Produksi Turun, Cuaca Jadi Kendala Pengolahan Industri Garam

0
1428
Produksi Turun, Cuaca Jadi Kendala Pengolahan Industri Garam
Ilustrasi pengolahan garam untuk industri.
Bagikan Berita Ini
  • 114
    Shares

JAKARTA (TEROPONGMETRO) – Cuaca selama 2020 terjadi anomali iklim di Samudra Pasifik yang menyebabkan La Nina dan berdampak pada peningkatan curah hujan di sebagain besar kawasan Indonesia. Akibatnya pengolahan garam terkena dampak kemarau basah dari perubahan iklim ini.

Direktur PT Inti Daya Kencana (IDK), Harry Kristanto mengatakan akibat faktor cuaca terjadi kendala bagi pengolahan garam di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, tahun 2020 Indonesia diperkirakan produksi garam turun menjadi 1,3 juta ton dari 2,7 juta ton di tahun lalu.

BACA JUGA: Pandemi Covid-19 Belum Melandai, Kemdikbud Siapkan Alternatif Pembelajaran Tatap Muka

Normalnya musim hujan di Indonesia 6 bulan pertahun, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 4 bulan pertahun, sedangkan tahun 2020 musim kemarau tetap turun hujan. “Curah hujan yang tinggi menjadi momok yang paling ditakuti bagi pengolahan garam,” ujar Harry dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/12/2020)

Harry menambahkan pengolahan garam PT IDK sudah antisipasi agar kualitas garam yang diproduksinya tidak terpengaruh oleh curah hujan tinggi. Pada saat musim hujan, lapisan garam yang di lahan dilapisi dengan air konsentrasi air garam, yang mana berat jenisnya lebih berat dari air hujan. “Air garam ini melindungi dari air hujan, dan air hujan yang ada di atas air garam dapat dibuang,” tutur Harry.

BACA JUGA: Elektabilitas Gerindra Diprediksi Anjlok Usai Prabowo-Sandi Gabung Jokowi

Harry mengatakan lahan garam milik PT IDK di Kabupaten Malaka NTT tidak seperti ladang garam yang ada di Indonesia. Lahan garam tersebut di lapisi lapisan garam setebal 5 cm yang disebut meja garam, sebagai alas produksi garam dari air laut.

Dia menambahkan untuk proses membentuk meja garam membutuhkan waktu 1 tahun. Setelah meja garam terbentuk, lahan tersebut dapat memproduksi garam. “Kita panen garam di atas garam, tidak seperti pengolahan garam tradisional yang mana panen garam di atas tanah,” lanjut Harry.

BACA JUGA: Muhammadiyah: Aksi Pelayanan Kemanusiaan Harus Diberikan Tanpa Melihat Batas Ras, Suku, Agama dan Lainnya

Garam yang dihasilkan merupakan garam untuk kebutuhan industri dengan kadar NaCl 98% dan kadar magnesium 0,04%.

“Untuk menghasilkan garam untuk kebutuhan industri butuh proses panjang, mulai dari kontrol kolam penguapan, mesti ada meja garam, ketiga mesti ada proses pencucian garam. Ini berbeda dengan tradisional, tidak ada pencucian garam, panen setiap 6 minggu sekali sedangkan di malaka itu 1 tahun sekali. Dari segi kualitas dan metode sangat berbeda”, tandas Harry. (ra)


Bagikan Berita Ini
  • 114
    Shares

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here