Jelang Pilwali Denpasar, KPU Gelar Simulasi Pemungutan Suara Dengan Prokes Ketat

0
726
Jelang Pilwali Denpasar, KPU Gelar Simulasi Pemungutan Suara Dengan Prokes Ketat
Seorang pemilih tengah memasukan surat suara ke kotak suara, Sabtu (21/11).
Bagikan Berita Ini
  • 21
    Shares

DENPASAR (TEROPONGMETRO) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Denpasar menggelar simulasi pemungutan suara Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Denpasar tahun 2020, Sabtu, 21 November 2020.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dalam simulasi pemungutan suara Pilkada Kota Denpasar 2020 tersebut, KPU Kota Denpasar mengambil segmen pemilih masyarakat nelayan yang dilaksanakan di SD 3 Serangan kampung bugis, Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan.

BACA JUGA: Pimpinan MPR Dukung Pertemuan Wapres-Habib Rizieq

Ketua KPU Kota Denpasar, I Wayan Arsa Jaya mengatakan, simulasi pemungutan suara Pilwali Kota Denpasar 2020 dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Hari ini kami menggelar simulasi pemungutan suara mulai dari pencoblosan sampai dengan penghitungan suara sampai e-rekap. Hal ini juga sebagai salah satu untuk melihat pemilih yang mengikuti protokol kesehatan,” katanya.

Arsa Jaya mengatakan, dalam simulasi tersebut selain 3 bilik suara yang ada dalam TPS, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) juga menyiapkan satu bilik suara khusus bagi warga yang setelah melakukan cek suhu diatas 37 derajat.

“Ada juga bilik khusus tersendiri, tidak bercampur dengan pemilih lainnya, tempat yang sudah disiapkan KPPS di TPS,” ujarnya.

BACA JUGA: Politikus Hanura Sebut Fadli Zon gak Paham Undang-undang

Sementara itu, Divisi Teknis KPU Kota Denpasar I Made Windia menjelaskan bahwa pemilih yang datang ke TPS sudah dibatasi. Sebelumnya jumlah maksimal 800 orang, saat ini dibatasi maksimal 500 orang sesuai UU yang berlaku. Dan pada simulasi itu juga memperdayakan semua Sumber Daya Manusia (SDM) dengan real atau nyata, seperti petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), serta pemilihnya.

“Seperti keadaan TPS nya dan bagaimana pola dan sistem pemungutannya juga adalah bagian dari simulasi yang real pula,” ungkapnya saat diwawancarai teropongmetro.com di lokasi tempat simulasi.

Hanya saja, katanya yang berbeda surat suara yang digunakan yaitu surat suara specimen gambarnya bukanlah gambar orang, tapi gambar wayang dan jumlahnya pun bukanlah dua Pasangan Calon (Paslon) tapi ada 6 Paslon.

BACA JUGA: Menantu Luhut jadi Pangdam Udayana, Jenderal Eks Dandim Solo Jabat Danpaspampres

Hal ini dilakukan guna mengihindari asumsi dari pihak luar terkait dengan peralihan suara.

Ketika nantinya disimulasikan dua Paslon khawatirnya ini akan dijadikan pegangan, sebagai cerminan pada pemilihan 9 Desember nantinya.

“Nah ini adalah upaya – upaya untuk mengaburkan itu. Sehingga kami hanya memperaktikan pemilih saat datang, pemilih antri, pemilih melakukan protokal kesehatan, bagaimana petugas KPPS memperlakukan pemilih yang datang dengan berbagai kasus,” ujarnya.

Ditambahkannya, dengan simulasi ini pula, memberitahu kepada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang hadir ke kegiatan ini.

“Bagaimana nantinya menyesaikan masalah jika dalam proses benar – benar terjadi hal – hal yang skenariokan itu,” sebutnya.

BACA JUGA: Yusril Sentil Mendagri Tito Karnavian Soal Instruksi Pemberhentian Kepala Daerah

Ia menambahkan, sasarannya juga dari simulasi ini, adalah Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Denpasar, termasuk kepolisian dan TNI yang berkaitan dengan pengamanan.

“Jadi bisa memetakan potensi – potensi yang terjadi di TPS. Dengan berbagai skenario yang sudah disiapkan. Bagaimana Polisi bisa memetakan pengaman ketika ada kesalahan dalam proses penulisan jumlah suara,” imbuhnya.(up)


Bagikan Berita Ini
  • 21
    Shares


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here