Mengenang Fatmawati Putri Hasan Din, Aktivis Aisyiyah yang Terlupakan

0
2138
Mengenang Fatmawati Putri Hasan Din, Aktivis Aisyiyah yang Terlupakan
Presiden Ir. Soekarno bersama Fatmawati.
Bagikan Berita Ini
  • 2
    Shares

Oleh:Nurbani Yusuf, Komunitas Padhang Makhsyar Kota Batu

TEROPONGMETRO – Milad Aisyiyah: mengenang yang telah berjasa dan yang telah pergi, agar tidak kehilangan tradisi. Bukankah MU dan Real Madrid sulit kalah karena tradisi yang kokoh.

“Datang ke Makkah sudah menjadi pendaman cita-citaku, saban hari aku melakukan zikir dan membaca syahadat serta memohon supaya diberi kekuatan mendekat kepada Allah. Juga memohon supaya diberi oleh Tuhan keberanian dan melanjutkan perjuangan fi sabilillah. Aku berdoa untuk cita-cita seperti semula yaitu Indonesia merdeka,” kata terakhir Ibu Fatmawati, seorang aktivis Aisyiyah, beberapa saat sebelum wafat.

Kami tidak pernah merayakan perayaan pernikahan emas atau pernikahan perak. Sebab, itu kami anggap soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan besar dan dahsyat, katanya suatu ketika.

Fatmawati ibu negara pertama. Dikenal pula sebagai penjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Pada jari dan sentuhan tangannya yang lembut itu kali pertama bendera Merah Putih berkibar gagah. Seorang perempuan cantik putri seorang aktivis Muhammadiyah dari Bengkulu.

Konon untuk mempersunting Fatmawati, Soekarno harus berdarah-darah. Soekarno harus menceraikan Hartini sebab Fatmawati pantang dipoligami karena itu pula ia juga dikenal antipoligami. Pernikahannya adalah perjuangan di tengah bising perang. Lima putra dan putri dipersembahkan. Dari perempuan aktivis Aisyiyah yang santun dan penyabar itu.

Merawat Sejarah

Hasan Din, ayahnya, adalah konsul Muhammadiyah Bengkulu, rela keluar dari perusahaan Bersomij milik Belanda, tempatnya bekerja karena tak mau aktivitasnya di Muhammadiyah terganggu. Hasan Din adalah keturunan ke-6 Kerajaan Indra Pura dari jalur Putri Galur yang berarti lembut dan anggun. Siti Chadijah, istrinya, adalah aktivis Aisyiyah, sebuah perkoempoelan perempoen di bawah Muhammadiyah.

Ibunda Fatimah yang lebih populer disebut Fatmawati adalah sosok perempuan pejuang, penyabar, dan anggun.

Jujur saya katakan Muhammadiyah kurang pintar dalam hal merawat kesejarahan. Deretan para pejuang dan pahlawan yang lahir dari rahim Muhammadiyah seperti tak terurus dengan alasan tak dicontohkan Rasulullah. Sebut saja Ki Bagoes Hadikoesoemo, Mr Kasman Singodimedjo, Abi Kusno Tjokro Soeyoso, Ahmad Juanda, Panglima Besar Jenderal Soedirman, Mr Muhamad Natsir, Mr Muhammad Rum, Soekarno, termasuk Ibunda Fatmawati. Siapa kenal mereka sekarang?

Bahkan Kyai Haji Ahmad Dahlan, Kyai Hadji Ibrahim, Kyai Hadji Fakhruddin, Buya AR Sutan Mansoer, Buya HAMKA, Kyai Hadji Azhar Bashir, dan Pak AR Fakhrudin, semuanya seperti lenyap ditelan bumi. Memang tak ada anjuran mengenang orang mati.

Tapi, kita lupa bahwa peradaban dibangun oleh orang-orang yang sudah mati itu. Abu Bakar mati, begitu pula dengan Umar, Ustman, Ali, semuanya telah mati. Bukhari, Muslim, Al Maturidy, Al Asy’ary, Sina, Rusydi, Katsier, Washil, Jaham, al Ghazali, Rumi, Halaj, Rabbiah, Ma’udodi, Jinnah, Abduh, Ridha, Afghan juga telah mati.

Menjaga Wasiat

Bersyukur kita punya Buya Syafii Maarif, Prof Malik, dan Prof Din yang mencoba tetap mendekat kepada anak cucu Hasan Din, konsul Muhammadiyah Bengkulu itu. Tetap mendampingi sebagai upaya merawat wasiat sesama para aktivis persyarikatan pendahulu. Setidaknya ada upaya tetap menjaga silaturahim dengan dzuriyah Hasan Din dan Siti Chadidjah, dua aktivis persyarikatan di Bengkulu tetap terjaga.

Bukankah Soekarno, bapaknya Ibu Megawati, berulang kali berwasiat kepada kita: “Jika aku mati kibarkan panji-panji Muhammadiyah”. Lalu, apa yang sudah kita lakukan untuk melaksanakan wasiat itu. Hasan Din, kakeknya Guntur, Mega, Rahma, Sukma, dan Guruh, adalah kader persyarikatan dan Fatmawati, eyang putrinya, adalah aktivis Aisyiyah yang dilupakan.

Perempuan memang suka mengeluh dan gampang melupakan kebaikan, sindir Rasulullah Saw kepada perempuan kenapa banyak menghuni neraka. (*)


Bagikan Berita Ini
  • 2
    Shares

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here