Cegah Digunakan Anak Dibawah Umur, Aturan Penggunaan Vave Mutlak Diperlukan

0
858
Cegah Digunakan Anak Dibawah Umur, Aturan Penggunaan Vave Mutlak Diperlukan
Ilustrasi.
Bagikan Berita Ini

JAKARTA (TEROPONGMETRO) – Produk-produk nikotin alternatif seperti vape tidak boleh dipakai oleh sembarang orang, termasuk oleh orang yang berumur di bawah 18 tahun. Aturan terkait itupun sangat diperlukan.

Perwakilan dari Aliansi Vape Indonesia (AVI) Johan Sumantri menyambut baik Peraturan Menteri Keuangan sebagai bagian dari Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL).

BACA JUGA: Pemerintah Kabupaten Badung Gencar Sosialisasikan Pencegahan Corona ke Masyarakat

Pasalnya menurut dia, bukan tidak mungkin produk vape disalahgunakan oleh sebagian orang, sebagimana dikhawatirkan berbagai pihak.

“Sebagai asosiasi industri, Kami di Paguyuban Asosiasi Vape Nasional memahami akan adanya kekhawatiran yang berkaitan dengan penyalahgunaan produk tembakau alternatif dan juga penggunaan bagi kalangan di bawah umur,” kata Johan Sumantri dalam sebuah diskusi online, Jumat (17/7/2020).

Maka dari itu, lanjut Johan Sumantri, semua pengusaha vape pun ikut berkomitmen untuk mencegah penyalahgunaan alternatif dari rokok konvensional tersebut.

BACA JUGA: Dongkrak Kesejahteraan Petani Bali, ASN Diimbau Beli Produk Lokal

Perlu diketahui, menyadari pentingnya hal tersebut, pada 7 Desember 2019 lalu, Paguyuban Asosiasi Vape Nasional yang menaungi empat asosiasi, yaitu AVI, Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO), dan Asosiasi Vaporiser Bali (AVB) secara sukarela menandatangani komitmen bersama untuk menjalankan kode etik dalam industri vape Indonesia. Hal itu demi memastikan industri yang bertanggung jawab dan berintegritas.

BACA JUGA: Kasus Covid-19 Di India Tembus Satu Juta, Seperempat Umat Manusia Dalam Bahaya

Adapun kode etik yang terdiri dari enam komitmen bersama ini meliputi:

  1. Produk vape tidak untuk digunakan, dijual dan diberikan kepada anak di bawah umur 18 tahun, Ibu yang sedang mengandung dan menyusui.
  2. Produk vape hanya untuk digunakan dalam mengurangi resiko yang lebih berat kepada kesehatan.
  3. Memastikan informasi yang akurat pada bahan konten produk pada label dan kemasan.
  4. Melindungi Industri dari penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang lainnya.
  5. Tidak melaksanakan aktivitas promosi yang ditargetkan kepada anak berusia di bawah 18 tahun.
  6. Mencegah pemakaian bagi pengguna yang sebelumnya bukan perokok.

Masih dalam webinar yang sama, perwakilan dari AVB, I Gde Agus Mahartika menekankan, penerapan pengaturan batasan usia pengguna dalam produk vape mutlak diperlukan. Sebab, batasan tersebut adalah upaya untuk memastikan produk ini hanya ditujukan bagi perokok dewasa dan tidak untuk diperjualbelikan atau bisa diakses secara bebas oleh kalangan di bawah umur.

BACA JUGA: Pertemukan 9 IAIN Dengan Menag Dan Menpan-RB, DPD RI Tuntaskan Aspirasi Para Rektor

“Untuk mewujudkan komitmen ini, kami juga memerlukan dukungan dari semua kalangan. Termasuk dari pemerintah, akademisi, para mitra usaha seperti retailer, dan juga dari para pengguna produk vape sendiri,” tekan I Gde Agus Mahartika.

Sementara itu, menurut perwakilan APVI, Aryo Andrianto, dalam melakukan usaha itu, keterbukaan dan kejujuran sangat diperlukan. Karena pada dasarnya, masyarakat perlu mengetahui fakta-fakta yang akurat mengenai vape.

“Yang terpenting, semua produsen dan importir produk vape wajib mematuhi peraturan terkait produk vape yang ada di Indonesia, termasuk disiplin dalam melakukan pembayaran cukai, melindungi industri dari penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang lainnya, serta komitmen untuk mencegah produk vape diakses oleh mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan bukan perokok,” ujar Aryo Andrianto.

BACA JUGA: Penumpang Bus Harus Isi CLM, Tolong Jujur!

Lebih lanjut dikatakan Aryo, sebagai industri baru yang lahir dari inovasi produk tembakau, sudah seharusnya produk vape diatur secara komprehensif. Aturan tersebut harus berbasis bukti seperti halnya di negara-negara yang sudah lebih maju seperti Inggris dan Selandia Baru.

“Namun, sebagai industri baru, kami di Paguyuban menyadari bahwa langkah yang harus diambil masih panjang demi mencapai tujuan tersebut,” tambah Aryo.

Terkait itu, Aryo pun menegaskan bahwa pihaknya mengapresiasi langkah Kementerian Perindustrian yang telah memulai pembahasan Rancangan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Produk Tembakau Dipanaskan yang juga merupakan produk nikotin alternatif, dan bagian dari HPTL.

Nara sumber lainnya dari perwakilan dari APPNINDO, Roy Lefrans menyatakan pihak paguyuban mendukung kolaborasi multisektoral dalam perumusan peraturan berbasis bukti yang komprehensif untuk industri vape dan HPTL.

BACA JUGA: Sah! Majelis Hakim Vonis Penyiram Novel, RK 2 Tahun Penjara dan RB 1 Tahun 6 Bulan

Roy menilai, langkah-langkah yang diambil oleh Kementerian Perindustrian untuk membahas SNI memberikan kesempatan bagi Paguyuban Asosiasi Vape Nasional untuk terlibat sebagai pengamat dalam diskusi Rancangan SNI Produk Tembakau Dipanaskan tersebut.

“Standar sangat penting dalam industri ini, dan diskusi ini merupakan langkah yang tepat untuk memastikan kepastian bisnis dan perlindungan konsumen, khususnya terkait dengan penyalahgunaan produk vape. Paguyuban Asosiasi Vape Nasional senantiasa mengikuti arahan dari Kementerian Perindustrian dan bersiap untuk melanjutkan diskusi Rancangan-SNI produk vape lebih lanjut di 2021,” pungkas Roy. (has)


Bagikan Berita Ini


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here