Peredaran Rokok Dibatasi, Mensos Sebut Petani Tembakau Lebih Baik Ganti Tanaman

0
2056
Juliari Divonis Bayar Uang Pengganti Rp 14,5 M dan Cabut Hak Politik 4 Tahun
Mantan Mensos Juliari Batubara.
Bagikan Berita Ini

JAKARTA (TEROPONGMETRO) — Menteri Sosial Juliari Batubara mengusulkan agar peredaran rokok dibatasi. Juliari menambahkan, perokok anak masih menjadi masalah di Indonesia. Anak-anak di Indonesia beranggapan orang merokok menunjukkan pertanda telah dewasa.

“Anak-anak ini simpel, mereka ingin terlihat tua, terlihat cool, keren, jadinya merokok. Selain itu, meskipun saya bagian pemerintah, akses terhadap rokok ini harus dibatasi. Bahkan di Indonesia menjual rokok secara ketengan (satuan) masih bisa,” kata Juliari dalam sebuah diskusi Senin (20/7/2020).

BACA JUGA: Legislator PAN Sebut Ambang Batas Pemilu Masih Jadi Perdebatan Alot di DPR

Dia mengusulkan harga jual rokok Rp100 ribu per bungkus. Menurutnya, itu untuk mencegah anak-anak membeli rokok. Selain itu juga bisa menjadi tambahan pemasukan bagi pemerintah dari cukai.

“Kalau bisa rokok harganya mahal. Satu bungkus minimal 100 ribu. Negara juga dapat cukai lumayan,” ujar Juliari dalam Webinar Hari Anak Nasional 2020.

Juliari mengatakan, seharusnya proses pembelian rokok dipersulit. Salah satunya dengan menaikan harga per bungkus rokok. Tujuannya, agar tidak mudah diakses oleh anak-anak.

Disadarinya, usulan itu bisa berdampak pemerintah mendapat protes dari para petani tembakau yang menanam bahan utama pembuatan rokok.

BACA JUGA: Sekjen JMSI Lepaskan Jabatan Ketua Dewan Kehormatan PWI Gorontalo

Namun demikian, lanjut Juliari, harus diketahui bahwa kebanyakan produksi rokok di Indonesia saat ini banyak yang menggunakan tembakau impor.

Karenanya, dia menyarankan petani tembakau sebaiknya berganti jenis tanaman. “Jadi harus mendesak pemerintah supaya harga rokok dan cukai dinaikan. Ini bukan untuk meningkatkan APBN saja, itu jangka pendek. Jangka panjangnya anak kita terlindungi dari rokok,” katanya.

Selain berbahaya bagi kesehatan secara fisik, Juliari menyampaikan rokok bisa menjadi pintu gerbang anak mengenal narkoba.

BACA JUGA: Polisi Amankan Pemilik Layangan Putus Yang Mengakibatkan Gardu Listrik Meledak

Jika telah terjerumus pada narkoba maka yang dikhawatirkan masa depan anak jadi terancam.

“Harus diingat pengenalan narkoba dari rokok. Lama-lama nyobain ganja lalu sabu-sabu. Begitu masuk ke narkoba ya sudah habis. Mau rehab seperti apa pun, kalau sudah narkoba sejak dini itu sudah sulit,” kata Juliari. (akh)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here