Perjuangan Tukang Becak Asal Sampang yang Berangkat Naik Haji

0
606
Perjuangan Tukang Becak Asal Sampang yang Berangkat Naik Haji
Warga Jalan Permata, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Madura Holili Addrae Sae (60 tahun) bersyukur bisa menunaikan ibadah haji pada 2022. Ia menyisihkan penghasilannya sebagai tukang becak.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Holili Addrae Sae (60 tahun) Warga Jalan Permata, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Madura, mengaku senang bisa menunaikan Rukun Islam kelima, yakni menunaikan ibadah haji tahun ini. Holili yang berprofesi sebagai tukang becak itu mengaku, bukan hal mudah untuk mewujudkan mimpinya pergi ke tanah suci.

Apalagi dengan penghasilan hariannya yang tidak menentu. “Penghasilan mbecak per hari hanya Rp 30-50 ribu, itu pun tidak menentu. Selain itu, saya juga bekerja sebagai kuli ikan dengan penghasilan yang tak seberapa,” ujar Holili, Kamis (16/6/2022).

Holili mengatakan terwujudnya mimpi menunaikan ibadah haji juga tidak lepas dari peran istrinya, Busideh. Bersama istrinya, Holili mendaftar sebagai calon jamaah haji pada 2011. Namun, atas kehendak Allah SWT, dalam masa tunggu haji, sang istri terlebih dahulu tutup usia dan meninggalkannya.

“Istri saya rajin menabung, mengumpulkan, dan dibelikan beberapa gram emas. Terus terang kami hanya bekerja keras memeras keringat mengayuh becak setiap hari, tapi almarhum istri saya yang begitu telaten menyisihkan sedikit demi sedikit uang sisa dari kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Holili.

Holili menyatakan istrinyalah yang terus meyakinkan dan mengajak dirinya untuk mendaftar haji, meski dengan kondisi ekonomi yang ala kadarnya. Hingga di satu waktu, Holili dan istrinya mendapatkan rezeki arisan dan memutuskan menjual semua barang-barang yang selama ini telah dikumpulkan untuk biaya pendaftaran haji. Mulanya sempat ragu, namun sang istri kembali menguatkan dan meyakinkannya.

“Saya dapat arisan dan ayo emas ini jual. Ayo daftar haji. Tidak apa dengan niat Insya Allah siapa tahu Allah mengasihani dan Allah cukupkan,” kata Holili mengenang ucapan mendiang istrinya.

Bermodal keyakinan, pasangan suami istri itu pun mendaftar haji pada 2011. Namun Allah berkendak lain, istrinya meninggal dunia pada 2019 karena sakit. Kemudian di tahun berikutnya, Holili dihubungi untuk melakukan pelunasan haji.

“Istri saya meninggal beberapa bulan sebelum penatapan, tahun 2020 dikonfirmasi berangkat, tapi karena pandemi jadi ditunda. Alhamdulillah bisa berangkat tahun ini. Meski istri saya sudah meninggal, tapi niat saya tetap haji bersama istri,” kata dia.

Sepeninggal istrinya, Holili sempat menawarkan kedua anaknya untuk mengganti porsi haji sang istri. Namun, keduanya menolak dan Holili memilih mengambil tabungan haji almarhumah untuk dipergunakan sebagai biaya menghajikan mendiang istrinya di tanah suci.

“Uang tabungannya sampai saat ini masih utuh, saya titipkan agar tidak saya pergunakan. Uang itu untuk haji badal istri saya karena di tanah suci harus bayar orang untuk menghajikan. Mohon doa semoga saya dan istri dijadikan haji mabrur,” ujarnya.(R)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini