Sejarah Kerajaan Bali (Bagian 1)

0
2017
Sejarah Kerajaan Bali
Sejarah Kerajaan Bali.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Kerajaan Bali adalah istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu.

Kemungkinan, awalnya Kerajaan Bali bernama Kerajaan Bedahulu yang kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Majapahit. Setelah Kerajaan Majapahit runtuh, Kerajaan Gelgel mengambil alih kerajaan dan dilanjutkan dengan kerajaan Klungkung.

Sayangnya, pada masa pemerintahan Kerajaan Klungkung banyak terjadi perpecahan yang mengakibatkan terpecahnya Kerajaan Klungkung menjadi delapan buah kerajaan kecil yang disebut dengan swapraja.

Tidak banyak yang menetahui tentang sejarah Kerajaan Bali, tapi yang pasti kerajaan Bedahulu atau Bedulu adalah kerajaan pertama yang ada di wilayah Bali.

Kerajaan Bali sendiri berdiri sekitar abad ke 8-14 dan letak kerajaan Bali ini berpusat di Pejeng atau Bedulu, Gianyar.

Banyak yang menyebutkan bahwa kerajaan Bali dipimpin oleh salah suatu kelompok bangsawan dengan pimpinannya yang dikenal dengan nama dinasti Warmadewa dengan Sri Kesari Warmadewa.

Sejarah Singkat Kerajaan Bali

Berdasarkan prasasti yang ditemukan, Kerajaan Bali dipastikan didirikan oleh raja-raja dari Dinasti Warmadewa. Raja terkenal Kerajaan Bali adalah Dharmodhayana Warmadewa yang memerintah sejak tahun 989. Ia memimpin kerajaan bersama permaisurinya yang bernama Mahendradatha atau Gunapriyadharmaptani hingga tahun 1001.

Permaisuri wafat dan diabadikan dalam sebuah candi yang terletak di Desa Berusan tepatnya ada disebelah tenggara Bedulu. Arca tersebut merupakan perwujudan dari Durga yang ditemukan di daerah Kutri (Gianyar). Sedangkan, raja Dharmodhayana Warmadewa tetap memrintah kerajaan hingga tahun 1011 Masehi lalu wafat serta dicandikan di Banu Wka yang hingga saat ini keberadaannya belum diketahui.

Dalam perkawinan antara Dharmodhayana dan Mahendradatha lahir tiga orang putra bernama Airlangga, lalu menikah dengan seorang putri Dharmawangsa dan menjadi raja di Pulau Jawa, Marakata dan Anak Wungsu.

Setelah ayahnya wafat, tahta kerajaan diturunkan pada seorang pangeran bernama Marakata yang memiliki gelar Dharmodhyana Wangsawardhana Marakata Panjakasthana Uttunggadewa yang memerintah pada tahun 1011-1022.

Karena perhatiannya yang sangat besar terhadap rakyatnya, kehadiran beliau sangat dihormati di daerah kerajaan bahkan karena sikapnya , ia sering kali dianggap sebagai penjelmaan dari kebenaran hukum.

Sebagai bukti perhatiannya pada rakyat kerajaan, beliau membangun sebuah tempat pertapaan (prasada) di Gunung Kawi yang letaknya berdekatan dengan Istana Tampak Siring. Bangunan tersebut memiliki ciri yang unik yaitu pahatan yang berada di batu gunung berbentuk menyerupai candi serta bagian dasarnya terdapat gua pertapaan.

Sampai saat ini, bangunan pertapaan tersebut masih dilestarikan dengan baik dan menjadi salah satu objek wisata di Bali yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Setelah Marakata wafat, tahta kerajaan diturunkan kepada putranya yang bernama Anak Wungsu yang memerintah pada tahun 1049-1077.

Saat masa pemerinatahan Anak Wungsu, ia meninggalkan 28 buah prasasti yang merupakan prasasti terbanyak daripada raja-raja yang sempat memerintah sebelumnya. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan lalu ia wafat dan didharmakan di daerah Gunung Kawi. Pada tahun 1430, Kerajaan Bali yang saat itu dipimpin oleh Raja Dalem Bedaulu, kerajaan jatuh ke tangan Gajah Mada dari Majapahit.

Sumber Sejarah Kerajaan Bali

Sumber sejarah kerajaan Bali dari beberapa berita Jawa dan juga prasasti di Bali, seperti:

Prasasti Sanur. Dalam prasasti ini menunjukkan adanya kekuasaan raja-raja dari Wangsa atau Dinasti Warmadewa.

Prasasti Calcuta, India (1042). Dalam prasasti ini dikemukakan tentang asal-usul Raja Airlangga yang merupakan keturunan raja-raja Bali,

Dinasti Warmadewa. Raja Airlangga lahir dari hasil perkawinan Raja Udayana dari Kerajaan Bali dengan Mahendradata (putri Kerajaan Medang Kamulan adik raja Dharmawangsa)

Komplek Candi Gunung Kawi (Tampak Siring). Ini merupakan makam dari raja-raja Bali. Komplek candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu.

Berita yang cukup mengenai Pulau Bali adalah prasasti yang berangka 881 M. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Bali Kuno. Ada juga prasasti yang tertulis dalam bahasa Sanskerta. Pada abad ke- 11 sudah ada berita dari Cina yang menjelaskan tentang tanah Po-Li (Bali).

Berita Cina tersebut menyebutkan bahwa adat istiadat penduduk di tanah Po-Li hampir sama dengan masyarakat Ho-ling (Kalingga). Penduduknya menulis di atas daun lontar. Jika orang meninggal, mulutnya dimasukan emas lalu dibakar. Adat semacam ini masih berlangsung di Bali. Adat tersebut dinamakan “Ngaben”. Salah satu keluarga terkenal yang memerintah Bali adalah Wangsa Warmadewa.

Hal tersebut bisa diketahui dari Prasasti Blanjong berangka 914 ditemukan di Desa Blanjong, dekat Sanur, Denpasar, Bali. Isi tulisannya mengenai Nagari (India) dan sebagian berbahasa Sanskerta. Diberitakan bahwa raja yang memerintah adalah Raja Khesari Warmadewa. Pada tahun 915, Khesari Warmadewa digantikan Ugrasena.(*)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini