Tujuh Tokoh NU yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, Siapa Saja?

0
459
Tokoh NU yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, Siapa Saja
Tokoh NU yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, Siapa Saja
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi yang kerap melahirkan tokoh bangsa. Di antara para tokoh tersebut, ada yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Melansir situs nu.or.id, berikut sejumlah tokoh NU yang menerima gelar pahlawan :

  1. Hadratusshekh KH Hasyim Asyari

Hadratusshekh KH Hasyim As’yari adalah tokoh utama dan pendiri Nahdatul Ulama. Dialah satu-satunya pemilik gelar Rais Akbar NU sampai akhir hayatnya. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1964 berkat jasa-jasanya melawan penjajah.

Salah satu pengabdiannya untuk negeri ini adalah memutuskan NU mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

  1. KH Abdul Wahid Hasyim

KH Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari Hadratusyekh KH Hasyim As’yari dan ayah dari presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahmann Wahid.

Ia anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Di Pondok Pesantren Tebuireng, Wahid Hasyim merintis masuknya ilmu-ilmu umum ke dalam dunia pondok pesantren. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1960.

  1. KH Zainal Mustofa

Tokoh berikutnya adalah KH Zainal Mustofa. Tokoh NU asal Tasikmalaya ini menjadi salah satu perwakilan Rais Syuriyah. Ia adalah salah satu kiai yang terang-terangan menentang penjajah Belanda.

Ketika Belanda lengser dan digantikan penjajah ​​Jepang, KH Zainal Mustafa tetap menolak kehadiran mereka. Ia pun mengajak murid-muridnya berperang dengan Jepang. Atas jasanya itu, ia dianugerahi pahlawan nasional pada tahun 1972.

  1. KH Zainul Arifin

KH Zainul Arifin, adalah seorang tokoh NU asal Sumatera Utara. Dirinya aktif di NU sejak usia belia. Ia juga berjasa dalam pembentukan kekuatan semi-militer Hizbullah, dan menjadi panglima tertinggi.

Ia pernah menjadi perdana menteri Indonesia, yaitu Ketua DPR-GR. Selain itu, ia juga berperan dalam menjadi anggota badan kerja Komite Nasional Pusat. Pemerintah mendeklarasikan dirinya sebagai pahlawan nasional pada 4 Maret 1963.

  1. KH Abdul Wahab Chasbullah

KH Abdul Wahab Chasbullah adalah salah satu pendiri NU. Sebelumnya beliau adalah pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Berpikir), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negara), pendiri Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang).

Sejak tahun 1924, telah diusulkan bahwa sebuah asosiasi ulama dibentuk untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis. Usulnya diwujudkan dengan mendirikan NU pada tahun 1926 bersama kiai lainnya.

Ia juga salah satu penggagas MIAI dan pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU. Kiai yang wafat pada 29 Desember 1971 itu mendapat gelar pahlawan pada 8 November 2014.

  1. KH Idham Chalid

Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR.

Selain sebagai politikus, ia pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984. Hingga saat ini, dia adalah ketua organisasi massa yang dibentuk oleh kiai dengan masa jabatan terlama.

Atas jasa-jasanya, ia dinyatakan sebagai pahlawan pada 8 November 2011. Kemudian pada 19 Desember 2016, Pemerintah mengabadikannya dalam uang kertas rupiah baru, Rp. 5.000,- .

  1. KH As’ad Syamsul Arifin

KH As’ad Syamsul Arifin salah satu kiai yang berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember dan Bondowoso, Jawa Timur.

Pada masa revolusi fisik, Kiai As’ad menjadi motor penggerak massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. Setelah kemerdekaan, Kiai As’ad menjadi penggerak sosial ekonomi masyarakat.

Dia menyerap aspirasi warga dan kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, dan presiden untuk mewujudkan pemerataan pembangunan.

Kiai As’ad juga berperan menjelaskan bahwa kedudukan Pancasila tidak akan mengganggu nilai-nilai Islam. Atas jasa-jasanya, ia menerima Penghargaan Pahlawan pada 9 November 2016.(Tm)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini