Diterima Non Muslim, Dai Muhammadiyah di Wilayah 3 T Adalah Jangkar Perekat Bangsa

0
2802
Diterima Non Muslim, Dai Muhammadiyah di Wilayah 3 T Adalah Jangkar Perekat Bangsa
Dai Muhammadiyah di Wilayah 3 T Adalah Jangkar Perekat Bangsa.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Meskipun Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim, akses pendidikan keagamaan tidak serta merta merata.

Kondisi geografis Indonesia sebagai negera kepulauan disertai tertinggalnya pembangunan di beberapa wilayah dianggap sebagai salah satu penyebab masalah di atas.

Penyebab lainnya adalah minimnya stok para dai lokal yang siap berdakwah di komunitasnya. Selama ini kebutuhan para dai di daerah-daerah 3 T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal) masih bergantung pada dai dari Pulau Jawa.

“Ketika ada daerah-daerah yang berkirim surat, ada komunitas muslim yang tidak ada ustadnya, kita miris dan terpanggil,” kata Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah, M. Ziyad, Jumat (10/12).

Dalam siaran TvMu bertajuk “Diskusi Reflektif Bulan Ber-Muhammadiyah”, Ziyad menilai faktor-faktor tersebut menjadi perhatian serius Persyarikatan. Selain menggandeng para Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di berbagai wilayah untuk menyiapkan dai lokal, LDK juga membuat program bernama Rihlah Dakwah.

“Alternatif kita adalah rihlah dakwah, selama satu pekan hingga sepuluh hari para pengurus LDK dengan ustaz-mubaligh di daerah-daerah Muhammadiyah untuk berkeliling ke pulau-pulau, sekaligus melatih dai berbasis daerah,” ungkap Ziyad.

Berlangsung sejak lama, program ini menurut Ziyad berlaku di banyak daerah 3 T, termasuk pedalaman Kalimantan Tengah, Waringin Timur, Papua Barat, Boven Digoel, Wamena, Jaya Wijaya hingga Pulau Alor di perbatasan Indonesia dengan Timor Leste.

Selain bernilai keagamaan, para dai Muhammadiyah di wilayah 3 T dianggap Ziyad sebagai jangkar perekat bangsa. Di wilayahnya bertugas, para dai juga memberikan pendidikan terhadap masyarakat bahkan merintis pendirian sekolah.

Tak heran, kedatangan para dai tidak hanya diterima oleh kaum muslimin saja, tapi juga disambut oleh masyarakat dan tokoh non muslim setempat.

“Bupati (Alor) Amon Djobo meski dari Kristiani mensupport luar biasa karena bagi dia pada dai Muhammadiyah ini adalah berjasa besar membangun dan mencerahkan masyarakatnya. Dan beliau hadir dalam pelatihan (dai) itu karena merasa ini bermanfaat,” ungkap Ziyad.(Md)


Bagikan Berita Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here