Tarawih Pertama Bersamaan Hari Raya Nyepi, Muhammadiyah Bali Kedepankan Toleransi

0
2505
Tarawih Pertama Bersamaan Hari Raya Nyepi, Muhammadiyah Bali Kedepankan Toleransi
Muhammadiyah Bali.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Persyarikatan Muhammadiyah menetapkan awal bulan Ramadan 1444 Hijriah jatuh pada Kamis, 23 Maret 2023 sehingga tarawih dilaksanakan mulai Rabu malam tanggal 22 Maret 2023.

Bagi kaum muslimin di pulau Bali, malam pertama bulan Suci Ramadan itu ternyata bertepatan dengan perayaan Hari Suci Umat Hindu, yaitu Hari Raya Nyepi.

Hari Raya Nyepi sendiri umumnya dilaksanakan pemeluk Hindu dengan tidak melakukan berbagai hal berikut seperti; menyalakan api atau lampu, melakukan kegiatan fisik atau bekerja, keluar rumah atau bepergian, dan menikmati hiburan atau rekreasi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Bali, Muhammad Saffaruddin menyampaikan saran berkenaan dengan pelaksanaan tarawih pertama bulan Ramadan agar berjalan penuh toleransi kepada masyarakat Hindu.

Saffaruddin menyarankan warga Muslim mengatur pelaksanaan ibadah tarawih agar tidak mengganggu pemeluk Hindu yang sedang melaksanakan ritual Nyepi.

“Kalau jauh jarak rumah dengan tempat ibadah disarankan lebih baik tarawih perdana di rumah saja, tapi bilamana dekat, dan masjid atau musala itu menyelenggarakan salat berjamaah serta dapat izin aparat setempat, maka tidak jadi masalah, dengan catatan bisa diselenggarakan tanpa ada hal-hal yang bisa bersinggungan (mengganggu Nyepi),” kata dia, Rabu (8/3).

Apabila aparat pemerintah setempat mengizinkan kegiatan di luar rumah, maka Saffaruddin menyarankan agar pergi ke masjid/musala dengan berjalan kaki. Selain itu, masjid dan musala disarankan mengatur minimal pencahayaan dan penggunaan pengeras suara agar tidak mengganggu pelaksanaan prosesi Nyepi.

“Nanti kan tarawih perdana mau tidak mau malam hari. Kita tetap harus bisa menghormati, kan gelap, mungkin menggunakan pencahayaan yang tidak menyorot ke luar,” pesannya.

Hal yang sama, kata dia pernah terjadi pada saat Hari Raya Nyepi bertepatan dengan Salat Jumat.

“Pas Jumat (dulu) kita tetap melaksanakan Salat Jumat, namun seperti imbauan MUI dan Kementerian Agama, kita jalan kaki ke tempat yang bisa ditempuh dan tidak menggunakan suara kencang,” katanya.

Dia mengemukakan pentingnya toleransi untuk menjaga hubungan baik antar-umat beragama.

“Maka saya imbau jika memang rumahnya berjarak jauh dengan tempat ibadah seyogyanya di rumah saja, pun bilamana berdekatan dan kebetulan diadakan shalat berjamaah dan sudah koordinasi kami persilakan,” imbuhnya.

Terakhir, Saffaruddin berharap agar ada pendataan masjid dan musala yang menyelenggarakan salat berjamaah pada Hari Suci Nyepi agar bisa dipantau dan berjalan dengan penuh kedamaian dan penghargaan kepada agama lain.

“Kalau tarawih perdana biasanya (jamaah) membludak. Jam biasanya dari 19.30 WITA sudah bersiap dan selesainya kurang lebih jam 21.00 WITA,” kata Saffaruddin.

“Kepada pemerintah daerah juga kami harap bisa tetap solid, memberikan peluang, (pemeluk) Hindu bisa Nyepi dengan tenang dan Muslim bisa diberikan keleluasaan beribadah,” pungkasnya.(Md)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini