Jadi Rais Syuriyah PBNU, ini Profil Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir

0
775
Jadi Rais Syuriyah PBNU, ini Profil Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir
Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee, Guluk-Guluk Sumenep Madura. Beliau adalah putra dari ulama kharismatik KH. Ahmad Basyir AS (Pejuang Barisan Sabilillah), dan cucu dari KH. Abdullah Sajjad bin Syarqowi (Pejuang Kemerdekaan RI). Cicit dari KH. Muhammad Syarqawi (Pendiri Pondok Pesantren Annuqayah).

Kyai A’la beliau biasa panggil oleh para santri dan alumninya, lahir di Sumenep, 5 September 1957 ini merupakan putera kedua dari pasangan KH. Ahmad Basyir dan Ny Hj. Umamah Makkiyah yang sejak kecil dididik di lingkungan pesantren. Beliau adalah generasi ke-3 dari Bani Syarqawi atau cicit pendidiri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Sebagaimana dalam silsilahnya, KH. Abd A’la bin KH. Ahmad Basyir bin KH Abdullah Sajjad bin Muhammad Syarqawi.

Suami dari Nyai Hj. Nihayatus Sa`adah memiliki 4 putera serta memiliki 7 saudara kandung, antara lain, Nyai Alif Layyinah, Kyai A. Sahl (wafat), Nyai Iffah (wafat), Nyai Nafhah, Kyai M. Hazmi, Nyai Uswatun Hasanah, dan Kyai M. Ainul Yaqin.

Setelah lama berkiprah di NU secara kultural dan berjuang di dunia intelektual, kini KH. Abd. A’la Basyir diberi kepercayaan dan tanggung jawab besar sebagai Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendampingi Rais Aam KH. Miftachul Akhyar, masa khidmat 2022-2027. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Nomor. 01/A.II.4/01/2022.

Selengkapnya inilah profil Profesor Doktor KH. Abd.A’la Basyir:

KELAHIRAN
Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir lahir pada 5 September 1957 di Sumenep. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Ahmad Basyir AS dengan Nyai Hj. Umamah Makkiyah Pengasuh di Pondok An-Nuqayah Latee, Guluk Guluk, Semenep.

KELUARGA
Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj. Nihayatus Sa`adah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 4 anak, diantaranya, Istizadah Iffati, Ahmad Dzaki Nuhais Asy-Syarqawi, Zakhrofani Ghina En-Nafs, dan Zakana Istigharuna El-Dayyan.

PENDIDIKAN FORMAL
Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir memulai pendidikannya dengan belajar di Madrasah Ibtidaiyah Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep dan melanjutkan pendidikan menengah di Madrasah Mu’allimin Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep. Di Pondok an-Nuqayah ini, Abd A’la menempuh pendidikan keseluruhannya, pada periode 1966-1978.

Ketika di PP. an-Nuqayah, Guluk-Guluk Sumenep, Abd A’la berguru kepada ayahnya sendiri, dan kepada kiai-kiai di an-Nuqayah.

Setelah selesai dari Muallimin Pondok an-Nuqayah selama 6 tahun, Abd A’la melanjutkan mondok di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Ketika di Pondok Tebuireng, Abd A’la banyak ngalap berkah kepada kiai-kiai di Jombang dan mengunjungi makam-makam penting para muassis Nahdlatul Ulama.

Saat di Tebuireng ini, Abd A’la menempati Kamar Al-Djihad, No. 8, seangkatan dengan santri Bangkalan, di antaranya adalah Bpk. Rofiq Syafii. Abd. A’la menempuh pendidikan di Tebuireng ini, antara periode 1978-1979, yang disebutnya sebagai upaya ngalap berkah.

Ketika di Tebuireng ini, Abd A’la juga mengaji berbagai kitab penting, dan di antaranya adalah kitab fiqh, Fathul Wahhab kepada KH. Adlan Aly, yang di kemudian hari menjadi Ketua JATMAN juga ngaji kitab kumpulan hadits, Riyadus Shalihin kepada KH. Ishomuddin AS dan disempurnakan pula ngaji kitab hadits babon, Shohih Muslim, kepada KH. Bisri Syansuri, Tebuireng, yang pernah menjadi Rais Am PBNU, dan mengasuh Pondok Pesantren Denanyar.

Setelah dari Tebuireng, Abd A’la melanjutkan kuliah di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya (selesai 1987) dan sekarang menjadi Fak. Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel). Sewaktu di Surabaya, Abd A’la banyak mengikuti berbagai kegiatan diskusi, dan membaca buku-buku yang sedang menjadi booming saat itu, termasuk tulisan-tulisan progresif dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Abd A’la kemudian masuk organisasi PMII, dan kemudian aktif di senat mahasiswa, menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel.

Setelah itu, Abd A’la menekuni karir sebagai pendidik dan menjadi dosen di Sekolah Tinggi Keagamaan Islam Annuqayah (STIKA), sejak tahun 1987 (sampai 2005) dan kemudian menjadi dosen di Fak. Adab dan Humaniora IAIN (UIN) Sunan Ampel, sejak tahun 1990.

Dari IAIN Sunan Ampel, Abd A’la kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Pascasarjana IAIN (Sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta (selesai 1996) dan disempurnakan dengan S3 di universitas yang sama. Abd. A’la merampungkan S3, dengan menulis dissertasi berjudul Pandangan Teologi Fazlur Rahman, Studi Kritis tentang Pembaruan Teologi Neo-Modernisme (selesai tahun 1999), yang promotornya saat itu adalah Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA., dan Dr. H. Muslim Nasution.

PENGALAMAN ORGANISASI

Rais Syuriah PBNU (2022-2027).

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (2018-2022-2027).

Majelis Masayikh Kementerian Agama Republik Indonesia (2021-sekarang).

Khadim Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk (2017-sekarang).

A’wan PWNU Jawa Timur (2013-2018).

Dewan Pengawas Yayasan Annuqayah (2011-sekarang).

Anggota paripurna Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (2007-2008).

Anggota National Board pada International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta (2003).

Aktivis dan konsultan dalam Konsorsium Keadilan dan Kedamaian (KKK) Malang (2002-sekarang).

PERANAN DI NAHDLATUL ULAMA
Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir adalah akademisi dan aktivis yang ikut bergiat di sayap kultural NU, termasuk di Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU yang diadakan di Cirebon tanggal 8-10 Oktober 2004 dan gerakan-gerakan kultural lain. Abd. A’la ikut melakukan kritik-kritik atas politisasi NU dan Demoralisasi Khittah NU tahun 2004.

Di Mubes Warga NU di Cirebon, Abd. A’la Basyir menjadi salah seorang Organizing Commite (OC) bersama Imam Aziz (koordinator), Helmi Ali Yafie, Acep Zamzam Noor, Ayip Abdullah Abbas, KH. Mu’tashim Billah, Ny. Hj. Hamidah Masduqi Ali, KH. Jazuli Kasmani, dan lain-lain; dan bahkan, dia juga menjadi salah satu juru bicara di konferensi pers di arena Mubes Warga NU di Cirebon.

KIPRAH
Keikut sertaannya di dalam gerakan-gerakan kaum muda NU, seperti di dalam Mubes Warga NU, menunjukkan bukan hanya kualitas pribadinya sebagai sosok yang dapat membagi waktu di tengah kesibukannya sebagai dosen dan aktivitas lainnya, tetapi juga menunjukkan integritasnya sebagai cendekiawan di dalam melihat-melihat persoalan sosial masyarakat.

Oleh karena itu, Abd. Ala juga gigih membela prinsip penting dalam melihat hubungan antarislam, dalam soal Syiah, ketika sebagain muslim di Madura mengusir orang-orang Syiah; dan sebagian muslim secara nasional ingin mengeluarkan Syiah dari Islam. Abd. Ala menyebutkan dengan terang: “Masalah Syiah itu sudah clear, syiah bagian dari Islam” (tempo.co, 27 Agustus 2012). Dalam pandangan Abd. A’la, sebagaimana dikutip tempo.co. (27 Agustus 2012), banyak aliran di dalam Syiah, memang ada yang bermasalah, yaitu aliran Ghulat, tetapi di Indonesia Syiahnya bukan aliran Ghulat (aliran ekstrem).

Setelah Gus Dur lengser, bersama beberapa cendekiawan dan budayawan, seperti Kang Thohari, dan beberapa tokoh lain, Abd. A’la juga datang ke Ciganjur menemui Gus Dur. Dalam pertemuan itu, menurut Abd. A’la, sebagaimana pengakuannya kepada saya (NKR): “Saya melihat komitmen beliau (Gus Dur) yang besar untuk keutuhan NKRI dan sekaligus keprihatinan beliau terhadap oknum yang hanya mementingkan pribadi golongan.” Ketika Gus Dur sering ke Guluk-Guluk, Abd. A’la juga sering ikut menyambut, bersalaman, dan mendengarkan perkataan-perkataannya.

Sebagai tokoh yang hidup di dalam air sungai santri pesantren, bergulat dengan berbagai tumpukan kitab dan buku-buku modern, juga kadang-kadang harus melihat ketegangan sosial di tengah masyarakat dan di dalam NU, Abd. A’la tidak kehilangan rasa syukur untuk tetap mengapresiasi musik dan keindahan. Abd. A’la juga menyukai musik, dan terutama musik slow rock dan evergreen pop, sambil tetap mutholaah, dan ngajar ngaji di pesantren.

Dalam menjalani berbagi kiprah pengabdian dan menjadi pendidik, Abd. A’la tetap sebagai santri yang menjalankan amal-amal wirid dari gurunya, yang diterima dari ayahnya, KH. Ah. Basyir dan juga beberapa gurunya yang lain.

KARIER
Karir Prof. Dr. KH. Abd. A’la di IAIN Sunan Ampel terus meningkat, berturut-turut pernah menjadi :

Asisten Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel (2005-2009)

Pembantu Rektor Bidang Akademik IAIN Sunan Ampel (2009-2012);

Rektor IAIN Sunan Ampel (2012-2014);

Rektor UIN Sunan Ampel (setelah IAIN berubah menjadi UIN, periode 2014-30 April 2018);

Guru Besar pada Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya (2009-sekarang).

Pejabat di IAIN dan UIN Sunan Ampel, Abd. A’la, mengikuti berbagai kursus/pelatihan, di antaranya:

Tulisan ini diambil dari berbagai sumber utamanya laduni.id dan suaraindonesia-news.com


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini