Virus COVID-19 Diyakini Sebagai Konspirasi Elite Global, Ini Tanggapan Muhammadiyah

0
3912
Sekretaris Muhammadiyah Sebut Serangan Teror di Mabes Polri Tamparan Keras bagi Keamanan Negara
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti.
Bagikan Berita Ini

JAKARTA (TEROPONGMETRO) – Layaknya peperangan yang selama ini terjadi di Timur Tengah, peristiwaCoronavirus Disease 2019(COVID-19) juga diyakini sebagai serangkaian konspirasi yang dimotori oleh elite global. Tujuannya, kata mereka yang menerima teori ini, adalah menciptakan ketergantungan negara-negara korban pada bantuan sang elite melalui negara bonekanya, Amerika Serikat.

Awal-awal virus ini merebak di dunia, tak sedikit pula masyarakat yang menganggap virus ini muncul karena hasil ciptaan China dan atau Amerika Serikat, meski sebenarnya kedua negara saling berlawanan.

BACA JUGA: Rentan Miskin Imbas Covid-19, Inilah Daftar Bantuan Dari Pemerintah Untuk UMKM

Seringkali menjadi perdebatan di media sosial, wacana seperti itu dinilai tak menyelesaikan masalah yang dibawa oleh virus korona itu sendiri. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Cendekiawan Muhammadiyah ini mengajak masyarakat agar tidak larut dalam isu teori konspirasi soal Covid-19 yang justru kontraproduktif terhadap penanganan penularan virus korona jenis SARS-CoV-2 itu.

“Saat ini kita larut pada berbagai macam teori konspirasi yang cenderung negatif untuk menyikapinya, daripada merespons dengan sikap konstruktif,” kata Mu”ti dalam sebuah pengajian, kemarin (28/4/2020).

Mu’ti menuturkan, masyarakat tak perlu berlebihan menyikapi isu teori konspirasi. Terlebih pada umat Islam, wacana seperti itu mestinya disikapi secara proporsional sehingga tidak menghabiskan energi dan pikiran yang ujung-ujungnya tak kunjung menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan wabah korona.

BACA JUGA: Selundupkan Sabu di Charger HP, Pegawai Lapas Perempuan di Bali Ditangkap

Mu’ti menerangkan, dalam perintah agama Islam yang tertuang dalam Al Quran, umat Islam diperintahkan mengedepankan pentingnya mencari solusi terhadap sebuah persoalan, salah satunya adalah dengan melakukan riset pada fenomena yang terjadi. Tetapi, untuk melakukan itu, umat pun tentunya artinya perlu dibekali ilmu yang cukup dalam usaha mencari solusi.

Sehubungan dengan itu, lanjut Mu’ti, Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dalam memecahkan berbagai persoalan. Ilmu pengetahuan baik dalam tataran sains maupun epistemologi sama pentingnya dengan kajian teologis. Keduanya harus diiringi dalam satu tarikan napas yang tidak dapat dipisahkan.

Mu’ti menerangkan seperti itu menyusul adanya kecenderungan umat Islam terhadap COVID-19 yang lebih banyak ditanggapi dengan kerohanian ketimbang respons keilmuan. Akhirnya, sangat mudah terjebak pada perdebatan konspirasi yang kontraproduktif dan tidak solutif.

BACA JUGA: Minyak Dunia Anjlok, Pakar: Harga BBM di RI Harusnya Rp2.000 per Liter

Dia menambahkan ajaran Islam sangat menekankan pentingnya ilmu dan meningkatkan kualitas literasi yang mencerahkan umat sehingga tidak mudah termakan isu-isu yang bertolakbelakang dalam menangani peristiwa pandemi.

“Ada fenomena beragama cenderung dimaknai sebagai ritual daripada kajian intelektual. Kalau kita baca ayat-ayat Al Quran, dua persen berbicara mengenai ilmu. Wahyu yang turun pertama itu ilmu, perintah membaca,” jelas Mu’ti.

Perdebatan mengenai teori konspirasi di media sosial sebenarnya sudah lama berlangsung di Indonesia. Saat musim wabah korona melanda negeri, sebagian komunitas memandang peristiwa global itu tak jauh-jauh dari rencana jahat elite global. Berbagai tulisan dan video dapat dengan mudah ditemui mengenai hal ini.

BACA JUGA: Update Covid-19 Per 28 April, Gugus Tugas: Kasus positif bertambah 22 orang

Salah satu video yang sering menjadi perbincangan adalah tayangan yang publikasikan FE 101 Channel. Di situ diulas bahwa wabah COVID-19 merupakan konspirasi kelompok Yahudi Askhenazi yang didalangi oleh Rockefeller Foundation sejak 10 tahun silam.(i-one)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here