Muhammadiyah Siap Gelar Muktamar ke-48 di Solo Jawa Tengah

0
624
Muhammadiyah Siap Gelar Muktamar ke-48 di Solo Jawa Tengah
Gedung Induk Nyai Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta (ilustrasi).
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan siap menggelar Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Solo pada 18-20 November 2022 mendatang. Panitia muktamar siap melaksanakan agenda tersebut baik secara luring, daring, maupun blended atau campuran keduanya.

Ketua Panitia Pemilihan Muktamar ke-48 Muhammadiyah, Dahlan Rais, menyampaikan hal itu dalam Muktamar Talk yang digelar oleh Panitia Pusat Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Gedung Siti Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat (22/4/2022) dengan tema Muktamar dan Kaderisasi Kepemimpinan.

“Insya Allah panitia pemilihan siap untuk melaksanakan, apakah itu secara murni luring, atau online daring, ataupun blended yang merupakan campuran antara keduanya, telah disiapkan dengan baik,” kata Dahlan Rais, seperti dalam rilisnya.

Panitia Pusat Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah bahkan sudah mempersiapkan secara teknis jika nanti muktamar dilaksanakan secara full offline. “Offline pun kita juga akan memanfaatkan IT. Apa pun yang dipilih, kami telah mencoba sejumlah alternatif yang itu kita sudah siapkan semuanya,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Solo tertunda selama dua tahun akibat pandemi Covid-19 pada 2020. Melalui Tanwir ke-2 Muhammadiyah – ‘Aisyiyah 2021 ditetapkan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah digelar pada 18-20 November 2022.

Muktamar sebagai forum musyawarah tertinggi di lingkup Muhammadiyah juga menjadi momen pemilihan kepemimpinan. Terkait hal tersebut, Dahlan Rais menilai KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah telah berhasil meletakkan pondasi kepemimpinan di Muhammadiyah.

“Mengapa berhasil karena Beliau (KH Ahmad Dahlan) meletakkan dasar-dasar kepemimpinan teramat jelas dan sekaligus memberikan keteladanan yang sangat nyata. Kehebatan Beliau adalah mengubah cara pandang masyarakat Islam pada masa itu terkait dengan aktualisasi dan pesan-pesan ajaran Islam,” ujarnya.

KH Ahmad Dahlan, menurutnya, membuka mata, pikiran dan hati sebagian umat Islam bahwa salah satunya Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dan dihafalkan. Melainkan bisa membumi, bagaimana firman-firman Allah SWT itu bisa merespons keadaan sekaligus memecahkan masalah.

Di tangan Kyai Dahlan, lanjutnya, Al Maun bisa berubah menjadi puluhan atau ratusan panti asuhan, puluhan atau ratusan rumah sakit PKU Muhammadiyah karena cara pandang bagaimana huda linnas wabayyinati minal huda wal furqon itu tidak hanya diucapkan. Tentang teknis pemilihan pemimpin di Muhammadiyah, Dahlan Rais menerangkan Muhammadiyah berbeda dari yang lain.

“Tata cara pemilihan di Muhammadiyah itu memang unik ya. Menjadi pimpinan Muhammadiyah itu tidak mencalonkan diri, tapi dicalonkan,” terangnya.

Ditambahkannya, Muhammadiyah menggunakan sistem pemilihan formatur dan menghindari pemilihan langsung untuk ketua umum karena kalau calon mengerucut hanya dua orang berakibat buruk.(Bi)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini