Survei Terbaru, Puan Maharani Urutan 12 Selisih 19,9 % dari Ganjar Pranowo, Anies Baswedan Posisi 3

0
672
SURVEI Terbaru, Puan Maharani Urutan 12 Selisih 19,9 % dari Ganjar Pranowo, Anies Baswedan Posisi 3
Survei terbaru Litbang Kompas, elektabilitas Ketua DPR Maharani berada di urutan ke-12 dan terpaut hingga 19,9 persen dibandingkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Elektabilitas Ketua DPR Puan Maharani maharani makin tertinggal dibandingkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Selisih dua kader dan sekaligus pengurus PDI Perjuangan ini hampir 20 persen atau tepatnya 19,9 persen.

Survei terkini yang dilakukan Litbang Kompas 17-30 Januari 2022 menunjukkan, elektabilitas Ganjar Pranowo di posisi 20,5 persen, sedangkan elektabilitas Puan Maharani hanya 0,6 persen.

Puan Maharani disebut-sebut sebagai salah satu bakal calon PDI Perjuangan untuk maju dalam Pilpres 2024.

Tiga Nama Teratas

Sementara itu, hasil Survei Kepemimpinan Nasional yang diselenggarakan Litbang Kompas menunjukkan, pilihan publik terhadap sosok calon presiden kian mengerucut ke tiga nama.

Tiga nama tersebut ialah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Hasil survei yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 17-30 Januari 2022 menunjukkan, jika pemilu diselenggarakan pada saat survei dilakukan, Prabowo akan dipilih 26,5 persen masyarakat.

Selanjutnya disusul Ganjar (20,5 persen), dan Anies (14,2 persen).

Elektabilitas tiga tokoh tersebut tercatat meningkat dibandingkan hasil survei serupa yang digelar pada 2021.

Prabowo misalnya, tercatat naik dari 16,4 persen pada April 2021 menjadi 26,5 persen pada Januari 2022, meski sempat turun jadi 13,9 persen pada Oktober 2021.

Namun, elektabilitas Prabowo saat ini masih tertinggal jauh dari perolehan suaranya sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2019 lalu sebesar 44,5 persen.

Sementara itu, elektabilitas Ganjar juga merangkak naik, mulai dari 7,3 persen pada April 2021, 13,9 persen pada Oktober 2021, dan 20,5 persen pada Januari 2021.

Adapun elektabilitas Anies yang sebelumnya cenderung stagnan kini menunjukkan pergerakan.

Pada April 2021, elektabilitasnya 10 persen dan pada Oktober 2021 sebesar 9,6 persen, saat ini telah mencapai 14,2 persen.

Tingginya elektabilitas tiga tokoh tersebut menciptakan jarak yang cukup jauh dengan nama-nama lainnya yang turut masuk bursa pilpres.

Berdasarkan survei ini, duduk di peringkat keempat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dengan elektabilitas sebesar 4,9 persen, terpaut hampir 10 persen dengan Anies yang ada di urutan ketiga.

Di bawah Sandiaga, berturut-turut terdapat Agus Harimurti Yudhouono (3,7 persen), Basuki Tjahaja Purnama (2,9 persen), Ridwan Kamil (2,6 persen), Tri Rismaharini (2,6 persen), Andika Perkasa (2 persen), Gatot Nurmantyo (1,4 persen), Erick Thohir (1,1 persen), Mahfud MD (1,1 persen), dan Puan Maharani (0,6 persen).

Sementara itu, ada 4,1 persen responden yang menjawab tokoh lainnya dan 11,8 persen responden menjawab tidak ada, tidak tahu, atau rahasia.

Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden pada 17-30 Januari 2022 lalu.

Para responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi. Dengan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error penelitian ± 2,8 persen.

Puan Curhat

Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) mengkritik Ketua DPR Puan Maharani yang curhat ada salah satu gubernur tak menyambutnya saat kunjungan kerja.

Menurut peneliti Formappi Lucius Karus, curhatan Puan tersebut terkesan sentimentil dan hanya akan memantik kegaduhan.

“Karena di samping informasinya serba enggak jelas, juga karena bobot informasinya sendiri tidak cukup penting untuk dijadikan isu publik.”

“Sebagai Ketua DPR, Puan mestinya lebih banyak berbicara tentang persoalan publik,” kata Lucius lewat pesan tertulis, Jumat (11/2/2022).

Puan, kata Lucius, seharusnya menyuarakan suara rakyat kepada publik, ketimbang urusan ketersinggungannya sendiri.

Lucius juga menilai Puan tak jelas menyampaikan informasi soal status kunjungan kerjanya, apakah sebagai pimpinan partai atau sebagai Ketua DPR. “Kalau kunjungan kerja sebagai Ketua DPR, saya kira sih seharusnya memang diterima gubernur atau pejabat yang mewakilinya.”

“Tetapi kalau Puan datang sebagai pimpinan partai, kan enggak harus disambut gubernur kan?” Ucap Lucius.

Menurutnya, urusan internal partai adalah urusan partai masing-masing, karena bisa saja disambut oleh Ketua DPD partai di provinsi terkait.

“Begitu juga kalau kunjungannya sebagai wakil rakyat ke dapil, ya enggak ada relevansinya disambut oleh kepala daerah.”

“Jadi curhatan Puan itu enggak jelas. Cuma mau terlihat seolah-olah jadi korban dari arogansi gubernur tertentu saja,” ulas Lucius.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Puan Maharani kesal karena merasa tidak dihargai oleh seorang gubernur.

Momen itu terjadi saat Puan Maharani turun ke daerah alias blusukan.

Di tengah kunjungannya ke suatu daerah, Puan Maharani merasa dirinya tidak mendapat sambutan baik dari gubernur bersangkutan.

Ucapan kekecewaan pun disampaikan Puan Maharani ketika berpidato. “Kenapa saya datang ke Sulawesi Utara itu tiga pilar bisa jalan, jemput saya, ngurusin saya, secara positif ya.”

“Kenapa saya punya gubernur kok enggak bisa kaya begitu, justru yang ngurusin saya gubernur lain,” ujar Puan saat memberikan arahan dalam rapat koordinasi tiga pilar PDIP di Sulut, di Luwansa Hotel, Manado, Rabu (9/2/2022).

Dalam hatinya, Puan bertanya-tanya kenapa bisa ada gubernur seperti itu. Padahal, kata Puan, ia merupakan Ketua DPR ke-23 sejak 1945. “Kenapa gitu loh? Ini kan jadi pertanyaan.”

“Kok bisa gitu, saya ini Ketua DPR ke-23 dari tahun 45, setelah ada menjabat DPR-DPR, itu saya Ketua DPR ke-23.”

“Baru pertama kali dari PDI Perjuangan (Ketua DPR), walaupun PDI Perjuangan udah pernah menang,” bebernya.

Dia mengaku heran ada kepala daerah yang tidak bangga saat dirinya berkunjung ke daerah. “Ke daerah ketemu kepala daerah, kepala daerahnya tidak bangga ya kepada saya, kayak males-malesan.”

“Bikin kesel kan?” Tutur Puan di hadapan kader PDIP Sulut, baik eksekutif, legislatif, dan pengurus struktur partai.(Wk)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini