Sejarah Awal Puasa Ramadhan: Dimulai Setelah Isya dan tak Boleh Berhubungan Suami Istri

0
3675
Sejarah Awal Puasa Ramadhan: Dimulai Setelah Isya dan tak Boleh Berhubungan Suami Istri
Ilustrasi.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Jika puasa Ramadhan yang dikenal saat ini dimulai setelah waktu imsak menjelang subuh, beda halnya dengan pelaksanaan puasa di masa awal dulu yang dimulai setelah waktu isya.

Tak hanya itu, di malam hari larangan puasa seperti berhubungan intim juga dilarang. Dalam buku Sejarah Puasa karya Ustaz Ahmad Sarwat dijelaskan, Ibnu Abbas menceritakan bahwa pada awalnya puasa Ramadhan itu sudah dimulai sejak selesai sholat Isya.

Ketentuan berpuasa Ramadhan itu pun berbeda dengan yang umat Muslim kenal saat ini. Yakni tidak boleh hanya menahan makan dan minum, namun juga tidak boleh melakukan hubungan intim.

Dijelaskan bahwa, puasa semacam itu sangatlah berat. Sehingga terdapat seorang sahabat Nabi yang ‘melanggar’ ketentuan puasa di malam hari. Salah satunya adalah Sayyidina Umar bin Khattab. Para sahabat yang tak tahan menjalani puasa semacam itu pun datang mengadu ke Rasulullah SAW.

Dari peristiwa itu, Allah kemudian menurunkan firman-Nya dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 187: “Alimallahu annakum kuntum takhtanuuna anfusakum fataaba alaikum wa afaa ankum fal-aana baasyiruuhunna,”.

Yang artinya: “Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka,”.

Sejak saat itulah maka kemudian puasa Ramadhan sudah mulai ditetapkan batasnya. Yakni sejak terbitnya fajar dan bukan sesudah shalat Isya dilakukan.

Selain itu, di malam hari umat Islam diperkenankan untuk makan dan minum, serta melakukan hubungan intim dengan pasangan sahnya.(R)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini