Ilmuwan Dan Farmasi Dunia Kembangkan Antibodi Untuk Cegah Covid-19

0
1008
Ilmuwan Dan Farmasi Dunia Kembangkan Antibodi Untuk Cegah Covid-19
Ilustrasi.
Bagikan Berita Ini
  • 14
    Shares

TEROPONGMETRO – Ketika dunia menunggu vaksin Covid-19, kemajuan besar berikutnya dalam memerangi pandemi bisa datang dari terapi biotek yang banyak digunakan melawan kanker. Antibodi dirancang khusus untuk menyerang virus baru ini.

Pengembangan antibodi monoklonal yang menargetkan virus corona telah disahkan para ilmuwan terkemuka. Pakar penyakit menular AS Anthony Fauci menyebut antobodi hampir pasti melawan Covid-19.

BACA JUGA: Hilangnya Penjiwaan Pancasila Dalam Praktik Bernegara

Ketika virus melewati pertahanan awal tubuh, respons lebih spesifik muncul sehingga memicu produksi sel yang menargetkan penyerang. Hal ini termasuk antibodi yang mengenali virus, dan mencegah infeksi menyebar. Antibodi monoklonal – tumbuh dalam bioreaktor – adalah salinan protein yang terjadi secara alami ini.

Para ilmuwan masih mencari tahu peran menetralkan antibodi dalam pemulihan Covid-19. Namun produsen obat meyakini bahwa antibodi yang tepat dapat mengubah arah virus corona. “Antibodi dapat memblokir infeksi. Itu adalah fakta,” kata Eksekutif Regeneron Pharmaceuticals, Christos Kyratsous kepada Reuters.

BACA JUGA: Update Kasus Covid-19 Di Provinsi Bali, Yang Sembuh Bertambah 59 Orang

Regeneron sedang menguji dua-antibodi, yang diyakini membatasi kemampuan virus untuk menggandakan diri lebih dari satu. Data kemanjurannya diharapkan bisa dirilis pada akhir musim panas, atau awal musim gugur. “Perlindungan (antibodi) akan berkurang dari waktu ke waktu. Dosis adalah sesuatu yang belum kita ketahui,” kata Kyratsous.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni memberi kontrak pada Regeneron senilai US$ 450 juta. Perusahaan mengatakan dapat segera memulai produksi obat di pabrik AS jika regulator menyetujui.

Pemerintah AS memberdayakan Eli Lilly dan Co, AstraZeneca, Amgen, dan GlaxoSmithKline untuk mengembangkan sumber daya manufaktur guna meningkatkan pasokan jika ada obat yang terbukti berhasil.

BACA JUGA: Cegah Krisis Stok Darah Saat Pandemi, Jagabaya Dulang Mangap Gelar Donor Darah Secara Simultan

Namun ada juga perdebatan apakah antibodi tunggal cukup kuat untuk menghentikan Covid-19 yang telah merenggut lebih 675.000 jiwa secara global. AstraZeneca memulai uji coba pada manusia dengan kombinasi antibodi dalam beberapa minggu. Lilly, yang mulai menguji dua kandidat antibodi dalam ekperimen Juni lalu, memfokuskan pada satu obat. “Jika Anda membutuhkan dosis yang lebih tinggi atau lebih banyak antibodi, lebih sedikit orang yang dapat diobati,” kata Kepala Ilmuwan Lilly, Dan Skovronsky.

Imunitas Instan
Tidak seperti vaksin yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh sendiri, dampak antibodi pada akhirnya akan menghilang. Namun produsen obat mengatakan antibodi monoklonal untuk sementara bisa mencegah infeksi pada kelompok orang berisiko seperti pekerja medis dan orang tua. Antibodi juga dapat digunakan sebagai jembatan terapi hingga vaksin tersedia secara massif.

“Dalam pengaturan profilaksis, kami pikir dapat bertahan hingga enam bulan,” kata Kepala petugas medis Vir Biotechnology, Phil Pang, yang mulai menguji antibodi pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit bulan depan.

BACA JUGA: Polemik New Normal, Pemerintah Lupa Rakyat Sudah Tiga Bulan Adaptasi Kurangi Porsi Makan Dan Ngutang Sana-sini

“Keuntungan suatu antibodi pada dasarnya adalah kekebalan instan,” kata Wakil Presiden Senior Sorrento Therapeutics, Mark Brunswick, yang memulai uji coba manusia pada bulan depan dengan calon antibodi tunggal.

Risiko keamanan antibodi monoklonal dianggap rendah, tetapi biayanya sangat tinggi. Jenis obat untuk kanker ini dapat menelan dana lebih US$ 100.000 setahun.

Ada juga kekhawatiran bahwa virus corona bisa menjadi resisten terhadap antibodi. “Kami mencoba mengembangkan sesuatu yang saling melengkapi,” kata Kepala penelitian Amgen David Reese. Amgen bekerja dengan Adaptive Biotechnologies Corp.

BACA JUGA: Demokrat Minta Pemerintah Percepat Penyaluran Bansos

Para peneliti dalam sebuah makalah yang diterbitkan jurnal Nature baru-baru ini mengatakan pihaknya telah menemukan beberapa antibodi baru yang sangat kuat dan bisa diarahkan ke area di mana virus menempel pada sel manusia.

Ada juga pertanyaan kapan waktu yang tepat untuk menggunakan senjata baru ini. “Memberikan antibodi di kemudian hari setelah infeksi mungkin tidak membantu,” kata profesor mikrobiologi Icahn School of Medicine New York, Florian Krammer. “Jika diberikan lebih awal, mungkin akan bekerja dengan baik.” (robi)


Bagikan Berita Ini
  • 14
    Shares


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here