Jenderal Soedirman: Sungguh Berat Jadi Kader Muhammadiyah, Ragu dan Bimbang Lebih Baik Pulang

0
768
Jenderal Soedirman: Sungguh Berat Jadi Kader Muhammadiyah, Ragu dan Bimbang Lebih Baik Pulang
Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Menjadi kader Muhammadiyah itu tidaklah mudah, butuh komitmen dan konsistensi tinggi agar mampu bertahan terhadap berbagai tantangan ketika berdakwah. Seperti yang diakui Jenderal Soedirman, kader terbaik dari kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan.

“Sungguh berat menjadi kader Muhammadiyah. Ragu dan bimbang lebih baik pulang,” kata Jenderal Soedirman.

Jenderal Soedirman memang anak kandung Muhammadiyah. Jenderal Besar kalahiran Purbalingga, 24 Januari 1916 itu merupakan guru di Sekolah Dasar Muhammadiyah Cilacap, dan aktivis Pemuda Muhammadiyah sekaligus kader Hizbul Wathan Banyumas.

Kepanduan Hizbul Wathan (Patvinder Muhammadiyah) didirikan pada 20 Desember 1918 oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Kiai Dahlan terinspirasi dari kepanduan Mangkunegaran di Solo. Karena itu, Kiai Dahlan mendirikan Hizbul Wathan sebagai wadah menggembleng akidah, pekerti, fisik, mental, dan rasa cinta tanah air anak muda.

Di kepanduan tersebut Soedirman muda melibatkan diri. Selain meningkatkan pemahamannya tentang ajaran Islam, Hizbul Wathan mengajarkan Soedirman tentang kepemimpinan, keterampilan, dan kekuatan fisik. Pengetahuan dan pengalamannya di Hizbul Wathan itulah yang mengantarkan Soedirman menjadi seorang prajurit.

Pada Kongres ke-29 Muhammadiyah di Yogyakarta, Soedirman mengusulkan agar anggota Hizbul Wathan mengenakan celana panjang. Dalam buku Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Sudirman karya Sardiman (2008) dijelaskan usulan tersebut karena Soedirman ingin agar para anggota Hizbul Wathan tidak kesulitan mencari sarung ketika hendak mendirikan sholat.

Berawal dari Hizbul Wathan, kiprah Soedirman di dunia militer terbuka. Sejak masa kependudukan Belanda, Soedirman pernah melatih tentara pribumi di daerah Banyumas atas permintaan pemerintah Belanda. Tahun 1944 ia menjadi bagian dari organisasi militer bentukan Jepang, yaitu PETA (Pembela Tanah Air).

Soedirman juga melibatkan diri di beberapa organisasi militer lainnya, seperti Syu Sangikai dan Badan Keamanan Rakyat (sekarang Tentara Nasional Indonesia). Hingga pangkatnya di militer Indonesia naik.

Puncaknya pada 12 November 1945 Soedirman dipilih menjadi panglima besar. Namun pelantikan panglima besar baru terlaksana pada 18 Desember 1945.

Ketika pasukan sekutu menyerang Semarang, Magelang, dan Ambarawa pada akhir 1945, Soedirman memimpin pasukan mempertahankan kemerdekaan. Kemenangan di pihak Indonesia tidak lepas dari kepemimpinan Soedirman, yang membuat sejumlah petinggi Indonesia tak lagi meremehkan sikap tegasnya enggan menyerah dan menjadi tawanan Sekutu.

Pada agresi militer Belanda kedua yang terjadi pada 1948-1949 misalnya. Panglima Besar yang sedang sakit tidak gentar memberikan perlawanan. Ia memilih keluar masuk hutan bergeriliya ketimbang harus bertahan di ibu kota Yogyakarta seperti sejumlah tokoh politik.

Pasukan gerilya pimpinan Soedirman juga terlibat dalam momen Serangan Umum 1 Maret 1949. Hingga Soedirman pun akhirnya menyerah karena kesehatan. Tubuhnya tidak lagi kuat menahan sakit paru-paru. Jenderal Besar itu wafat pada 29 Januari 1950 di usianya yang masih muda, yakni 34 tahun.

Paku Alam VIII dan Buya Hamka mengatakan bahwa bangsa Indonesia merasa kehilangan atas “kepulangan” Soedirman. Atas dedikasi dan perjuangannya melawan penjajah, namanya dikenang oleh bangsa Indonesia. Ia banyak menerima tanda kehormatan, mulai Bintang Mahaputra Pratama, Bintang Sakti, Bintang republik Indonesia Adipradana, dan sebagainya.

Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Nomor 314 Tahun 1964. Nama besar Soedirman pun banyak digunakan menjadi nama sejumlah museum, jalan, universitas, hingga monumen.(R)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini