Muhammadiyah, NU, dan MUI Sepakat Din Syamsuddin Bukan Tokoh Radikal

0
31566
Muhammadiyah, NU, dan MUI Sepakat Din Syamsuddin Bukan Tokoh Radikal
Salah satu kegiatan Din Syamsuddin di acara antarumat beragama internasional
Bagikan Berita Ini
  • 3.1K
    Shares

TEROPONGMETRO – Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu”ti mengecam tuduhan radikal kepada Prof Din Syamsuddin oleh Gerakan Anti Radikalisme Alumni ITB.

Menurut Abdul, tuduhan itu tidak berdasar dan salah alamat. “Saya mengenal dekat Pak Din sebagai seorang yang sangat aktif mendorong moderasi beragama dan kerukunan intern dan antarumat beragama baik di dalam maupun luar negeri,” kata dia, Jumat (12/2).

“Pak Din adalah tokoh yang menggagas konsep Negara Pancasila Sebagai darul ahdi wa syahadah di PP Muhammadiyah sampai akhirnya menjadi keputusan resmi Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar,” kata Abdul Mu’ti.

BACA JUGA: Partai Gerindra Anjlok, Pengamat Sebut Ada Dua Tantangan Yang Belum Selesai

Ia melanjutkan, semasa menjadi utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban, Din memprakarsai pertemuan ulama dunia di Bogor. Pertemuan tersebut melahirkan Bogor Message yang berisi tentang wasathiyah Islam atau Islam yang moderat. “Bogor Message adalah salah satu dokumen dunia yang disejajarkan dengan Amman Message dan Common Word. Pak Din adalah moderator Asian Conference of Religion for Peace (ACRP), dan co-president of World Religion for Peace (WCRP). Tentu masih banyak lagi peran penting Pak Din dalam forum dialog antariman. Jadi sangatlah keliru menilai Pak Din sebagai seorang yang radikal,” tegas dia.

Di UIN Jakarta, Din adalah satu-satunya guru besar Hubungan Internasional. Secara akademik, FISIP UIN sangat memerlukan sosok Din. “Saya tahu persis, di tengah kesibukan di luar kampus, Pak Din masih aktif mengajar, membimbing mahasiswa, dan menguji tesis atau disertasi,” jelas dia.

Oleh karena itu, kata dia, apabila Din banyak melontarkan kritik, itu adalah bagian dari panggilan iman, keilmuan, dan tanggung jawab kebangsaan. Kritik adalah hal yang sangat wajar dalam alam demokrasi dan diperlukan dalam penyelenggaraan negara. “Jadi semua pihak hendaknya tidak antikritik yang konstruktif,” kata dia.

BACA JUGA: Dukung UMKM Naik Kelas, Pegadaian Gandeng KADIN DKI Jakarta

Dalam situasi negara yang sarat dengan masalah, imbau Abdul, sebaiknya semua pihak berpikir dan bekerja serius mengurus dan menyelesaikan berbagai problematika kehidupan. Semua pihak hendaknya tidak sesak dada terhadap kritik yang dimaksudkan untuk kemaslahatan bersama. “Saatnya semua elemen bangsa bersatu dan saling bekerja sama dengan menyingkirkan semua bentuk kebencian golongan dan membawa masalah privat ke ranah publik,” jelas dia.

MUI: Tuduhan Keji

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim menyesalkan adanya kelompok yang menuding mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, sebagai bagian dari kelompok radikal.

“Ini adalah tuduhan dan fitnah keji yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kepada seorang tokoh dan pemimpin muslim penting tingkat dunia yang sangat dihormati,” kata Sudarnoto dalam keterangannya, Jumat, 12 Februari 2021.

Sudarnoto mengatakan Din selama ini telah mempromosikan wasatiyatul Islam atau Islam moderat di berbagai forum dunia. Masyarakat juga bisa melihat bukti dan rekam jejak Din untuk memahami pandangan dan sikapnya terhadap radikalisme dan bagaimana menangani paham tersebut.

Sudarnoto meminta kepada pihak dan kelompok manapun untuk berpikir ulang dan mempertimbangkan kembali atas tuduhan tersebut. Tindakan melaporkan Din ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), kata Sudarnoto, tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa kepada siapapun.

Ia justru khawatir dengan kemungkinan adanya gerakan sistematik dengan isu radikalisme yang bertujuan mendiskreditkan tokoh, ulama, umat, dan bahkan Islam. Dengan dalih radikalisme, ada kemungkinan spirit Islamofobia ditebar. Karena itu, Sudarnoto menilai, tuduhan kepada Din berpotensi menumbuhkan spirit Islamofobia.

“Tidak menutup kemungkinan setelah Prof. Din Syamsuddin, tokoh atau ulama kritis lainnya akan dikenakan tuduhan yang sama oleh kelompok Islamofobia ini,” kata dia.

BACA JUGA: Pengurus PKS Bali Dilantik, Hilmun Sebut Pemilu 2024 Yakin Raih Satu Kursi DPR RI

Sudarnoto pun meminta KASN dan Kementerian Agama mengkaji secara seksama, kritis, dan adil terhadap laporan dan tuduhan terhadap Din Syamsuddin. “Jangan sampai salah mengambil langkah dan kesimpulan karena ini jelas akan merugikan dan membawa dampak negatif,” katanya.

Dukungan NU untuk Din

Ketua PBNU, Marsudi Syuhud, turut menanggapi soal Din Syamsuddin yang dituduh sebagai tokoh radikal. Marsudi mengaku belum bisa menemukan contoh konkret Din Syamsuddin termasuk seorang yang radikal. “Tuduhan radikalisme terhadap tokoh Din Syamsuddin oleh pihak tertentu sampai detik ini saya belum bisa menemukan contoh konkret yang menggambarkan beliau adalah seorang yang radikal dalam bahasa lain “tathoruf” sebagaimana gambaran pikiran kita ketika diarahkan kepada sebuah kelompok yang “distempel” radikal pada umumnya,” kata Marsudi dalam keterangannya, Jumat (12/2/2021).

“Begitu pula ketika kata “radikal” yang diarahkan kepada beliau, sebagai seorang pemimpin “jam”iyah almutathorifah”, hidung saya belum bisa membau bau itu sampai saat ini. Apakah ini karena hidung saya lagi kena flu sehingga tidak berfungsi dengan baik, atau telinga saya yang “kopoken” sehingga belum bisa mendengarkan statement Pak Din yang masuk kategori radikal,” kata Marsudi. (bob)


Bagikan Berita Ini
  • 3.1K
    Shares



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here