Ekologi Rumah Pemuda Indonesia

0
2217
Ekologi Rumah Pemuda Indonesia
Zaedi Basiturrozak Bendahara Umum PP Pemuda Muhammadiyah.
Bagikan Berita Ini

Ekologi Rumah Pemuda Indonesia

OLEH: ZAEDI BASITURROZAK*

TEROPONGMETRO – Segenap harapan ada di pundak pemuda. Kiprah pentingnya digadang-gadang dalam pembangunan bangsa. Bila ditaksir, seperempat dari total penduduk negara ini diisi oleh pemuda. Rumah bagi talenta-talenda muda yang berkarya untuk masa depannya. Talenta unggul yang siap berdaya saing dan berkarakter dalam berbagai mitra pembangunan dalam interaksi kepemudaan.

Keunikan lainnya yang dimiliki pemuda Indonesia adalah keragaman budaya dan bahasa yang dibingkai dalam kebhinekaan. Nilai lebih itu memiliki kontribusi nyata dalam aspek kehidupan terutama wawasan untuk merawat keragaman dengan harmoni perbedaan yang dapat memupuk persaudaraan.

Ekspresi pemuda di zaman digital turut memberikan kesempatan bagaimana bakat dan minat diimplementasikan melalui karya-karya kreatif dan inovatif. Bersamaan itu pula, era digital hadir sebagai tantangan tersendiri. Di samping persoalan gaya hidup dan pendidikan, dilema keresahan tanpa pandang bulu menghampiri pemuda salah satunya impitan peluang kerja dan kemiskinan di era serba digital.

Persoalan pelik lainnya adalah iklim politik yang tak kunjung membaik. Retakan-retakan dalam bentuk cermin politik kian sulit untuk dikenali wajah siapa kawan dan lawan. Politik digital sejauh ini, setidaknya telah membelah cermin wajah yang semakin terlihat hitam dan putihnya. Tak peduli isu apa yang hadir mengemuka, pasti akan disambut dengan peperangan digital yang tanpa ampun.

Keruhnya Paradigma Parsial  

Pada konteks keindonesiaan, semua bersepakat bahwa Indonesia adalah rumah bersama. Lebih khusus lagi, Indonesia adalah rumah bagi pemuda. Suasana selalu menjadi perhatian utama pemuda. Buktinya adalah kemunculan lokasi-lokasi hangout yang terus menjamur dan menawarkan kondisi berbeda dengan sentuhan kekinian.

Di ruang-ruang kreasi itulah ide-ide inovatif muncul bagaimana eksperimentasi pemikiran dikupas untuk mendapatkan windows of opportunity. Interaksi saling melengkapi memacu DNA unggul, bagaimana melihat suatu realitas dengan pikiran sehuinga dapat mengubah persepsi  kendati hanya segelintir.

Namun meminjam kekuatan konteks (power of context) Gladwell sebagaimana Rhenald Kasali sarankan, maka perubahan-perubahan yang menjadi pembicaraan kunci akan menemukan kontennya yang strategis.

Bahkan sesuatu yang kritikal bisa berbuah karya nyentrik yang tak terduga sebelumnya. Meski terbilang sedikit, kemampuan leadership dan keorganisasian pemuda-pemuda bertalenta ini dalam beberapa hal seperti peniup pluit untuk mengundang setiap pemuda lainnya agar bisa ikut bereksperimens dengan gagasan.

Tak sedikit juga mereka masih bertahan, dan ada juga yang lain mati sebelum berkembang. Rumah-rumah gagasan mereka seumur jagung, penyebabnya merujuk Rhenald Kasali mereka hanya memikirkan hari ini tidak dengan manajemen hari esok. Keruhnya ekologi parsial membuat ide-ide unik itu hampa. Apalagi jika ide-ide segar itu terkontaminasi oleh suatu kepentingan jangka pendek tak menutup kemungkinan skenario masa depannya berjalan statis.

Paradigma parsial yang dialami ekosistem pemuda hari ini kian begitu nyata. Melihat realitas dari serpihan-serpihan yang merupakan bagian rapuh. Takjub pada kulit luar dan heboh dalam sepenggal judul. Begitulah fakta yang terjadi hari ini dalam rumah pemuda Indonesia. Kondisi itu, sudah diwanti-wanti oleh Fritjop Capra. Fisikawan terkemuka itu menawarkan cara pandang dunia yang tidak sekadar serpihan buana.

Justeru Capra menggelindingkan konseptualisasi dengan pemahaman dan nilai-nilai yang holistik. Bisa jadi subjek dan objek secara legitimate dianggap sah melalui cara pandang mekanistik. Tapi perlu disadari bahwa pemuda sebagai manusia merupakan makhluk organismik yang memiliki ekologi. Pemuda adalah talenta biotik yang memiliki energi dan gerak.

Komodifikasi budaya populer memang menyisakan kenikmatan tersendiri antara yang nyata dan imajiner. Yang kuantitatif bisa meninggalkan yang kualitatif. Cara pandang holistik ingin menampilkan realitas fisik yang tetap berempati pada yang metafisik sehingga yang imajiner memiliki kekuatan bahwa ada sandaran dunia nyata yang memerlukan pendekatan multidimensi dan sinergi antar struktur agar terjalin kesimbangan yang dinamis.

Selanjutnya bagimana melakukan upaya menjernihkan ekologi yang parsial itu. Tentu saja kita harus kembali menengok rumah yang sesungguhnya. Pemuda ada dalam rumah tangganya sendiri sebagai populasi yang memiliki ekosistem dan komunitas tersendiri. Cara pandang holistik Capra dapat dikombinasikan dengan pendekatan sosiologisnya Anthony Giddens tentang strukturasi yang akan disajikan dibawah ini.

Ekologi Pemuda Holistik

Dalam pendekatan paradigma holistik, pada prinsipnya semua kehidupan saling terjalin. Rantai jaringan tumbuh seiring dengan luasnya cara pandang yang memandang dunia sebagai suatu keseluruhan yang komponen-komponennya saling bergantung untuk melengkapi. Tidak ada aktor tunggal. Semuanya merupakan kolaborator. Karena tidak ada yang dapat melakukan sendirian tanpa bantuan dari orang lain.

Kesadaran holistik yang sinergis harus tumbuh dalam ekologi rumah pemuda Indonesia. Di sanalah nilai lebih keragaman itu agar dapat diharmonikan dalam suatu irama yang secara totalitas lebih besar dari komponen-komponen yang kecil. Jangan sampai komponen-komponen yang bersifat merusak dan mengedepankan sikap politik totaliter menjadi jamur di musim penghujan saat ekosistem talenta biotik pemuda sedang tumbuh.

Menghalalkan segala cara untuk meraih suatu prestasi yang sesungguhnya berasal dari kesadaran mekanistik. Pemuda adalah talenta biotik kendati dunia digital mengancam, maka pemuda harus ada konsep bio-digitalnya sehingga eksistensinya dapat memaknai agensi, struktur dan prosesnya. Bukan sekadar pengguna, jika hanya pengguna pemuda adalah hanya suatu individu.

Pemuda berbicara data dan menafsirkan untuk menjadi aktor dalam struktur dan prosesnya untuk mengharmonikan subjektivisme dan objektivisme. Dalam pandangan Giddens struktur merupakan aturan dan sumber-sumber yang dapat dimaknai untuk memberikan kerangka norma dan makna terdalam (IB Wirawan, Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma, 2012).

Bagaimanapun pemuda adalah pelaku perubahan sosial (agency) yang dalam konteks strukturasi ala Giddens adalah sekaligus aktor yang dapat memediasikan keterpisahan dan keretakan dalam ekologi rumah pemuda. Keunikan dan keragaman latarbelakang maupun keragaman cara pandang politik adalah desentralisasi kekuatan dan potensial untuk merangkul suatu sistem pemikiran dan gerakan yang dinamis untuk menggerakkkan kesadaran holistik yang dapat mengikis kesadaran mekanistik.

Membangun rumah talenta muda biotik tidak harus dimulai dari yang selalu besar. Belajar dari teori Re-Code DNA Rhenald Kasali bahwa yang segelintir itu sejauh mungkun dapat menjadi pengaruh bagi yang lain untuk berpikir integratif sehingga tidak terjebak dalam paradigma lama yang mengungkung organisasi dan individu. Pemuda dengan ekologi holistiknya sejatinya merupakan awal membuka pintu gerbang menangkal krisis identitas yang parsial. Wallohu’alam.(*)

*Penulis adalah Bendahara Umum PP Pemuda Muhammadiyah


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini