Ciptakan Agen Perubahan Perilaku Toleran, Nasyiatul Aisyiyah Gelar Penyusunan Modul Eco Bhinneka

0
372
Ciptakan Agen Perubahan Perilaku Toleran, Nasyiatul Aisyiyah Gelar Penyusunan Modul Eco Bhinneka
PP NA menyelenggarakan kajian tematik tahap awal dalam penyusunan Modul ToT Eco Bhinneka Nasyiatul Aisyiyah, secara daring, Minggu (23/4/2022).
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PP NA) menyelenggarakan kajian tematik tahap awal dalam penyusunan Modul ToT (Training of Trainer) Eco Bhinneka Nasyiatul Aisyiyah, secara daring, Minggu (23/4/2022).

Selain dari PPNA, peserta yang berpartisipasi berasal dari kader Nasyiatul Aisyiyah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta Banyuwangi dan Surakarta. Hadir pula Angkatan muda Muhammadiyah lainnya seperti Pelajar Muhammadiyah, Mahasiswa Muhammadiyah, dan Pemuda Muhammadiyah.

Sedangkan peserta dari lintas iman ada perwakilan dari umat Hindu, Protestan, dan Katolik. Turut hadir pula Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Pengurus Perkumpulan Disabilitas Indonesia (PPDI) juga hadir dan berkontribusi berbagi ilmu dalam forum. Acara terselenggara atas kerja sama antara JISRA Muhammadiyah dan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah.

Eco-Bhinneka merupakan gagasan yang memadukan tujuan untuk mewujudkan toleransi dengan upaya pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Kegiatan-kegiatan Eco Bhinneka nanti diharapkan dapat menjadi solusi atas berbagai konflik intoleransi dan juga krisis kepedulian terhadap lingkungan di negeri ini.

PP Nasyiatul Aisyiyah memandang perlu untuk menyusun sebuah modul sebagai panduan bagi pendamping atau fasilitator yang kelak menjadi agen perubahan dalam membentuk atau merawat kehidupan bermasyarakat yang toleran dengan pendekatan kelestarian lingkungan. Hal ini sebagaimana tagline Eco Bhinneka yakni Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan.

Profesor Najib, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora, BRIN, menyebutkan bahwa modal kebhinekaan ada pada bahasa, etnis, suku, dan sebagainya.

“Sedangkan modal keagamaan ada enam agama di Indonesia, untuk umat Islam sendiri terdapat dalam dua organisasi masyarakat yang besar yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama,”katanya.

Untuk modal toleransi, Indonesia memiliki sejarah kuat tentang toleransi agama dan hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan. Tiga modal sosial itulah yang akan menguatkan bangsa Indonesia.

Kegiatan yang digelar selama lima jam tersebut memfokuskan pada materi-materi yang menunjang program Eco Bhinneka, antara lain materi kebhinekaan/keberagaman, kelestarian lingkungan hidup, dan persoalan stunting dari analisis GEDSI (Gender, Equality, Disabilitas, and Social Inclussion).

Hadir memberikan materi antara lain Profesor Ahmad Najib Burhani, Hening Parlan, Khotimun Sutanti, dan Nurlia Dian Paramita.

Sementara Hening Parlan menjelaskan konsep teologi lingkungan sebagai upaya penyelamatan lingkungan dilakukan dengan pendekatan nilai-nilai agama.

“Islam memandang lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari keimanan seseorang,” tutur Hening Parlan, Ketua Divisi Lingkungan Hidup, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah.

Khotimun Sutanti, Ketua Bidang Kemasyarakatan PPNA menjelaskan keterkaitan isu stunting, gender, dan inklusi sosial dengan gerakan Eco Bhinneka. Di dalam Eco Bhinneka menurutnya bisa digali bersama keterkaitan pencegahan stunting dengan lingkungan.

“Dari situ nanti ada jembatan untuk membangun interaksi yang intensif antara kelompok lintas agama. Bergerak bersama mencegah stunting yang kaitannya dengan lingkungan karena sanitasi merupakan faktor yang paling penting dalam pencegahan stunting,” tutur Khotimun.

Dilain pihak, kegiatan ini diapresiasi ketua PHDI Banyuwangi Bapak Suminto, mengatakan bahwa kegiatan ini sangat positif antar umat beragama melalui isu kebhinekaan tanpa melihat latar belakang dan etnis.

“Kegiatan ini sangat berguna dalam menciptakan tanggung jawab bersama terhadap isu-isu lingkungan tanpa melihat latar belakang etnis, agama, budaya, dan sebagainya,” ucap Suminto, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi.(Winda/Tm)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini