Muhammadiyah Rumah Besar Toleransi

0
2860
Muhammadiyah Rumah Besar Toleransi
Buya Ahmad Syafii Ma'arif.
Bagikan Berita Ini

YOGYAKARTA (TEROPONGMETRO) – Muhammadiyah rumah besar toleransi adalah sebuah cita-cita besar yang menjadi idealisme. Walaupun terkadang dalam pelaksanaannya tidak selalu mudah dan melewati banyak tantangan.

Namun, jika melihat Indonesia, Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1995-2005 mengatakan bahwa di bumi yang satu ini hanya bisa aman dan tenang jika ada toleransi.

BACA JUGA: Ilham Bintang: Martabat Profesi Wartawanan Perlu Dijaga Demi Kepercayaan Publik

“Saya melihat ini dengan tema Muhammadiyah rumah besar toleransi itu suatu cita-cita besar. Yang memang itu selalu suatu  idealisme yang tidak mudah kadang-kadang dilaksanakan. Sebab di bumi yang satu ini itu hanya bisa aman dan tenang kalau ada toleransi,” ujar Buya Syafi’i pada Diskusi Rahma.id ‘Muhammadiyah Rumah Besar Toleransi’,  Rabu (23/12), via daring.

“Kita berlapang dada, sebab perbedaan itu sunatullah, disetujui hukum alam, sebuah keniscayaan dan bukan hanya agama saja yang berbeda. Namun adat istiadat, bahasa, latar belakang, dan macam-macam. Dan itu memperkaya kehidupan manusia,” imbuh Buya.

BACA JUGA: Tiga Kandidat Calon Kuat Kapolri Rekomendasi Kompolnas dan Wanjakti

Perbedaan Ada Agar Berlomba-lomba dalam Kebaikan

Buya menjelaskan di dalam al-Qur’an Surat al-baqarah 148, dijelaskan bahwasannya perbedaan sebenarnya ada agar kita terus berfastabiqul khairaat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Adanya perbedaan menjadi sinyal positif untuk manusia saling berbuat baik satu sama lain bukan untuk hal negative.

Maka, menurutnya, syarat pertama untuk menjadi toleran adalah harus berlapang dada dan menghargai perbedaan itu. “Kita boleh tidak setuju tetapi tidak setuju itu kita juga menghormati orang lain. Kita jangan jadikan perbedaan agama menjadi saling merusak,” jelasnya.

BACA JUGA: Pandemi Belum Berakhir, Gugus Tugas Minta Warga Denpasar Rayakan Tahun Baru Dengan Merenung

Diakhir, Buya juga berpesan agar berdiskusi dengan saling terbuka, saling menerima dan memberi, juga memperkaya pengetahuan masing-masing.

“Hidup yang sekali ini tidak boleh dimain-mainkan. Hidup terlalu pendek, oleh karena itu mari kita jaga lingkungan kita, rumah kita, bangsa negara dan dunia itu semua,” kata Buya.(muhammadiyah.or.id)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here