Tangani Konflik Mindanao, Suku Moro Antusias Ingin Menjadi Anggota Muhammadiyah Filipina

0
4077
Tangani Konflik Mindanao, Suku Moro Antusias Ingin Menjadi Anggota Muhammadiyah Filipina
Tangani Konflik Mindanao, Suku Moro Antusias Ingin Menjadi Anggota Muhammadiyah Filipina.
Bagikan Berita Ini
  • 984
    Shares

TEROPONGMETRO – Konflik berdarah 40 tahun antara bangsa Moro dengan pemerintah Filipina menjadi salah satu wadah keterlibatan Muhammadiyah dalam aksi perdamaian internasional. Menjadi anggota International Contact Group (ICG), Muhammadiyah beraksi melalui pendekatan kultural sejak tahun 2009.

Perundingan damai antara kelompok militan Moro (Moro Islamic Liberation Force disingkat MILF) dengan pemerintah Filipina sendiri terjadi pada tahun 2012. Setelah perundingan damai tercapai, Muhammadiyah terus menjalin hubungan baik dan kerjasama dengan bangsa Moro hingga sekarang.

Keberhasilan Muhammadiyah di Mindanao, menurut Ketua Program Magister Hubungan Internasional UMY Surwandono disebabkan oleh pilihan Muhammadiyah menggunakan pendekatan kultural.

Muhammadiyah tidak menyebut para militan Mindanao sebagai ‘teroris’ ataupun ‘bandit’ yang saat itu kerap digunakan oleh dunia internasional. Pendekatan ini dianggap merebut hati bangsa Moro.

“Kita tidak bisa pungkiri Muhammadiyah membangun perdamaian dengan pola humanitarian intervention. Dengan bantuan kemanusiaan akan bisa mengurangi distrust dan mistrust pihak yang berkonflik. Bahkan Prof Dibyo sangat dipercaya oleh teman-teman non muslim, beliau diasosiasikan pendeta yang sangat dipercaya,” ungkap Surwandono menyinggung tokoh Muhammadiyah dalam perdamaian tersebut yakni Wakil Ketua Majelis Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah Sudibyo Markus.

Dalam forum Centre for Development And International Studies UMY, Senin (30/8) Surwandono mengungkapkan bahwa bangsa Moro melihat ketulusan Muhammadiyah sehingga saat itu banyak militan MILF yang setuju dengan Muhammadiyah untuk menempuh perjuangan lewat jalur non-kekerasan.

Muhammadiyah menurut Surwandono mengusulkan kepada bangsa Moro beberapa opsi pemberdayaan sosial, pendidikan, dan ekonomi.

“Sampai Prof. Dibyo mengusulkan agar Muhammadiyah menyalurkan sejumlah bantuan ekonomi untuk peningkatan kapasitas lokal di Mindanao sehingga menimbulkan antusiasme, sehingga banyak anggota MILF berbondong-bondong (ingin) menjadi anggota Muhammadiyah. Ketika itu ada euforia yang luar biasa,” kenang Surwandono.

Sayangnya pada tahun tersebut baik Muhammadiyah dan Lazismu belum memiliki kapasitas yang baik sehingga berjalan tidak optimal.

“Tapi Pak Dibyo bekerja keras agar masyarakat Mindanao punya pilihan-pilihan moderat. Karena dengan opsi itu, maka opsi kekerasan tidak banyak dipilih,” imbuhnya.

Kini, proses perdamaian antara MILF dengan pemerintah Filipina telah berjalan selama 10 tahun. Transisi perdamaian yang masih menyisakan sekian masalah diharapkan Surwandono menjadi perhatian  Muhammadiyah untuk lebih besar memberikan porsi kepada bangsa Moro.

“Saya dapat energi positif bagaimana teman-teman di Mindanao itu sangat percaya dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah tidak bisa kita pungkiri melakukan intervensi di Mindanao menawarkan gagasan-gagasan yang luar biasa,” jelasnya.

“Dalam meyakinkan orang mau tidak mau kita memberikan harapan-harapan besar meskipun tidak sepenuhnya terpenuhi, tapi kemauan MILF melakukan politik moderat, itu jauh lebih baik,” pungkasnya.(Md)


Bagikan Berita Ini
  • 984
    Shares

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here