KPK Umumkan Hanya 24 Pegawai Bisa Dibina, Ini Komentar Novel

0
512
KPK Umumkan Hanya 24 Pegawai Bisa Dibina, Ini Komentar Novel
Penyidik senior KPK Novel Baswedan
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – KPK mengumumkan hasil rapat koordinasi mengenai nasib 75 pegawai yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan. Sebanyak 51 pegawai dinyatakan sudah tidak bisa lagi bergabung di KPK. Sementara 24 pegawai di antaranya dinilai masih bisa dibina.

Sebelumnya, pegawai KPK yang masuk dalam daftar 75 itu sudah banyak dikenal publik. Mulai dari penyidik senior Novel Baswedan, Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo, hingga dua direktur yakni Sujanarko dan Giri Suprapdiono.

Lantas, siapakah mereka yang masuk daftar 51 pegawai dan 24 pegawai itu?. “Untuk nama-nama sementara tidak kami sebutkan dulu, baik yang 24 orang yang bisa melakukan pembinaan, baik juga yang 51 orang yang dilakukan asesor tidak bisa dilakukan pembinaan,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di kantor BKN, Selasa (25/5).

Rapat koordinasi dihadiri seluruh pimpinan KPK, Kepala BKN Bima Haria, Menkumham Yasonna Laoly, MenPAN RB Tjahjo Kumolo, serta dari KASN dan LAN.

Menurut Alex, rapat itu membahas bagaimana nasib 75 pegawai KPK yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Ia berdalih semua keputusan diambil dengan keputusan bersama berdasarkan paparan dari asesor TWK yang tak disebutkan dari mana.

Alex menyebut bahwa 24 pegawai KPK dinilai asesor masih bisa untuk dibina lebih lanjut. Mereka nantinya akan diminta kesediaan untuk mengikuti pendidikan wawasan kebangsaan.

Kendati demikian, mereka juga belum dipastikan akan turut menjadi ASN. Sebab, mereka akan dinilai kembali, lulus atau tidak.

“Kalau tidak memenuhi syarat, yang bersangkutan juga harus mau diberhentikan dengan hormat sebagai pegawai KPK,” kata Alex.

Sedangkan untuk 51 pegawai KPK, dinilai sudah tidak bisa lagi dibina lebih lanjut. Menurut Alex, pihak asesor memberikan tanda bahwa para pegawai itu sudah tidak bisa dibina. “Warnanya sudah merah, dan tidak memungkinkan dilakukan pembinaan,” kata Alex.

penyidik senior KPK Novel Baswedan mengatakan pihaknya mencurigai sejak awal mengenai persekongkolan di dalam KPK dengan koruptor. Oleh karena itu, sambungnya, rentetan aksi 75 pegawai yang tak lolos TWK selama ini adalah untuk pula menggali dugaan persekongkolan oknum-oknum tersebut.

“Yang menarik begini, selama ini upaya untuk menyingkirkan orang-orang baik di KPK dilakukan oleh koruptor. Dan kali ini pimpinan KPK yang melakukan, jadi menarik tuh,” katanya kepada wartawan, Selasa.

Menyikapi hal tersebut sejak awal, penyidik senior KPK Novel Baswedan mengatakan pihaknya mencurigai sejak awal mengenai persekongkolan di dalam KPK dengan koruptor. Oleh karena itu, sambungnya, rentetan aksi 75 pegawai yang tak lolos TWK selama ini adalah untuk pula menggali dugaan persekongkolan oknum-oknum tersebut.

“Yang menarik begini, selama ini upaya untuk menyingkirkan orang-orang baik di KPK dilakukan oleh koruptor. Dan kali ini pimpinan KPK yang melakukan, jadi menarik tuh,” katanya kepada wartawan, Selasa.

“Itu (hubungan antara koruptor dengan pimpinan KPK) yang kami ingin gali. Makanya kami ke beberapa lembaga negara lain untuk melakukan investigasi dalam rangka memastikan itu. Saya menduga ada, tapi sesuatu harus dibuktikan,” lanjutnya.

Ia juga ingin memastikan kemungkinan serangkaian tindakan dan sikap yang dilakukan pimpinan KPK terkait isu penonaktifan 75 pegawai tersebut memang dirancang para komisioner itu untuk menyingkirkan mereka.

Termasuk pula keputusan KPK bersama BKN dan Kementerian PANRB yang berkeras 51 dari 75 pegawai tersebut tidak bisa bekerja kembali di lembaga antirasuah. Menurutnya keputusan itu janggal.

“Kalau (dugaan) itu benar, artinya apa yang dirancang oknum pimpinan KPK ini suatu kejahatan besar,” kata mantan perwira polisi dengan pangkat terakhir komisaris tersebut.

Novel menilai insiden ini merupakan upaya mematikan pemberantasan korupsi dengan tahap demi tahap. Dan ini, menurutnya adalah tahapan akhir dalam upaya tersebut.

“Dan kalau dikatakan siapa yang akan rugi? Ya yang akan rugi kita semua,” tuturnya.

Meski begitu, Novel memastikan ia bersama pegiat anti korupsi lainnya akan terus memperjuangkan pemberantasan korupsi hingga ke fase paling akhir.(*)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here