Kemendikbudristek Klaim Pendidikan D3 Sudah Tidak “Recommended”, Kenapa?

0
203
Kemendikbudristek Klaim Pendidikan D3 Sudah Tidak “Recommended”, Kenapa?
Dirjen Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Wikan Sakarinto.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Dirjen Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Wikan Sakarinto mengatakan, pendidikan D3 sudah tidak direkomendasikan. Menurutnya, D2 fast track akan lebih efektif dibanding D3.

“Kami mendorong untuk pendidikan di sarjana terapan, S2 terapan, dan D2 fast track. D3 sudah tidak direkomendasikan lagi dan dikuatkan D2 fast track,” ujar Wikan dalam acara peresmian Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) secara online, Sabtu (18/9/2021) kemarin.

Hal tersebut merupakan salah satu program merdeka belajar yaitu link and match. Wikan menjelaskan, jika dalam pendidikan vokasi permasalahan yang dihadapi adalah komitmen dan karakter. Ini yang menjadi PR besar.

“Link and match tidak boleh dimaknai hanya tandatangan MOU saja. Kurikulum harus dibikin bersama dengan industri. Menurut saya soft skill dan karakter lebih long lasting,” kata Wikan.

“Riset terapan untuk vokasi didukung dengan project based learning. Riset vokasi bermula dari kebutuhan nyata di industri atau di pasar. Sehingga butuh analisa pasar. Filosofi kedua adalah riset vokasi menghasilkan produk yang dihilirkan di pasar. Pastikan adanya komitmen serapan lulusan,” ujar Wikan.

Sementara itu dengan diresmikannya MNP, Wikan berharap agar pendidikan vokasi terus berkembang. Menurut Wikan pendidikan vokasi secara proporsional vokasi memang lebih dibutuhkan karena lebih banyak do.

Tiga prodi yang didirikan MNP adalah prodi sarjana terapan D4. Ketiga prodi tersebut yaitu digital animation, e-commerce logistics, dan pengelolaan konvensi dan acara.

“Potensi pertahun untuk talenta-talenta animator bisa valuenya miliaran. Kedua sarjana ecommerce itu juga merupakan bisnis yang jelas. Pasar berkembang dengan pesat. Kebutuhan sarjana terapan e-commerce pasti akan terus berkembang,” kata Wikan.

“Ketiga pengelolaan konvensi dan acara, kebutuhan untuk mengorganisasikan event akan semakin bertambah. Dari cetak biru dan blueprintnya itu tidak sekadar membangun gedung saja tetapi juga dicampur dengan industri yang di dalamnya yang mirip silicon valley,” lanjut Wikan.

Adapun Wikan menjelaskan dengan berdirinya MNP, akan ada kebijakan link and match untuk satuan pendidikan vokasi. “Mohon pendidikan vokasi untuk dilakukan rebrandingnya,” demikian Wikan. (akh)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here