Eksportir Kerajinan Bali Keluhkan Kelangkaan Kontainer Untuk Kirim Barang

0
662
Eksportir Kerajinan Bali Keluhkan Kelangkaan Kontainer Untuk Kirim Barang
Anggota DPR RI I Nyoman Parta.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Sejumlah eksportir hasil kerajinan Bali mengeluhkan kelangkaan kontainer untuk mengirim barang ke luar negeri. Kelangkaan itu terjadi dalam 6 bulan terakhir ini.

Keluhan para eksportir kerajinan Bali tersebut disampaikan anggota DPR RI asal Bali, Nyoman Parta, saat rapat kerja virtual Komisi VI DPR RI dengan Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi, Jumat (27/8/2021).

“Saya didatangi eksportir kerajinan di Bali mengeluhkan kelangkaan kontainer. Parahnya dalam 6 bulan ini. Sepertinya negara tidak hadir. Dibiarkan masalah ini begitu saja,” kata Parta, dalam rapat tersebut.

Politisi PDI Perjuangan menjelaskan, dulu sebelum pandemi Covid-19, kerajinan Bali dikirim lewat Bandara Ngurah Rai dititipkan di bagasi-bagasi pesawat terbang asing yang pulang ke negaranya. Dengan demikian, biayanya lebih murah.

Namun, di masa pandemi ini bandara ditutup, karena itu para eksportir kerajinan Bali tidak bisa melakukan hal semacam itu lagi. “Kalau carter pesawat biayanya cukup tinggi dan pesawatnya tidak penuh terisi,” ujarnya.

Ia memberi contoh untuk kontainer 40 feet, dulu biayanya Rp 125 juat menjadi Rp 245 juta. “Banyak eksportir merugi. Harga yang tinggi menyebabkan bayer membatalkan maupun menunda pembelian,” jelasnya.

Menurut Parta, ada sejumlah kendala dan hambatan yang dihadapi eksportir. Di antaranya kendala global terkait dengan kenaikan harga/biaya pengiriman di Indonesia ke seluruh dunia, terutama negara tujuan Amerika dan Eropa. Kenaikannya bisa mencapai 2-5 kali lipat, dari harga pengiriman sebelum pandemi.

Parta berharap, pemerintah memberikan subsidi biaya kontainer. “Kenapa harus ada subsidi? Karena yang diekspor itu kerajinan UMKM, yang melibatkan banyak orang, yang berkaitan dengan kesejahteraan banyak orang. Kedua, pandemi ini kan tidak ada kepastian kapan akan berakhir, apa tidak mungkin Kementerian Perdagangan menginisiasi bahwa kita akan punya pabrik-pabrik kontainer, yang terkait dengan pelayaran bekerja sama dengan pebuhan asing,” kata mantan Ketua Komisi IV DPRD Bali ini.

Parta juga menyoroti Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 87 Tahun 2005 yang hanya memberikan izin beberapa pelabuhan untuk ekspor/impor barang tertentu. Sementara pelabuhan di Bali tidak masuk di dalamnya. Menurutnya, sudah saatnya Mendag mengevaluasi Permendag 87/2005 untuk memberikan peluang kepada pelabuhan-pelabuhan dijadikan jalur ekspor/impor, termasuk Pelabuhan Benoa di Bali.

Sebab, kata dia, kerajinan Bali yang dari batu kalau dikirim ke Surabaya lewat jalur darat rentan pecah. “Karena dibawa ke Surabaya rentan pecah, diangkut jalur laut, kapal laut tidak ada. Diangkut lewat kontainer kalau dibawa jalur darat rentan pecah,” ujarnya.

Karena itu, Parta berharap adanya perluasan dan revitalisasi Pelabuhan Benoa di Bali agar bisa juga dijadikan pelabuhan ekspor/impor.

Sementara Mendag Muhammad Lutfi mengatakan, persoalan kelangkaan kontainer bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Itu akibat terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Itu diperkeruh ketika pelayaran-pelayaran internasional sudah diberi oleh spekulan-spekulan. Meskipun kita tidak bisa membuktikan.

“Ini yang kami kerjakan. Setiap Jumat saya beserta seluruh asosiasi eksportir, dan saya mengundang Pak Parta juga kalau ada teman-teman di Bali yang bisa ikut, kita ikutkan di Kadin untuk berbicara menyelesaikan masalah ini. Karena ternyata ada beberapa struktural yang menjadi permasalahan,” kata Mendag.

Mendag mengakui, ongkos logistik di Indonesia sangat tinggi. Misalnya udang dari Papua lebih murah dikirim ke Paris dibandingkan dikirim ke Surabaya atau Jakarta. “Itu kenyataan. Ini yang musti kita selesaikan,” tandasnya.(up)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here