Ekonom Sebut Krisis Lebih Buruk, IMF Akan Pangkas Proyeksi Ekonomi

0
1548
Ekonom Sebut Krisis Lebih Buruk, IMF Akan Pangkas Proyeksi Ekonomi
Dana Moneter Internasional (IMF).
Bagikan Berita Ini

JAKARTA (TEROPONGMETRO) – Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, perekonomian global akan mengalami kontraksi atau tumbuh negatif lebih signifikan daripada yang diperkirakan lembaga itu pada bulan April. Demikian dikatakan Kepala Ekonom IMF pada Selasa (16/6/2020).

Ketika negara-negara Eropa melakukan lockdown pada minggu-minggu pertama, IMF mengatakan ekonomi global akan mengalami krisis keuangan terburuk sejak Depresi Hebat tahun 1930-an. Pada saat itu, IMF memperkirakan ekonomi akan terkontraksi minus 3 persen pada tahun 2020.

BACA JUGA: Survei Pilpres 2024: Anies Paling Populer dan Banyak Diserang di Medsos

Sekarang, meskipun beberapa ekonomi mulai dibuka kembali, IMF memperingatkan bahwa penurunan ekonomi bisa lebih buruk. “Untuk pertama kalinya sejak Depresi Hebat, baik ekonomi negara maju dan negara berkembang akan mengalami resesi pada 2020. Pembaruan Outlook Ekonomi Dunia Juni mendatang kemungkinan akan menunjukkan tingkat pertumbuhan negatif yang lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya,” Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath, dalam sebuah posting di blog.

IMF juga mengatakan krisis saat ini, yang dijuluki Great Lockdown, adalah belum pernah terlihat dunia sebelumnya.

Pandemi yang dimulai sebagai darurat kesehatan memicu krisis ekonomi, karena pembatasan sosial dan perjalanan. Banyak negara mulai mencabut penguncian, tetapi dalam beberapa kasus, prosesnya lambat. Itu terjadi ketika beberapa negara terus berjuang di tengah meningkatnya kasus Covid-19.

BACA JUGA: Wapres Pastikan MUI Dan Ormas Agama Besar Dukung Keputusan Pemerintah Tunda RUU HIP

Lebih 8 juta terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia. Amerika Serikat, Brasil, Rusia, India, dan Inggris adalah lima negara dengan jumlah kasus terbanyak, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Rebound Lebih Cepat?
IMF mencatat bahwa industri jasa lebih banyak terkena dampak dibanding manufaktur. Ini merupakan perubahan dari krisis sebelumnya, di mana kurangnya investasi menghantam aktivitas manufaktur.

“Dengan permintaan konsumen yang terpendam, kemungkinan akan ada rebound lebih cepat, tidak seperti setelah krisis sebelumnya,” kata Gopinath.

Gita mengatakan krisis kesehatan mungkin mengubah pengeluaran konsumen, dimana orang-orang banyak yang menabung.

Bursa saham telah mencapai level tertinggi baru pada saat ekonomi, pemerintah, layanan kesehatan dan warga masih berjuang dengan pandemi. Bahkan, S&P 500 telah berbalik positif di 2020. Pada saat yang sama, di tengah intervensi bank sentral yang kuat, pasar obligasi agak tenang.

BACA JUGA: Dampak Covid-19, DKI Jakarta PHK 50.891 Karyawan Dan 272.333 Dirumahkan Selama PSBB

“Dengan sedikit pengecualian, ada kenaikan spread (selisih imbal hasil) dan depresiasi mata uang di negara berkembang lebih kecil dari apa yang kita lihat selama krisis keuangan global. Ini penting mengingat dampak kejutan lebih besar ke pasar negara berkembang selama Great Lockdown,” kata Gopinath, Selasa.

Dia memperingatkan bahwa jika kondisi kesehatan atau ekonomi memburuk, mungkin ada “koreksi tajam” di pasar publik. (akh)


Bagikan Berita Ini




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here