Ramadan Di Tengah Pandemi, Masyarakat Diminta Tahan Diri Untuk Ngabuburit

0
912
Ramadan Di Tengah Pandemi, Masyarakat Tahan Diri Untuk Ngabuburit
Ilustrasi.
Bagikan Berita Ini
  • 48
    Shares

TEROPONGMETRO – Laporan hasil survei NeuroSensum berjudul “Annual Ramadan Spending Tracker 2021” mengungkapkan, 66% responden mengaku ibadah di bulan Ramadan yang paling berdampak di tengah pandemi Covid-19 adalah pelaksanaan Tarawih di masjid. Oleh karena itu, 62% responden lebih memilih melakukan salat Tarawih di rumah bersama keluarga inti daripada di masjid.

Tradisi ngabuburit atau kegiatan menunggu waktu berbuka puasa diperkirakan terpengaruh oleh pandemi yang sudah berlangsung setahun terakhir. Sekitar 63% masyarakat masih menahan diri untuk tidak melakukan ngabuburit. Selain itu, lebih dari separuh responden Neurosensum juga enggan mengikuti tradisi silaturahmi tatap muka selama Ramadan, seperti mengikuti acara sosial, ziarah dan umrah, dan sahur di luar rumah (Sahur On The Road).

NeuroSensum melakukan wawancara kepada 500 responden di 5 kota besar di Indonesia bagaimana Covid-19 memengaruhi perayaan Ramadan mereka. Survei tersebut dilakukan pada Februari lalu saat para konsumen tengah merencanakan belanja Ramadan, dengan tujuan memahami belanja dan kebiasaan bertransaksi.

“Masyarakat masih menahan perayaan Ramadan, namun ada perubahan signifikan pada perilaku dalam melaksanakan tradisi, ritual ibadah, dan berbelanja dibandingkan dengan tahun lalu. Di tahun ini masyarakat kita sudah lebih bisa memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan selama Ramadan. Masyarakat mulai beradaptasi mencapai ‘keseimbangan’ antara mencegah penularan Covid-19 dan melakukan perayaan atau tradisi sederhana di bulan Ramadan nanti,” ungkap CEO NeuroSensum & SurveySensum Rajiv Lamba dalam keterangan pers pada Rabu (24/3).

Meski masyarakat menahan diri melakukan sejumlah tradisi Ramadan, geliat beramal jelang Ramadan sudah mulai meningkat signifikan. Dengan membandingkan studi NeuroSensum “Annual Ramadan Spending Tracker” tahun lalu, lebih banyak masyarakat yang optimistis berdonasi dan zakat lebih besar di tahun ini. Optimistis berzakat meningkat 15 kali lipat dan donasi 2,2 kali lipat dibanding Ramadan 2020.

“Tahun lalu kami melakukan studi yang sama, dan saya melihat sedikit sekali orang yang membagikan THR. Bahkan yang biasanya membagikan THR cenderung menahan mengeluarkan THR. Tahun ini 23% masyarakat lebih optimis dapat membayar THR karyawan atau orang yang bekerja untuk mereka, tidak seperti Ramadhan tahun lalu,” katanya.

Persiapan Belanja Lebaran

Selain itu mayoritas masyarakat sudah mulai merencanakan belanja Lebaran 2021 sejak Maret 2021. Sekitar 41% konsumen sudah berbelanja satu bulan sebelum Ramadan, yaitu untuk barang keperluan sehari-hari dan fesyen. Pada 2-3 bulan sebelum Ramadhan, 25% masyarakat sudah membeli tiket mudik dan 13% lainnya memutuskan baru akan berbelanja selama bulan Ramadan. Di luar itu, terdapat 10% masyarakat yang merasa tidak berbelanja sama sekali untuk Ramadhan tahun ini.

“Meskipun pandemi berdampak berbeda pada setiap orang, rencana perjalanan Ramadan 2021 tetap tenang untuk hampir semua orang. Sementara 38% konsumen akan bepergian untuk mudik, 45% konsumen tidak akan bepergian sama sekali. Selain itu, meski mereka akan merayakan Ramadan dengan sedikit lebih layak dibanding tahun lalu, mereka akan memiliki beberapa batasan. Misalnya, 31% konsumen tidak akan bersosialisasi dengan teman atau keluarga dan 27% tidak akan makan sahur di luar rumah,” ungkap Rajiv.

Data menarik lainnya ditemukan ketika bertanya kepada responden tentang rencana belanja mereka selama Ramadan. Platform online menjadi saluran yang paling disukai. Dibandingkan dengan 33% konsumen yang berbelanja online di bulan Ramadan 2020, tahun ini setidaknya 37% konsumen akan berbelanja online untuk belanja Ramadan. Sekitar 40% konsumen akan berbelanja bahan makanan online sementara 33% konsumen akan berbelanja untuk barang-barang lainnya.

“Penggunaan saluran online telah meningkat sejak tahun lalu. Beberapa perusahaan e-commerce pun mengatakan bahwa banyak hal yang mereka harapkan terjadi dalam empat tahun ke depan telah terjadi dalam satu atau dua tahun terakhir di Indonesia. Pandemi ini mempercepat akselerasi trafik saluran online karena seluruh transformasi digital yang seharusnya terjadi dalam lima tahun ke depan telah terjadi dalam enam bulan,” ujarnya.

Hal tersebut diperkuat porsi belanja makanan secara online akan meningkat karena sejak Ramadan lalu hingga Ramadan ini masyarakat semakin terbiasa dengan kanal online. Selain itu, perusahaan besar seperti Gojek, Happyfresh, dan Grab telah melihat peningkatan yang signifikan dalam lalu lintas online mereka.

“Para pemilik brand harus berhati-hati tentang apa yang mereka jual dan bagaimana caranya. Merek harus fokus pada kategori yang meningkat. Dengan bergesernya belanja konsumen ke arah kesehatan & digital, suplemen kesehatan akan meningkat sebesar 55%. Juga, ada pertumbuhan yang signifikan dalam saluran online. Saluran online ini menjadi lebih penting dalam perjalanan belanja konsumsi masyarakat. Selain itu, pandemi telah berdampak paling besar pada penurunan Social Economic Status. Merek perlu fokus pada segmen ini dan memberikan penawaran yang membantu masyarakat berhemat,” demikian penjelasannya. (ra)


Bagikan Berita Ini
  • 48
    Shares

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here