Ngejot, Tradisi Berbagi Umat Muslim dan Umat Hindu Bali

0
660
Ngejot, Tradisi Berbagi Umat Muslim dan Umat Hindu Bali
Ilustrasi 'Ngejot'.
Bagikan Berita Ini

“Tradisi Lebaran di Bali, yang dikenal Ngejot dilakukan turun-temurun oleh umat Muslim dan Hindu. Jadilah tradisi ini cukup menarik, karena menunjukkan kerukunan umat beragama.”

TEROPONGMETRO – Tradisi lebaran dibali, yang dikenal Ngejot menjadi wujud toleransi serta kerukunan antarumat beragama di Pulau Bali, yang menunjukkan bahwa perbedaan bukan halangan untuk bersatu dan hidup berdampingan dengan damai. Jadilah tradisi ini cukup menarik, karena menunjukkan kerukunan umat beragama.

Tradisi ngejot membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa damai karena setiap orang bisa melihat bagaimana kerukunan dan nilai toleransi beragama diperlihatkan.

Tradisi ngejot atau biasa juga disebut jotan merupakan sebuah tradisi yang biasanya dilakukan di hari besar keagamaan Hindu dan Islam.

Pada hari besar umat Hindu biasanya dilakukan saat hari raya Galungan, Kuningan, hingga Odalan. Sedangkan umat islam merayakan tradisi ngejot pada saat Hari Raya Idulfitri, Iduladha, hingga maulid Nabi Muhammad Saw.

Saat tradisi ngejot ini berlangsung, biasanya masyarakat akan membagikan makanan kepada saudara dan tetangganya. Saat merayakan Hari Raya Iduladha, masyarakat muslim Bali biasanya akan membagikan hidangan khas lebaran, seperti opor ayam dan ketupat. Juga sebaliknya, saat perayaan hari raya umat Hindu biasanya akan memberikan buah-buahan hingga makanan kering yang halal untuk dikonsumsi.

Tradisi ngejot di Bali sangat sarat akan nilai dan makna, baik dalam kehidupan sosial masyarakat Bali, maupun pesan yang disampaikan kepada masyarakat luas. Tradisi ngejot mempertontonkan bagaimana keragaman budaya dan agama yang ada di tanah Bali tidak menjadikan alasan untuk tidak saling menghargai.

Di mana tradisi Ngejot juga menjadi simbol kerukunan, kekeluargaan dan tali persaudaraan antarumat beragama di Bali, yang hidup berdampingan dengan harmonis. Ngejot mulai dilakukan ketika bulan Ramadhan tiba hingga Hari Raya Idul Fitri.

Tokoh kampung Islam Kepaon, H Mohammad Azizuddin mengatakan selain sebagai bentuk rasa terima kasih, tradisi ini dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan hubungan silaturahmi, mengenal tetangga sekitar, membangun hubungan masyarakat menjadi lebih baik, dan menumbuhkan rasa toleransi serta menciptakan kedamaian antarumat beragama di Bali. Atau dengan kata lain, tradisi ini dapat memupuk kekuatan modal sosial antar tetangga dan kerabat meski berbeda agama.

“Tradisi dan budaya itu hingga sekarang masih tetap lestari, baik di desa maupun perkotaan di Pulau Dewata,” tutur Aktifis Muhammadiyah ini.

“Tredisi ‘ngejot’ bagi komunitas muslim di perdesaan menunjukkan adanya kekerabatan yang begitu akrab dengan umat lainnya yang beragama Hindu maupun agama lainnya,” tambah Azis sapaan akrabnya.

Sekilas Sejarah Tradisi Ngejot

Selain dua agama, tradisi ngejot juga merupakan tradisi yang dilakukan oleh dua suku, yaitu Suku Sasak yang beragama Islam dan Suku Bali yang beragama Hindu. Moto sosial dari tradisi ngejot yang erat kaitannya dengan perayaan Hari Raya dalam masyarakat Suku Sasak adalah “ndkn kanggo mesak ime”. Artinya adalah jika seseorang menyembelih hewan seperti kambing atau sapi, tidak boleh menikmatinya sendiri saja, tetapi harus berbagi dengan tetangga.

Sedangkan dalam kepercayaan Hindu, prinsip dasar tradisi ngejot terkandung dalam Tria Hita Karana, mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam, dan manusia. “Mencintai sesama manusia sebagaimana kamu mencintai diri sendiri” rasanya menjadi prinsip dasar semua umat beragama yang menjunjung nilai cinta kasih.

Menurut penelitian, tradisi ngejot merupakan budaya lama yang eksistensinya dimulai oleh nenek moyang yang lahir terpengaruhi oleh dua faktor pengikat. Pertama adalah faktor perkawinan antara umat Islam dan Hindu. Para pendatang Islam di Bali menikahi wanita-wanita Hindu atau Pemuda Hindu Bali yang menikahi Wanita-wanita Islam yang membuat hubungan kedua agama semakin dekat.

Faktor kedua adalah hubungan kekerabatan antar umat. Antara umat Islam dan Hindu di Bali, secara emosional menjadi sangat dekat karena kedua umat gotong royong, saling membantu untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Pekerjaan tersebut seperti menjaga alam Bali agar tetap lestari.

Manusia sebagai makhluk sosial sudah seharusnya selalu mengedepankan sikap toleransi, menghargai, dan mencintai satu sama lain. Melalui tradisi ngejot yang sudah mengakar dan menjadi nilai historis masyarakat umat Hindu dan Islam di Bali mampu menimbulkan rasa kebahagiaan antar pemeluknya.

Tradisi Ngejot diwariskan secara turun temurun dari leluhur dan dipercaya sudah hadir sejak ratusan tahun silam. Di mana penyebaran agama Islam di Bali sendiri, masuk pada zaman kerajaan abad XIV yang berasal dari sejumlah daerah di Nusantara.

Hubungan dekat ini di Bali disebut sebagai nyama selam yang artinya “saudara Islam”. Untuk saling menjaga kerukunan antara pengikut kedua agama tersebut, masyarakat pun berusaha membangun toleransi dengan saling membantu dan berbagi makanan ketika Hari Raya keagamaan masing-masing tiba. Tradisi ini lah yang kemudian diistilahkan dengan nama Ngejot dan masih terus dilestarikan hingga saat ini.(Tm)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini