Asal-usul Mudik, Ajang Silaturahmi Hingga Menggerakkan Perekonomian Warga Pedesaan

0
867
Asal-usul Mudik, Ajang Silaturahmi Hingga Menggerakkan Perekonomian Warga Pedesaan
Ilustrasi Mudik Lebaran.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Mudik lebaran sudah menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu masyarakat. Tak ayal, dibolehkannya aktivitas mudik tahun ini setelah dua tahun dilarang akibat pandemi, disambut antusias. Hampir 80 juta orang diproyeksikan melakukan perjalanan mudik lebaran tahun ini. Bagaimana tidak, di Lebaran tahun ini, mudik kembali diperbolehkan.

Tahun ini akan jadi tahun pertama dibolehkannya mudik di tengah pandemi. Pada dua tahun sebelumnya, pemerintah melarang mudik.

Mudik memang sudah jadi tradisi masyarakat Indonesia jelang Lebaran. Bahkan, kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama.

Selain menjadi ajang silaturahmi, mudik juga dinilai berdampak baik bagi perputaran roda ekonomi di daerah ataupun dikampung-kampung sebagai tujuan pulang kampung, serta perputaran roda ekonomi secara nasional. Tradisi mudik juga berpengaruh positif terhadap pembangunan infrastruktur.

Aktivitas mudik mengharuskan pemerintah untuk turut memasilitasi dengan cara memperbaiki hingga menambah infrastruktur yang ada seperti membangun jalan darat, rel kereta api, jembatan, bandar udara, hingga pelabuhan laut. Lantas, bagaimana awal mula terciptanya tradisi mudik? Yuk kita cari tahu bersama.

Sejarah Mudik

Dikutip dari berbagai sumber, istilah mudik itu sendiri konon mulai berkembang pada tahun 1960-an, saat pertumbuhan penduduk di Jakarta terus meningkat akibat perantau yang datang berbondong-bondong karena fokus pembangunan ada di Jakarta.

Para perantau yang datang pun beragam, sebagian merupakan orang-orang terdidik yang mendapatkan fasilitas yang baik di kampung halaman, dan sebagian merupakan para pekerja kasar.

Setelah beberapa tahun tinggal, para pendatang itu rindu pada kampung halaman mereka. Berangkat dari situ, muncul fenomena pulang ke kampung halaman secara massal dari para pekerja di kota kota besar.

Tingginya antusiasme masyarakat, membuat pemerintah memberi perhatian serius. Jalur-jalur kereta api dari masa kolonial kembali dihidupkan di seluruh wilayah untuk memudahkan warga pulang ke kampung halaman.

Dalam perkembangannya, mudik juga dilakukan dengan moda transportasi bus, kapal, pesawat, bahkan mulai tahun 1980-an orang banyak mudik menggunakan kendaraan pribadi.

Istilah Mudik

Dulunya, masyarakat umumnya menggunakan istilah pulang kampung, bersilaturahmi dengan keluarga besar hingga halal bi halal dengan keluarga di kampung.

Istilah mudik ini baru populer sekitar 1980-an. Kata ini menjadi sebutan untuk perantau yang pulang ke kampung halamannya.

Namun, jauh sebelum itu, rupanya tradisi mudik sudah dilakukan sejak zaman kerajaan Majapahit dan Mataram Islam.

Wilayah kerajaan yang luas membuat pejabat ditugaskan di beberapa titik wilayah kekuasaan. Kemudian, pada waktu tertentu para pejabat akan pulang untuk menghadap raja sekaligus mengunjungi keluarganya.

Hal itu dinilai sebagai asal-usul lahirnya fenomena mudik lebaran. Istilah mudik sendiri disebut-sebut berasal dari bahasa Jawa “mulih dhisik” yang berarti pulang dulu.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa istilah mudik berasal dari bahasa Betawi “menuju udik” yang berarti menuju kampung.(Tm)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini