24 Juta Siswa Berpotensi Putus Sekolah Karena Dampak Covid-19

0
1482
24 Juta Siswa Berpotensi Putus Sekolah Karena Dampak Covid-19
Proses kegiatan belajar mengajar dengan memakai masker wajah di sekolah.
Bagikan Berita Ini
  • 60
    Shares

TEROPONGMETRO – Direktur Eksekutif Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atauUnited Nations Children’s Fund Henrietta Fore mengatakan, pandemi corona (Covid-19) telah membuat darurat pendidikan global yang mengancam setidaknya 24 juta siswa putus sekolah.

“Pada puncak Covid-19, 192 negara menutup sekolah yang menyebabkan 1,6 miliar siswa tidak belajar secara langsung,” kata Fore dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

BACA JUGA: Tarung di Pilkada 2020, PDIP Komitmen Menangkan 184 Cakada Non Kader

“Saat ini sekitar 870 juta siswa, atau setengah dari populasi pelajar di 51 negara dunia belum dapat kembali ke sekolah. Semakin lama anak-anak tidak bersekolah, semakin kecil kemungkinan mereka untuk kembali,” katanya.

Untuk itu, PBB mendesak pemerintah untuk memprioritaskan pembukaan sekolah ketika pembatasan dicabut.

Selain pendidikan, dia menambahkan, sekolah-di seluruh dunia menyediakan sumber nutrisi dan imunisasi kepada siswa. “Setidaknya 24 juta anak diproyeksikan putus sekolah karena Covid-19,” katanya.

BACA JUGA: Kapolres Blitar ‘Ngamuk’, Camat Dibentak Gelaran Wayang Kulit Dibubarkan

Saat pandemi merebak, banyak sekolah beralih ke pendidikan virtual untuk menggantikan belajar tatap muka. Pakar pendidikan yang mengakui kekurangan belajar virtual mengatakan bahwa hal itu tidak dapat menggantikan sekolah tatap muka.

Fore mengatakan bahwa lebih 460 juta siswa di seluruh dunia tidak memiliki akses internet, komputer, atau perangkat seluler untuk berpartisipasi dalam belajar virtual saat sekolahnya ditutup.

“Kami tahu bahwa menutup sekolah untuk waktu yang lama (memiliki) konsekuensi yang menghancurkan anak-anak,” katanya.

Dia mengatakan, anak-anak menjadi lebih rentan terhadap kekerasan fisik dan emosional. Selain itu, kesehatan mental mereka terpengaruh.

“Mereka lebih rentan terhadap pelecehan seksual, dan kecil kemungkinannya untuk keluar dari siklus kemiskinan,” katanya.

BACA JUGA: Polri Minta Hidupkan Kembali Pam Swakarsa di Tengah Pandemi Covid-19

Pembukaan kembali sekolah telah menjadi masalah utama, terutama di AS, di mana Presiden Donald Trump mendorong untuk membuka kembali sekolah di tengah penyebaran virus di masyarakat.

Pejabat kesehatan masyarakat menekankan pentingnya membuka kembali sekolah tatap muka, tetapi mengakui bahwa virus menimbulkan risiko bagi kaum muda.

Meski orang muda biasanya tidak sakit karena Covid-19 seperti orang tua, konsekuensi kesehatan jangka panjang infeksi Covid-19 pada orang muda masih diteliti. Pasalnya, beberapa orang muda meninggal karena penyakit tersebut.

BACA JUGA: Pilkada 2020 Terancam Ditinggalkan Pemilih Bukan Karena Covid-19

Penasihat virus corona Gedung Putih Dr. Anthony Fauci, mengatakan cara terbaik untuk membuka kembali sekolah adalah dengan menahan virus di masyarakat.

Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay pada Selasa (15/9/2020) mengatakan membuka kembali sekolah dengan aman dengan protokol baru sangat dimungkinkan. Solusinya memberikan peran dan pelatihan guru.

UNESCO, UNICEF, dan WHO bersama-sama menerbitkan dokumen setebal 10 halaman pada Senin yang menguraikan pedoman membuka kembali dan mengoperasikan sekolah selama pandemi.

“Sangat penting bahwa pendidikan dan kesehatan bekerja sama erat untuk memastikan bahwa sekolah dibuka kembali dengan aman,” katanya.

BACA JUGA: Raih Akreditasi A, Menteri PMK Apresiasi Kemajuan UMSU

“Saat kita berurusan dengan pendidikan, keputusan yang kita buat hari ini akan berdampak pada dunia masa depan.”

Pedoman badan Perserikatan Bangsa-Bangsa merinci sejumlah tindakan yang harus dipertimbangkan oleh komunitas, sekolah, ruang kelas, dan individu ketika memutuskan membuka kembali sekolah. Beberapa langkah kebijakan mendorong siswa untuk tinggal di rumah jika mereka yakin telah terpapar virus. Sekolah memastikan ventilasi yang memadai di ruang kelas.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa mengatakan bahwa masih banyak pertanyaan bagaimana virus menular pada anak-anak. Dia menegaskan kembali bahwa virus dapat membunuh anak-anak, meski jarang terjadi. Namun anak-anak bisa terinfeksi dan menyebarkan virus kepada orang lain.

BACA JUGA: Alhamdulillah, Zona Merah di Indonesia Hanya 41 Daerah

Tedros menambahkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk mempelajari apa yang meningkatkan risiko kematian pada anak-anak serta potensi komplikasi kesehatan jangka panjang akibat Covid-19.

Tedros mengatakan bahwa risiko membuka kembali sekolah di tengah pandemi akan ditentukan oleh kemampuan masing-masing komunitas untuk mengendalikan virus melalui langkah-langkah kesehatan masyarakat seperti pemakaian masker, jarak sosial, pengujian, penelusuran, dan isolasi. (akh/tm)


Bagikan Berita Ini
  • 60
    Shares


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here