PHDI Pusat Bersatu dengan Masyarakat Melaksanakan Yadnya

0
491
PHDI Pusat Bersatu dengan Masyarakat Melaksanakan Yadnya
PHDI Pusat Bersatu dengan Masyarakat Melaksanakan Yadnya.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Ini upacara nangluk merana yang dilaksanakan oleh PHDI Pusat sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, karena Yadnya Upacara Mlehpeh Nyomya Sunya Jagat Kertih Manusa Kertih Meagama Santih ini dipuput oleh 16 orang sulinggih yang berasal dari berbagai klen yang ada di Bali. Bahkan ada beberapa sulinggih yang juga muput secara daring, dengan upacara ini diharapkan terjadi hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam.

Semoga dengan upacara ini manusia terhindar atau diringankan dari dampak marabahaya bencana alam maupun virus Covid-19 ini serta harmonis dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. Upacara yang dilaksanakan di Pura Batu Bolong Canggu, Kabupaten Badung ini diikuti oleh masyarakat adat Canggu, Pengurus PDHI Pusat dan utusan dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali yang hadir sebagai salah satu instrumen negara.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana I Wayan Jondra menyampaikan bahwa kegiatan ini terlaksana atas kehendak masyarakat Hindu, khususnya di Bali, yang disambut dengan baik oleh Dharma Adyaksa PHDI Pusat dan difasilitasi oleh Pengurus Harian PHDI Pusat.

“Kehendak masyarakat dibuktikan dengan banyaknya donasi yang berupa harta benda, pikiran dan tenaga yang disumbangkan untuk suksesnya acara ini. Para pandita yang biasanya muput dibayar, hari ini beliau-beliau yang suci ini muput tanpa pamrih dan bahkan ada yang turut berdana punia dalam bentuk banten, gamelan, konsumsi, publikasi dan sebagainya,” katanya.

Pinandita Sanggraha Nusantara Kota Denpasar menyumbang tari Rejang. Ini bentuk sumbangan yang luar biasa dan mulia. Tarian sakral ini dipersembahkan kepada sang pencipta sebagai wujud bhakti kepada-Nya. Sumbangan berupa fasilitas IT, soundsystem, konsumsi, dan tenaga dari UNHI juga turut serta dalam menyukseskan acara ini.

Sumbangan berupa uang pun tak kalah pentingnya karena banyak hal yang perlu diselesaikan dengan uang. Khususnya sumbangan yang tak ternilai adalah kesempatan yang diberikan oleh Desa Adat Canggu untuk memanfaatkan Wantilan Pura Batu Bolong yang megah ini untuk pelaksanaan upacara mlehpeh tegas Jondra.

Dipilihnya Pantai Batu Bolong sebagai tempat melakukan kegiatan upacara kali ini bukannya tanpa sebuah proses. Berkat hasil meditasi dan perjalanan yang sangat panjang dilakukan oleh Ida Pedande Gede Bang Buruan Manuaba yang merupakan Ketua Dharma Adyaksa PHDI Pusat, didapatlah pantai yang indah ini, dan memiliki aura magis yang sangat kuat, karena berada diantara dua pura besar yaitu Tanah Lot dan Uluwatu. Yang keduanya dapat dilihat dengan mudah pada saat laut surut.

Demikian juga Gunung Agung sebagai tempat bersthananya Ratu Mas Meketel dapat dilihat dengan mudah dari pantai ini. Bahkan pantai ini terletak di kaki gunung yang paling subur di Bali yaitu Gunung Batukaru, sehingga pantai ini memiliki aura magis yang kuat dan vibrasi kesuburan. Demikian Wayan Jondra, Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali ini menjelaskan secara tuntas tentang pemilihan tempat upacara. Sehingga tirtha pun yang digunakan dalam upacara dimohon kepada Ratu Mas Meketel dan Petapakan Gajahmada.

Jero Mangku Ketut Sumarya, dalam sambutannya menyampaikan bahwa, upacara Mlehpeh Nyomya Sunya Jagat Kertih Manusa Kertih Meagama Santih ini merupakan momen bersatunya masyarakat Hindu di Bali dan Indonesia. Untuk mewujudkan kedamaian dalam beragama dan menjalani kehidupan melalui sebuah upacara yang mengharmonisasi hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam baik yang kasat mata maupun sunia loka.

Nuansa upacara ini sangatlah berbeda dengan upacara nangluk lainnnya di Tilem Kenem ini. Perbedaan nuansa itu sebagai dampak dari proses hadirnya upacara ini adalah atas inisiatif rakyat dan didukung oleh masyarakat, dengan beberapa upacara serupa lainnya diinisiatifi oleh pemerintah dengan uang rakyat, sehingga nilai keikhlasan masyarakat dan pemuput dalam upacara ini lebih tinggi.

Dalam sambutannya, Ibu Kakanwil Kemenag Provinsi Bali diwakili oleh Kepala Seksi Lembaga Bidang Urusan Agama Hindu menyampaikan harapan semoga melalui upacara ini wabah ini somya, dunia kembali seperti semula, tetapi wabah ini belum berakhir malah muncul generasi baru yang disebut vasian OMICRON yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan varian delta. Berdasarkan lontar Purwaka Bumi, tujuan upacara mlehpeh ini sama dengan nangluk merana, sebagai usaha untuk terwujudnya keselamatan dunia dan isinya melalui upakara, berdasarkan rasa tulus iklas, sehingga dunia menyadi aman dan bebas dari bencana. (Tm)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here