Akar Perpecahan Jokowi dan PDIP, Fahri Hamzah: Presiden Merasa Lebih Terbantu dari Pengusaha Ketimbang Partai

0
699
Akar Perpecahan Jokowi dan PDIP, Fahri Hamzah: Presiden Merasa Lebih Terbantu dari Pengusaha Ketimbang Partai
Presiden Jokowi bersama pengurus Partai Gelora yang dikomandoi Anis Matta dan Fahri Hamzah.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – PDIP sebagai partai pengusung Jokowi dengan tegas menolak wacana penundaan Pemilu 2024 dan Perpanjangan masa jabatan Presiden menjadi 3 Periode.

Hal itu pun berbeda dengan sikap anak buah Jokowi yang secara terang-terangan maupun malu-malu menggaungkan wacana tersebut.

Apa yang terjadi antara PDIP dan Jokowi kemudian disorot oleh banyak pihak sebagai bentuk ‘perpecahan’ hubungan.

Melihat hal itu, Politikus Partai Gelora, Fahri Hamzah membongkar fakta terkait retaknya hubungan Jokowi dengan partai pengusungnya tersebut.

“Saya bilang yang menjadi akar dari perpecahan sekarang ini, Pak Jokowi lebih banyak merasa terbantu oleh Pengusaha daripada partai politiknya sendiri,” katanya, Kamis (14/4/2022).

“Nah inilah yang menyebabkan kemudian partainya merasa ya kalau kita secara frontal ya, karena kita kan tahu di partai mana banyak pengusaha dan pemimpin partai mana Berasal dari alumni partai mana, gitu. Itu musuh bebuyutannya PDIP,” tutur Fahri Hamzah menambahkan.

Dia mengatakan bahwa PDIP merasa sensi melihat kadernya justru lebih dekat dengan pihak lain daripada partainya sendiri.

“Jadi PDIP juga sensi juga ngelihat kok kader kita ini kan tiba-tiba ke sebelah sana lebih banyak, karena bekerja dengan pengusaha tadi,” ujar Fahri Hamzah.

Oleh karena itu, orang-orang melihat Jokowi tampak secara kasar memotong hubungan dengan PDIP.

“Lalu dilihat oleh orang, bukan kita yang ngomong ya, tapi dilihat secara oleh orang agak secara kasar itu memotongnya sekarang ini,” ucap Fahri Hamzah.

Akan tetapi, apa yang terjadi antara Jokowi dan PDIP saat ini dinilai sebagai konsekuensi dari masa lalu.

“Tapi itu adalah konsekuensi dari masa lalu, tidak ada yang tiba hari ini tanpa penjelasan dari masa lalu,” tutur Fahri Hamzah.

“Ini semua adalah akibat dari kita enggak mengatur sistemnya secara baik, termasuk juga mengatur soal koalisi dan sebagainya, seolah-olah dalam presidensialisme ada koalisi,” ujarnya menambahkan.

Fahri Hamzah menekankan bahwa PDIP seharusnya tidak boleh merasa bahwa Jokowi adalah presiden milik partainya.

Pasalnya, ada partai lain yang merasa lebih dekat dengan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

“Begitu Pak Jokowi jadi presiden, PDIP gak bisa merasa itu adalah presidennya karena ada partai lain yang merasa di partainya itu lebih dekat dengan Pak Jokowi,” ucap Fahri Hamzah.

“Bahkan ada partai mengatakan ‘kami enggak punya calon, selama Pak Jokowi jadi presiden maka kami nggak punya calon’ katanya. Ada partai yang lebih dalam mungkin nawarkan kepada Jokowi jadi ketua umum,” katanya menambahkan.

Apa yang dialami PDIP saat ini pun dinilai sebagai sistem yang rusak karena adanya ‘koalisi’ antarpartai.

“Terus bagaimana nasib PDIP sebagai partai asal? ini adalah broken sistem karena dari awal nggak ada yang begitu, ini semua ilusi,” ujar Fahri Hamzah.

“Dalam presidensialisme tidak ada yang namanya koalisi, kita tidak harus ngumpul seharusnya. Makanya harusnya masing-masing partai punya calon, itu yang saya usulkan, di putaran pertama semua yang merasa maju, sanggup, maju, nggak perlu ada threshold harusnya. Sehingga nanti nggak boleh ada yang mengatakan ‘ini kader saya loh’ kata partai,” tuturnya menambahkan, dikutip dari kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored, Jumat, 15 April 2022.(Tm)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini