Tokoh-tokoh Muhammadiyah Berperan Penting Dalam Kemerdekaan Indonesia

0
7596
Tokoh-tokoh Muhammadiyah Berperan Penting Dalam Kemerdekaan Indonesia
Tokoh-tokoh Muhammadiyah Berperan Penting Dalam Kemerdekaan Indonesia
Bagikan Berita Ini

JAKARTA (TEROPONGMETRO) – Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang telah berjuang dalam pergerakan kemerdekaan bangsa. Melalui para tokohnya, Muhamadiyah telah terlibat aktif mendirikan dan memajukan Negara Republik Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa dan negara berlanjut.

BACA JUGA: Sambut Hari Kemerdekaan ACT Bali Gulirkan Gerakan Lumbung Pangan

“Ketika kita berbicara tentang Muhammadiyah dan kemerdekaan, maka sebenarnya hal ini sangat penting dalam arti kata Muhammadiyah sejak awal berdirinya sebenarnya melakukan dua hal yang sangat penting dalam proses merdeka kita. Yang pertama yang dilakukan adalah pembaharuan,” ungkap sejarawan Anhar Gonggong dalam acara Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Jumat (14/08).

Secara histori, pembentukan organisasi pada awal abad ke-20 merupakan sesuatu yang baru. Kelahiran Muhammadiyah memicu tumbuhnya organisasi-organisasi baru di berbagai bidang seperti politik, sosial dan agama, yang memiliki semangat sama, yaitu mengedepankan kemajuan, persatuan dan kebangsaan Indonesia.

BACA JUGA: Gelar Pilkada di Tengah Pandemi, Penyelenggara Pemilu Hadapi Tantangan Berat

“Yang kedua, apa yang dilakukan Muhammadiyah sejak awal sampai sekarang dalam bidang pendidikan, itu sumbangan besar yang tidak bisa dibantah. Itulah yang melahirkan sebagian besar daripada intelektual Indonesia, yang memiliki peranan penting sampai sekarang,” kata Anhar.

Menurut pria kelahiran Sulawesi Selatan, 14 Agustus 1943 ini menyatakan bahwa bidang pendidikan dan gerakan perjuangan Muhammadiyah merupakan sumbangan yang sangat besar bagi bangsa. Akan tetapi ironisnya fakta ini dalam penulisan sejarah tidak banyak diketahui masyarakat luas.

BACA JUGA: Tolak Dukung Gibran, Dua Pengurus PAN Diusir dari Kantor DPD

“Intelektual Muhammadiyah ke depan itu pasti bakal mempunyai peranan penting— dalam apa yang prof. Mukti istilahkan tadi—berebutan sejarah. Artinya bukan ‘saya ingin menang sendiri’, tapi ‘saya mencari kebenaran sejarah, dan meletakkan kebenaran sejarah itu pada tempatnya,” kata Anhar.

Misalnya ketika Alam Sah mengungkapkan pendapatnya sebagai menteri agama bahwa umat Islam memberikan sumbangan yang besar akan kelahiran pancasila. Namun ada satu politisi yang mengkritik dan kurang sependapat dengan pandangan Alam Sah tersebut. Bagi Anharapa yang dikemukakan Alam Sah merupakan fakta sejarah yang mesti diletakkan pada tempatnya.

BACA JUGA: Muchdi PR Tegaskan Pengurus Berkarya Yang Sah, Yang Sesuai SK Menkumham

“Pancasila itu tidak mungkin ada, walau pun sudah dibicarakan Soekarno tanggal 1 Juni, tapi ketika, misalnya, orang-orang Islam, khususnya 3 orang Muhammadiyah, kalau Kahar Muzakkir, Singodimedjo, dan Bagus Hadikusumo, tidak mau, pasti paling tidak akan memakan waktu yang cukup lama,” ujar Anhar.

Anhar kemudian mengutip perkataan Bung Hatta yang mengatakan bahwa kalau tidak ada toleransi dari pada pemimpin-pemimpin Islam untuk mengganti 7 kata dalam Piagam Jakarta, maka kelahiran Pancasila akan memakan waktu yang lama, menguras energi yang begitu besar, dan sidang PPKI akan berlarut-larut.

BACA JUGA: KPU Denpasar Gelar Webinar Nasional Terkait Regulasi Pelaksanaan Pilkada Di Tengah Pandemi

“Kesadaran keindonesiaan dari tokoh-tokoh (Muhammadiyah) ini, kesadaran untuk kepentingan bersama bukan untuk kepentingan kita. Maka bagian dari perjuangannya, dia serahkan pada republik ini,” tegas Anhar.

Masukkan dari tokoh-tokoh Muhammadiyah pada butiran Pancasila merupakan sebuah terobosan yang luar biasa dalam membuat jalan keluar di saat adanya kebuntuan untuk mengakomodir keanekaragaman agama saat itu. Hal Ini merupakan bagian dari fakta sejarah yang tidak dapat dihapus. Akan tetapi Anharmengingatkan bahwa ketika tak ada yang menulis sejarah Pancasila seperti yang telah dikemukakannya, maka sejarah itu akan hilang dan dilupakan.

BACA JUGA: Hadirkan Penulis, IMM Kota Denpasar Bedah Buku “Foto Bupati Di Kamar Pelacur”

“Dalam pandangan saya, sumbangan Muhammadiyah itu dalam proses memerdekakan Indonesia dia menggunakan organisasi dalam arti kata memberikan pencerahan pikiran, tapi juga memberikan kekuatan bahkan juga kekuatan fisik dan intelektual. Inilah yang diberikan Muhammadiyah dalam proses kemerdekaan kita,” tutur Anhar.(FI)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini