Heboh Said Aqil Siradj Terima Rp30 J dari Unila, Sekretaris: Itu Uang Transport

0
2640
Heboh Said Aqil Siradj Terima Rp30 J dari Unila, Sekretaris: Itu Uang Transport
Nama mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj disebut dalam kasus suap Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Jalur Mandiri Universitas Lampung.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Nama mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj disebut dalam kasus suap Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Jalur Mandiri Universitas Lampung.

Nama Said Aqil Siradj muncul dalam berita acara pemeriksaan saksi Mualimin. Dalam catatan di BAP tersebut, Said Aqil Siradj menerima aliran dana Rp30 juta.

Jaksa penuntut umum KPK memperlihatkan BAP itu dalam lanjutan sidang kasus suap Unila, di PN Tanjung Karang, Bandar Lampung, Kamis (26/1/2023) lalu.

Mualimin menyebut uang itu diberikan untuk memenuhi kebutuhan Said Aqil selama berada di Lampung.

“Ya ngasih aja, kebutuhannya beliau datang ke Lampung, ngisi pengajian,” jawabnya seperti dikutip dari Antara.

Mualimin bersaksi untuk tiga terdakwa yakni eks Rektor Unila Prof Karomani, Warek I Bidang Akademik Prof Heriyandi serta Ketua Senat Unila Muhammad Basri.

Sekretaris Eksekutif Said Aqil Siradj Institute, Abi Rekso menyatakan Said Aqil Siradj menjadi subjek korban dalam praktik korupsi di Unila.

Menurutnya, Kiai Said tidak tahu-menahu terkait aliran tersebut.“Jika orang datang ceramah kemudian diberikan bisyaroh (pengganti transport) itu biasa. Tidak ada bisyaroh pun, juga biasa,” kata Abi Rekso dalam keterangan diterima di Jakarta, Jumat.

Jadi, kata dia, harus dipahami bahwa motif kehadiran Kiai Said bukan karena amplop namun karena permintaan untuk berdakwah.

Menurut dia, jika membaca hasil berita acara persidangan, jaksa penuntut umum tidak fokus pada map bertuliskan SAS.

Artinya, lanjut Abi, bisa disimpulkan bahwa Kiai Said murni subjek korban. “Pemberitaan ini murni framing media, kami bisa pahami itu, pegangan publik ada pada hasil persidangan. Jika bicara asas keadilan, baik Kiai SAS atau pun SAS Institute juga dirugikan dengan adanya pemberitaan negatif. Ya namanya juga era keterbukaan informasi, yang penting tetap ada ruang dialog,” ujarnya.

Sumber: solopos


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini