Sejarah Kerajaan Bali (Bagian 2)

0
749
Sejarah Kerajaan Bali
Sejarah Kerajaan Bali.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Raja Kerajaan Bali, Berikut beberapa silsilah raja kerajaan bali, diantaranya:

Raja Dinasti Warmadewa

Berdasarkan prasasti Blanjong yang berangka tahun 914, Raja Bali pertama adalah Khesari Warmadewa. Istananya berada di Singhadwalawa. Raja berikutnya adalah Sang Ratu Sri Ugrasena (915-942) dan istananya berada di Singhamandawa. Masa pemerintahannya bersamaan dengan masa Mpu Sindok di Jawa Timur. Sang Ratu Sri Ugrasena meninggalkan sembilan prasasti, salah satunya prasasti Bobahan I. Setelah wafat, Sang Ratu Sri Ugrasena dicandikan di Air Mandatu dan digantikan oleh raja-raja yang memakai gelar Warmadewa (dinasti Warmadewa).

Raja pertama dinasti Warmadewa adalah Aji Tabanendra Warmadewa (955-967 M) bersama istrinya, Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Dharmadewi. Sebagai penggantinya adalah Jayasingha Warmadewa. Raja Jayasingha Warmadewa adalah raja yang membuat telaga (pemandian) dari sumber suci di desa Manukraya. Pemandian itu disebut Tirta Empul, terletak di dekat Tampaksiring. Raja Jayasingha Warmadewa memerintah hingga tahun 975 M.

Raja Jayasingha digantikan oleh Janasadhu Warmadewa. Ia memerintah tahun 975-983 M. Tidak ada keterangan lain yang bisa diperoleh dari raja ini, kecuali tentang anugerah raja kepada desa Jalah. Pada tahun 983 M, muncul seorang raja wanita bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (983-989 M).

Sri Wijaya Mahadewi kemudian digantikan oleh Dharma Udayana Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya, Gunapriya Dharmapatni atau lebih dikenal dengan nama Mahendradatta, putri dari Raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur. Sebelum naik takhta, diperkirakan Udayana berada di Jawa Timur karena namanya ada dalam prasasti Jalatunda.

Pada tahun 1001 M, Gunapriya meninggal dan dicandikan di Burwan. Udayana meneruskan pemerintahannya sendirian hingga ia mangkat pada tahun 1011 M lalu ia dicandikan di Banuwka. Dalam prasasti Air Hwang (1011) hanya menyebutkan nama Udayana dan dalam prasasti Ujung (Hyang) disebutkan bahwa setelah wafat, Udayana dikenal sebagai Batara Lumah di Banuwka.

Raja Udayana memiliki tiga orang putra, yaitu Airlangga, Marakata dan Anak Wungsu. Airlangga tidak pernah memerintah di Bali karena menjadi menantu Dharmawangsa di Jawa Timur. Oleh sebab itu, yang menggantikan Raja Udayana dan Gunapriya adalah Marakata.

Setelah naik tahta, Marakata mendapat gelar Dharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana Uttunggadewa. Marakata memerintah dari tahun 1011-1022. Masa pemerintahan Marakata bersamaan dengan Airlangga. Karena adanya persamaan unsur nama dan masa pemerintahannya, seorang ahli sejarah bernama Stuterheim, berpendapat bahwa Marakata sebenarnya adalah Airlangga. Terlebih jika dilihat dari kepribadian dan cara memimpin yang memiliki kesamaan. Oleh rakyatnya, Marakata dipandang sebagai sumber kebenaran hukum yang selalu dilindungi dan memerhatikan rakyat. Ia sangat disegani dan ditaati oleh rakyatnya. Persamaan lain antara Marakata dengan Airlangga adalah Marakata juga membangun sebuah presada atau candi di Gunung Kawi di daerah Tampaksiring, Bali.

Setelah pemerintahannya berakhir, Marakata digantikan oleh Raja Anak Wungsu yang bergelar Paduka Haji Anak Wungsu Nira Kalih Bhatari Lumah i Burwan Bhatara Lumah i Banu Wka. Anak Wungsu adalah Raja Bali Kuno yang paling banyak meninggalkan prasasti (lebih dari 28 prasasti) yang tersebar di Bali Utara, Bali Tengah dan Bali Selatan. Anak Wungsu memerintah selama 28 tahun yaitu dari tahun 1049-1077. Ia dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan. Ia wafat pada tahun 1077 dan dimakamkan di Gunung Kawi, Tampaksiring. Berakhirlah dinasti Warmadewa.

Raja Setelah Dinasti Warmadewa

Setelah pemerintahan dinasti Warmadewa berakhir, Bali diperintah oleh beberapa raja diantaranya yaitu:

Jayasakti

Jayasakti memerintah kerajaan Bali dari tahun 1133-1150 M, satu zaman dengan pemerintahan jayabaya di Kediri. Saat memerintah, Jayasakti dibantu oleh penasehat yang terdiri dari senopati dan pendeta baik agama Hindu dan juga Buddha.

Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab Utara Widhi Balawan dan kitab Rajawacana. Kitab tersebut merupakan eninggalan kebudayaan dari masa pemerintahan Jayasakti yang cukup tinggi. Kitab ini juga dipakai pada masa pemerintahan Ratu Sakalendukirana dan penerusnya. Dari prasasti yang ditemukan, diketahui bahwa pada masa pemerintahan Jayasakti, agama Buddha dan Syiwa berkembang dengan baik. Pada saat itu, aliran Waisnawa juga berkembang. Raja Jayasakti disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu.

Ragajaya

Ragajaya memerintah kerajaan Bali pada tahun 1155 M, tapi kapan berakhirnya masa pemerintahannya tidak diketahui karena tidak ada sumber tertulisnya.

Jayapangus (1177-1181)

Raja jayapangus dianggap sebagai penyelamat rakyat yang terkena malapetaka akibat lalai menjalankan ibadah. Raja ini memerima wahyu dari dewa untuk mengajak rakyat kembali melakukan upacara keagamaan yang sampai saat ini dikenal dan diperingati sebagai upacara Galungan. Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab MAna Wakamandaka.

Ekajalancana

Ekajalancana memerintah kerajaan Bali sekitar tahun 1200-1204 M. Dalam memerintah, Ekajalancana dibantu oleh ibunya yang bernama Sri Maharaja Aryadegjaya.

Sri Asta Asuratna Bumi Banten

Sri Asta Asuratna Bumi Banten diyakini sebagai raja Bali yang terakhir. Setelah itu, Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada dan menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Bali

Masyarakat Bali menitikberatkan kegiatan ekonomi meraka pada sektor pertanian. Hal tersebut didasarkan pada prasasti Bali yang memuat mengenai hal yang berkaitan dengan kehidupan bercocok tanam, seperti istilah sawah, parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga (ladang) dan kasuwakan (irigasi).

Selain bertani, masyarakat Bali juga memiliki kegiatan ekonomi sebagai:

Pande (Pandai atau Pengrajin). Mereka yang memiliki kepandaian untuk menciptakan pelengkap dari materi emas dan perak, menciptakan peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian, dan senjata.

Undagi. Mereka yang memiliki kepandaian memahat, melukis, dan menciptakan bangunan.

Pedagang. Pada masa Bali Kuno, pedagang dibedakan menjadi pedagang pria (wanigrama) dan pedagang perempuan (wanigrami). Mereka sudah melakukan perdagangan antarpulau (Prasasti Banwa Bharu).

Kehidupan Sosial-Budaya Kerajaan Bali

Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali sangat lekat terpengaruh oleh agama Hindu. Agama Hindu yang telah berkembang di Bali sudah bercampur dengan unsur budaya asli. Salah satu contoh yang paling nyata yaitu bahwa dewa tertinggi dalam agama Hindu-Buddha bukan Syiwa, tapi Sang Hyang Widhi yang sama kedudukannya dengan Sang Hyang Wenang di Jawa.

Selain itu, masyarakat Bali juga mengenal dewa setempat, seperti dewa air dan dewa gunung (di Jawa sejajar dengan Grama Desa). Di bawah desa, mereka juga memuja roh nenek moyang dan cikal bakal. Upacara penghormatan leluhur disebut Pitra Yodnya.

Dahulu candi digunakan sebagai tempat suci. Namun sejak berdirinya Kerajaan Gelgel dan Klungkung, penggunaan candi sebagai tempat suci dihapus. Sebagai pengganti fungsi candi dibuatkan kuil berupa kompleks bangunan yang sering disebut pura.

Pada saat upacara, dewa atau roh yang dipuja diturunkan dari surga dan ditempatkan pada kuil untuk diberi sesaji sebagai penghormatan. Upacara tersebut misalnya, diadakan pada hari Kuningan (hari turunnya dewa dan pahlawan), pada hari Galungan (menjelang Tahra dan Saka), dan hari Saraswati (pelindung kesusastraan).

Pura dalam lingkungan kerajaan disebut Pura Dalem dan bentuknya seperti candi Bentar dan dimaksudkan sebagai kuil kematian. Sedangkan untuk keluarga raja dibuatkan pura khusus yang disebut Sanggah atau Merajan.

Di Bali, dewa tidak dipatungkan. Patung-patung di Bali hanya berfungsi sebagai hiasan saja. Adanya patung dewa di Bali diyakini sebagai bukti adanya pengaruh Jawa. Dalam kuil dibuatkan tempat tertentu yang disediakan untuk tempat turunnya dewa atau roh nenek moyang yang telah menjalani prosesi ngaben. Upacara ngaben adalajh budaya pembakaran mayat atau tulang surga.

Pembakaran mayat merupakan suatu kebiasaan di India yang diadaptasi di Bali “ngaben”. Roh yang sudah menjalani upacara ngaben dianggap telah suci. Ida Sang Hyang Widhi sebagai dewa tertinggi tidak dibuatkan pura khusus, tapi pada setiap kuil dibuatkan bangunan suci untuknya berbentuk Padmasana atau Meru beratap dua.

Masyarakat Bali mengenal pembagian golongan atau kasta yang terdiri dari brahmana, ksatria, dan waisya. Ketiga kasta tersebut dikenal dengan Triwangsa. Di luar ketiga golongan tersebut masih ada lagi golongan yang disebut jaba, yaitu anggota masyarakat yang tidak memegang pemerintahan. Setiap golongan memiliki tugas dan kewajiban yang tidak sama dalam bidang keagamaan.

Pada masa pemerintahan Anak Wungsu, dikenal adanya beberapa golongan pekerja khusus seperti pande besi, pande emas, dan pande tembaga. Mereka bertugas membuat alat pertanian, alat rumah tangga, senjata, perhiasan, dan lain sebagainya. Hubungan dengan Jawa sudah ada sejak zaman pemerintahan Udayana dan Gunapriya, dibuktikan dengan adanya prasasti raja Bali yang menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Kehidupan Beragama Kerajaan Bali

Masyarakat Bali banyak terpengaruh oleh kebudayaan India, terutama Hindu. Hingga saat ini, masyarakat Bali masih banyak yang menganut agama Hindu. Akan tetapi, agama Hindu yang mereka anut telah bercampur dengan budaya masyarakat asli Bali sebelum Hindu.

Masyarakat Bali sebelum Hindu adalah kelompok masyarakat yang terikat oleh hubungan keluarga dan memuja roh-roh nenek moyang yang dianggap bisa menolong dan melindungi kehidupan keluarga yang masih hidup. Melalui proses sinkretisme tersebut, lahir agama Hindu Bali yang bernama Hindu Dharma.(*)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini