Dakwah Bil Hal Muhammadiyah untuk Perempuan Daerah 3T

0
549
Selalu Gunakan Metode Hisab, Begini Alasan Muhammadiyah
Bendera Muhammadiyah.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Keberdayaan adalah hak semua, maka pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Muhammadiyah melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dilakukan secara inklusif.

Sekretaris MPM PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan menjelaskan bahwa metode dakwah yang dilakukan oleh MPM adalah dakwah bil hal atau dakwah dengan tindakan. Aktivitas pemberdayaan ini merupakan Amanat Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar.

Dalam menentukan sasaran dakwah kaum dhuafa’ – mustadh’afin, MPM mengklasifikasikan mad’u ke dalam dua kategori yaitu berdasarkan mata pencaharian dan komunitas. Komunitas dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan kesusahan dan kewilayahan atau komunitas yang berada di kawasan 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal).

“Jadi Muhammadiyah berperan untuk meningkatkan taraf hidup, meningkatkan kemajuan hidup masyarakat yang berada di kawasan 3T. itu menjadi fokus perhatian dari Muhammadiyah yang dalam hal ini Majelis Pemberdayaan Masyarakat,” ungkapnya pada (27/1).

Secara programatik, MPM terjun langsung ke komunitas kawasan 3T yaitu Komunitas Suku Kokoda di Warmon Sorong, Papua Barat. Selain di Suku Kokoda, MPM juga melakukan pemberdayaan Komunitas Suku Dayak di Berau, Kalimantan Timur (Kaltim).

Suku Kokoda di Sorong yang awalnya tidak menetap, oleh MPM kemudian dilokalisir supaya mendapat hak dan aksesnya sebagai warga Negara. Bachtiar menuturkan, setelah mereka menetap kemudian mendapat haknya sebagai warga Indonesia yang sebelum menetap sama sekali belum mereka dapatkan.

Di lokasi atau desa yang didirikan oleh MPM bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Sorong tersebut, masyarakat mulai sadar untuk melakukan transaksi jual – beli. Kelompok perempuan atau mama-mama yang awalnya tidak paham apa itu transaksi jual – beli, setelah mendapat pengetahuan mereka mulai menjajakan hasil bumi mereka.

“Mama-mama di sana mulai menjual hasil tanaman para suami, seperti kangkung dan sayur-sayur lain. Karena lokasinya jauh dari pasar, mama-mama tersebut menjajakan dagangannya di pinggir jalan-jalan besar di luar kampong,” tutur Bachtiar.

Selain hasil bumi, mama-mama di Kampung Warmon, Kokoda juga didampingi dalam pembuatan kerajinan tangan. Produk yang mereka hasilkan kemudian dijual menjadi buah tangan setiap tamu yang datang ke kampung itu.

Sementara itu, Ahmad Adi Tama Anggota MPM PP Muhammadiyah sekaligus pendamping atau fasilitator Komunitas Suku Dayak di Desa Batu Rajang, Kecamatan Segah Kabupaten Berau, Kaltim menceritakan, selama menjalankan aktivitasnya di pedalaman Kalimantan itu buka hanya memberdayakan kelompok laki-laki saja.

Melainkan pemberdayaan yang dilakukan kepada Suku Dayak Kenya tersebut juga menyasar kelompok perempuan. Pada penguatan ekonomi, MPM di Desa Batu Rajang, Kabupaten Berau bersama masyarakat lokal mendirikan Koperasi yang diberi nama “Ilu Mudip Mading” yang merupakan bahasa Dayak Kenya, yang artinya “Hidup Kembali”.

“Pembentukan koperasi bagi warga lokal sebagai usaha bersama untuk menambah nilai lebih bagi produk yang mereka miliki, sebab jika dijual belikan tiap individu,” ungkapnya.

Adi menjelaskan, perempuan-perempuan muda di Suku Dayak Kenya tersebut diberdayakan, dibekali dengan kemampuan laporan keuangan dan manajemen koperasi. Perempuan-perempuan muda asal Desa Batu Rajang tersebut rata-rata lulusan SMA atau SMP. Menurut Adi, pemberdayaan juga harus berperspektif gender, karena potensi berdaya bukan ditentukan atas jenis kelamin.

Mengingat tanah Kalimantan sebagai daerah yang subur dan kaya akan tanaman obat, maka MPM juga fokus pada kearifan lokal tersebut. Meski ada pembaruan yang diintervensikan ke Komunitas Suku Dayak Kenya, namun Muhammadiyah tidak mencerabut mereka dari akar kultural mereka.(Md)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini