Jalan Terjal Dakwah Muhammadiyah Buya Hamka di Malaysia, Kini Berbuah Manis

0
2762
Buya Hamka Jelaskan Larangan Bersumpah dengan Menyebut Nama Allah
Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA).
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Meski sempat mengalami kesulitan di masa-masa awal merintis gerakan, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia akhirnya mewujud sebagai salah satu cabang Muhammadiyah terbesar di luar negeri.

Pada siaran program DiasporaMu di kanal Youtube TvMu, Rabu (2/2) Ketua PCIM Malaysia, Ali Imran mengungkapkan organisasi yang berdiri sejak 2007 ini kini telah memiliki 8 ranting yang disebut sebagai Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah atau PRIM.

“Tapi ranting-ranting ini masih di dua negeri yaitu di Kuala Lumpur dan Selangor,” kata Ali Imran. Jumlah warga PCIM Malaysia dia perkirakan sebanyak dua ribu orang dengan anggota aktif sebanyak 500 orang. Satu persen di antara mereka menurutnya adalah warga negara Malaysia.

Untuk menggaet lebih banyak anggota dari warga lokal, PCIM Malaysia saat ini menurutnya tengah menggarap pembuatan badan hukum perseroan yang menjadi syarat agar warga asli Malaysia yang ingin bergabung dengan Muhammadiyah dapat terjadi.

Menurut Ali, PCIM Malaysia kini berhasil mengurai satu persatu hambatan yang ditemukan dalam perjalanan organisasi. Pada pendirian Universitas Muhammadiyah Malaysia misalnya, Ali menyebut Muhammadiyah mengalami beberapa hambatan.

Di antaranya, hambatan itu adalah banyak warga Malaysia yang mengira Muhammadiyah sebagai Ahmadiyah, yakni aliran yang diharamkan oleh Majelis Fatwa Malaysia.

“Jadi kita harus berusaha menjelaskan bahwa beda antara Muhammadiyah dengan Ahmadiyah. Itu pertama,” ungkapnya.

Hambatan kedua, berasal dari identitas keagamaan Malaysia, yakni Ahlu Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) dengan teologi Imam Abul-Hasan Al-Asy’ari dan fikih Imam Syafi’i. Sementara itu Muhammadiyah meskipun sama-sama Aswaja tidak memiliki patokan khusus pada satu imam tertentu.

Ali Imran lantas bersyukur karena Muhammadiyah memiliki nama besar Buya Hamka dan berbagai karya sastranya yang dianggap lekat dengan bangsa Malaysia sehingga gerakan dakwah Muhammadiyah secara perlahan dapat diterima.

“Jadi dengan membawa nama Buya Hamka mereka bisa menerima Muhammadiyah dengan mengatakan bahwa Buya Hamka adalah tokohnya Muhammadiyah. Atau kita mengedepankan sisi-sisi lain dari Muhammadiyah, baik dari sisi pendidikannya, program kesehatannya, produk di bidang sosialnya, menceritakan bagimana Muhammadiyah memiliki sekian universitas, sekian rumah sakit dan sebagainya. Ini mungkin lebih mudah diterima oleh masyarakat lokal,” ungkap Ali. (Md)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini