Puasa Ramadhan Bukan Hanya Dimensi Fikih, Tapi juga Adab dan Spiritual

0
2937
Puasa Bukan Hanya Dimensi Fikih, Tapi juga Adab dan Spiritual
Ilustrasi.
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Seperti ibadah lainnya, puasa memang memiliki dimensi zahir yang harus ditaati agar terpenuhi syarat sahnya. Dimensi zahir ini penting untuk diketahui, dan sudah dijelaskan di dalam kitab-kitab fikih. Namun, kita tak ingin puasa hanya sah secara hukum fikih saja, tapi nihil nilai di hadapan Allah.

Di dalam karangan ringkasnya al-Adabu fi al-Din, Imam al-Ghazali menulis dengan singkat senarai adab puasa sebagai berikut: meninggalkan pertengakran (al-mira’), kemunafikan (al-mura’),  gibah dan kedustaan;  tidak menyakiti orang lain; menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela. Dengan menjalankan adab-adab ini, puasa diharapkan bisa melampaui pausa ‘awam yang hanya mencukupkan diri dari yang membatalkan sah-nya puasa saja.

Selain itu, ada pula adab puasa yang lebih praktis dari Abu Hasubah sehingga diharapkan puasa kita bisa lebih paripurna:

  1. Menyegerakan berbuka dengan tiga ruthab (kurma basah) atau tamr (kurma kering) Atau sesuatu yang manis;

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. (HR. Bukhari dan Muslim)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

  • Sahur dan mengakhirkannya;

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Mandi wajib sebelum mulainya imsak jika dalam keadaan junub. Hal ini dilakukan agar ia memulai puasa dalam keadaan yang suci. Meskipun junub ketika masuknya waktu puasa tidaklah membatalkan puasa.
  • Berdoa ketika berbuka puasa baik dengan doa berbuka puasa maupun dengan doa-doa lainnya sebab mustajabnya waktu buka puasa. Imam Nawawi juga menganjurkan memperbanyak doa selama berpuasa.

ثﻼﺙ ﻻ ﺗﺮﺩ ﺩﻋﻮﺗﻬﻢ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﻔﻄﺮ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺎﺩﻝ ﻭ ﺍﻟﻤﻈﻠﻮﻡ

Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalim  (HR. Tirmidzi)

  • Memberikan buka kepada orang yang sedang berpuasa, utamanya bila sampai membuat ia kenyang.
  • Memperbanyak sadaqah, tilawah dan tadarus al-Qur’an;

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.(HR. Bukhari)

Untuk konteks saat ini, ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan selama berpuasa dan berbuka puasa yang masih terkait dengan dalil-dalil dan anjuran ulama di atas. Pertama terkait banyaknya distraksi, mulai dari gawai hingga tradisi-tradisi selama bulan puasa. Mulai dari diskon di mall hingga diskon di aplikasi-aplikasi toko online. Hendaknya hal itu tidak membuat hati dan amalan kita teralihkan. Contoh yang menarik misalnya buka puasa bersama. Di dalamnya ada kebaikan, tapi terkadang justru disusupi kelalaian. Bahkan kadang-kadang membuat pesertanya tidak salat berjamaah.

Wallahu a’lam.(Md)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini