Mengenal Tradisi “Slametden Malem Slekoran” Bulan Ramadhan di Madura

0
3306
Mengenal Tradisi
Ilustrasi masyarakat Madura di acara slametden (dok. Antara).
Bagikan Berita Ini

TEROPONGMETRO – Madura adalah salah satu suku yang ada di Indonesia, tepatnya di Pulau Madura, Jawa Timur. Tingkat religiusitas orang-orang Madura terkenal tinggi. Mereka sangat memuliakan ajaran-ajaran agamanya meskipun mereka berada di perantauan. Karenanya, datangnya bulan ramadhan di Madura sangat meriah dengan simbol keagamaan sepanjang waktu.

Dari satu bulan ramadhan, ada momen paling dinanti oleh masyarakat Madura yakni “Malem Lekoran” ada juga yang menyebut “Malem Slekoran” tergantung aksen daerah masing-masing. Artinya adalah malam 20 ramadhan ke atas.

Di malam-malam ini, sebagian besar masyarakat Madura melaksanakan Slametden Malem Lokoran/Slekoran (Selamatan malam 20 ramadhan ke atas). Malam-malam itu sangat sakral bagi masyarakat Madura. Apalagi di malam-malam tersebut disebutkan adalah malam-malam potensi turunnya Lailatul Qadar.

Dikutiip dari laman resmi IAIN Madura, Slamatden artinya selamatan. Malem adalah malam. Dan slekoran atau lekoran adalah penyebutan bilangan 21 sampai 29. Dalam konteks bulan ramadhan, biasanya masyarakat Madura melaksanakan slametden pada tanggal-tanggal ganjil yakni 21, 23, 25, 27 dan 29.

Mengenai bentuk slametden, mereka melaksanakannya beraneka ragam sesuai keinginan masing-masing. Ada yang melaksanakannya secara mandiri dengan mengundang warga sekitar. Ada pula slametden di masjid atau musholla secara bersama-sama.

Mengenai hidangan slametden juga bermacam-macam. Namun biasanya ada plotan (ketan) dengan berbagai macam olahan. Namun ada juga yang tanpa diolah macam-macam. Dan inti dari slametden itu memohon kepada Allah supaya mendapatkan hidayah dan rahmat dari Allah SWT.(R)


Bagikan Berita Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini