Menteri Investasi: Jadi Menteri Gajinya 19 Juta, jadi Tidak Bisa ke Mal Kita

0
561
Hadiri Webinar GMKI-GAMKI, Bahlil Lahadalia Kembali Singgung Pemilu 2024
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Menteri Investasi Bahlil Lahadalia buka-bukaan mengenai gaji seorang menteri. Menurut dia, para pembantu presiden digaji tak lebih dari Rp 20 juta per bulan.

“Memang kalian pikir gaji menteri itu berapa? Gaji menteri itu tidak lebih dari Rp 20 juta, gayanya saja yang mantap,” ujar Bahlil dalam acara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia alias Hipmi, Selasa, 25 Januari 2022.

Karena itu, kata Bahlil, jangan berpikir bahwa para pejabat pemerintahan mengantongi duit yang banyak. Ia mengatakan pejabat memang memiliki kewenangan, namun itu pun untuk kesejahteraan rakyat.

Ia pun berseloroh bahwa gaji para deputi bawahannya pun kurang dari Rp 100 juta per bulan. Padahal, kala menjadi komisaris, Bahlil mengaku bisa mendapat gaji minimal Rp 200 juta per bulan.

“Jadi menteri gajinya 19 juta. Jadi tidak bisa lagi ke mal kita. Kalau kita minum kopi di mal kita ditanya ini ambil uang dari mana. Jadi enggak bisa lagi,” ujarnya.

Perbincangan soal gaji bermula kala ia membahas upaya agar pendapatan per kapita Indonesia bisa naik dari saat ini di kisaran US$ 4.000 per kapita, menjadi US$ 12.000 per kapita. Bila target itu tercapai, Indonesia disebut bisa menjadi negara dengan ekonomi nomor tujuh terbesar di dunia.

Bahlil mengatakan salah satu upaya untuk mencapai target pendapatan penduduk Indonesia US$ 12.000 per kapita adalah dengan mengubah pola pikir mahasiswa. Ia menyebut pelajar Indonesia harus diubah pola pikirnya agar mau menjadi pengusaha atau enterpreneur.

Menurut Bahlil, berdasarkan survei kala ia menjabat Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, hanya 3 persen dari mahasiswa yang ingin menjadi pengusaha. Mayoritas atau 83 persen mahasiswa ingin menjadi karyawan dan 14 persen ingin menjadi politikus atau pekerja LSM.

Padahal, ketika ditanya apakah mereka ingin menjadi orang kaya atau tidak, semua ingin menjadi kaya. “Ini antara pilihan mau jadi orang kaya dan instrumen untuk mencapai pilihan itu terjadi kontraproduktif,” ujar Bahlil.

Ia pun mempertanyakan pilihan mahasiswa tersebut. “Saya tidak mengerti rumusan ekonomi apa yang menyebut bahwa menjadi ASN itu akan menjadi kaya. Yang namanya karyawan itu tidak mungkin menjadi kaya. Kecuali Allah berkehendak lain,” kata Bahlil.(Tm)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini