Bank Indonesia Bali Sebut 80.000 “merchant” Sudah Gunakan QRIS

Prof Nyoman mengatakan bahwa uji preklinis ini memakan waktu setidaknya 1 tahun, tidak termasuk uji klinis yang juga harus dilakuka agar OPB ini berkhasiat dan aman untuk dikonsumsi manusia.(robi)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here